Pages

Senin, 21 Desember 2015

Getah Pepaya, Manfaatnya Dahsyat Tak Pernah Terduga

Siapa yang tidak mengenal buah pepaya? Iya buah tropis ini tumbuh subur di Indonesia dan tentunya selain murah pepaya mudah didapatkan dimana-mana. Pepaya merupakan buah yang memiliki banyak sekali manfaat dari daun hingga buahnya tak terkecuali getah buahnya.

Didalam getah pepaya terdapat enzim protease yaitu papain dan kimopapain, selain itu lebih dari 50 asam amino terkandung didalamnya. Dari kandungan zat-zat baik didalamnya getah buah pepaya ternyata punya berbagai manfaat loh. Kira-kira apa saja sih manfaatnya:

1. Mengobati tumit kaki pecah-pecah

Tumit kaki pecah-pecah merupakan problem yang sering sekali menghampiri terutama saat musim kemarau tiba. Iya, cuaca yang panas membuat kulit cepat kehilangan kelembapannya sehingga memicu adanya pecah-pecah di tumit kaki. Pastinya tidak ada yang menginginkan tumit kaki pecah-pecah dan kering. Lalu bagaimana mengatasinya?

Sediakan saja buah pepaya. Dengan mencuci bersih pepaya kemudian toreh atau gores permukaan kulit buah pepaya tunggu hingga getahnya keluar. Kemudian oleskan pada kaki yang pecah-pecah ataupun kering. Tunggu 10-15 menit, bilas dan keringkan. Cukup mudah bukan lakukan sekali dalam sehari yaa.

2. Menghilangkan jerawat

Problematika jerawat juga tidak kalah heboh melanda sebagian besar kaum muda terutama wanita. Banyak cara untuk mengusir jerawat dari wajah kita salah satunya dengan cara alami yaitu getah buah pepaya. Belum banyak yang tahu kalu getah buah pepaya punya khasiat yang hebat. Lalu bagaimana cara pengaplikasiannya?

Berikut langkah-langkahnya:

  • Bersihkan wajah terlebih dahulu agar wajah terhindar dari bakteri penyumbat pori-pori
  • Oleskan getah pepaya menggunakan kapas di area wajah yang berjerawat
  • Diamkan sampai getah tersebut mongering d. Bilas dengan air hangat untuk mengangkat sisa getah yang ada di wajah


Lakukan secara rutin hingga jerawat tersebut hilang.

3. Menghilangkan bekas kulit terbakar

Tips ini mungkin akan berguna jika anda, ataupun kerabat dekat anda mengalami luka bakar ringan. Luka bakar ringan yang dimaksud bukan luka yang berada diarea vital seperti leher, wajah atau anggota penting lainnya dan tentunya luka ringan ini masih bisa di tangani sendiri.

Caranya cukup mudah kok hanya siapkan pepaya muda lalu cuci, gores-gores permukaan kulitnya hingga getahnya keluar. Oleskan getah tersebut pada luka. Nah, tunggu apalagi mulai sekarang yuk jangan anggap remeh si getah pepaya ini.

Siapa Sangka Biji Kecil Ini Bisa Sembuhkan Diabetes

Diabetes atau yang dikenal dengan nama penyakit kencing manis merupakan kelainan metabolik yang disebabkan oleh banyak faktor, seperti kurangnya insulin atau ketidakmampuan tubuh untuk memanfaatkan insulin. Oleh karena itu, para penderita diabetes harus rutin menyuntikan cairan ini ke dalam tubuh mereka.

Tapi siapa sangka, jika biji rambutan dapat digunakan sebagai obat diabetes.

Berikut caranya:

Pemakaian biji rambutan untuk membebaskan penderitaan kencing manis tahap 2 sudah terbukti manjur. Kajian yang dilakukan di Eropa sudah menunjukkan bahwa biji rambutan sukses membebaskan 17, 542 orang penderita diabetes step 2 di semua dunia pada tahun 2014. Kita rakyat Indonesia cukup bersyukur kerana mempunyai buah itu dinegara sendiri.

Langkah penggunaannya.

  1. Ambillah 5 biji (seeds) rambutan.
  2. Goreng.
  3. Tumbuk sampai hancur jadi tepung.
  4. Campur dengan air sejuk serta minum.
  5. Minumlah 2 kali dalam sehari.


Kurangi ketergantungan pada insulin serta obat-oabatan farmasi. Penyakit kencing manis kebanyakan membuat pasien merasa cemas, jika lihat penurunan berat tubuhnya. Jangan sampai khawatir, karena kehilangan berat tubuh itu, yaitu cara tubuh berikan isyarat pada otak, untuk kita merubah kebiasaan hidup serta pola makan kita sehari-hari.. Makanlah makanan yang sehat. Selamat mencoba Tribunners! Semoga membantu.

Penyebab Utama Batu Ginjal adalah Pola Makan

Ginjal termasuk organ yang sangat penting, terutama untuk sistem metabolisme yang bertugas mengatur sistem pembuangan racun dari dalam tubuh. Menjaga ginjal tetap sehat dan berfungsi sempurna harus dilakukan, karena kerusakan fungsi ginjal dapat menyebabkan penumpukan racun dalam tubuh yang berpotensi merusak ginjal.

Salah satu penyakit yang dapat merusak fungsi ginjal adalah batu ginjal. Batu ginjal banyak diderita para pria, namun wanita dengan berat badan berlebih atau obesitas sangat rentan menderita batu ginjal.

Batu ginjal sendiri merupakan gumpalan mineral padat yang terbentuk dari kalsium dan oksalat serta asam urat yang bersarang dalam saluran kemih. Banyak yang tidak menyadari jika penyebab utama penyakit batu ginjal adalah pola makan. Hem, kira-kira apa saja jenis makanan yang harus dihindari agar tidak terkena batu ginjal? Agar lebih jelasnya, ada baiknya simak Batasi 7 Makanan yang Sebabkan Penyakit Batu Ginjal berikut ini :

1. Kafein

Minuman berkafein memang nikmat, namun jika berlebihan dapat menyebabkan batu ginjal. Kenapa demikian? Karena minuman berkafein dapat meningkatkan kadar kalsium dalam urine sehingga memberatkan kinerja ginjal. Minuman berkafein yang harus dibatasi, antara lain : teh, kopi dan soda.

2. Pemanis buatan

Penelitian menyebutkan, jika mengonsumsi pemanis buatan dalam jangka panjang dapat merusak fungsi ginjal. Oleh karena itu, usahakan gunakan

3. Daging

Kandungan protein dan asam urat dalam daging dapat memicu pembentukan batu ginjal yang lama-kelamaan dapat sebabkan kerusakan pada ginjal. Kenapa demikian? Limbah protein dan asam urat sangat sulit dikeluarkan oleh ginjal. Oleh karena itu, batasi konsumsi daging dan perbanyak buah dan sayur yang lebih menyehatkan.
pemanis alami yang lebih baik dan ramah untuk tubuh, contohnya : madu.

4. Makanan asin

Sering mengonsumsi makanan yang mengandung sodium kurang b aik untuk kesehatan ginjal, karena sodium memicu terbentuknya batu ginjal. Oleh karena itu, hindari makanan yang mengandung banyak garam.

5. Minuman berkarbonasi

Minuman berkarbonasi memang menyegarkan tubuh untuk sementara, namun kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko penyakit batu ginjal. DIantara minuman berkarbonasi yang harus dibatasi atau dihindari, antara lain : minuman bersoda, minuman energi, dan jus kemasan.

6. Makanan kaya purin

Mengonsumsi makanan tinggi purin dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit batu ginjal. Diantara makanan yang kaya purin, antara lain : sarden, kuning telur, daging, dan lain sebagainya.

7. Produk susu

Kalsium tinggi memang baik untuk tulang, namun bagi Anda yang memiliki masalah pada ginjal, kalsium bisa menjadi musuh terbesar Anda. Kenapa demikian? Karena kalsium dapat menyebabkan meningkatnya ekskresi kalsium pada urin sehingga limbahnya sulit dibuang dan memicu penumpukan batu ginjal.

Dengan membatasi atau menghindari makanan yang tersebut diatas, kita dapat mengurangi risiko terkena penyakit batu ginjal. Semoga informasi yang berjudul Batasi 7 Makanan yang Sebabkan Penyakit Batu Ginjal diatas dapat bermanfaat bagi kita semua.

Selasa, 01 Desember 2015

Dengan 1 kg Kentang, Lampu Bisa Menyala Sebulan

Masih banyak desa-desa di Indonesia yang belum dialiri listrik. Tapi kentang bisa jadi alternatif, jadi semua wilayah pelosok di Indonesia sudah pakai lampu.
Patut diterapkan di seluruh Wilayah Indonesia...

Silahkan  dicoba !!!
Ambil 2 buah kentang, tusukkan paku, kemudian pasang lampu LED yang sudah ada kabel plus minusnya, lampu akan menyala 24 jam, untuk 1 Kg kentang bisa sebulan ... Harus ada paku yang ditusuk ke umbi kentang. Sangat cocok untuk daerah terisolir, daerah perbatasan, daerah mahal solar dan bensin, daerah tidak terjangkau PLN, para pedagang keliling,  tukang nasi goreng, tukang buah, tukang gorengan, daerah pegunungan yang belum terjangkau listrik atau cadangan di rumah kalau listrik padam. 

Cukup siapkan lampu LED yang 4W (setara dgn 40W lampu biasa).
Bayangkan seluruh petani di luar jawa rame rame tanam kentang, petani kentang yang akan kewalahan memenuhi permintaan kentang yang akan melonjak.
Bila setiap RT, RW, Dusun, Desa stock cukup bahan kentang... negara kita selalu terang benderang di waktu malam...

Mari kita sebarkan, semoga kpd Inovator, penemu dan penyebar ilmunya, pahala mengalir terus.
 

Senin, 30 November 2015

Ini Gadis Diver Pengibar Bendera Bintang Bulan di Perairan Sabang

LHOKSUKON – Frina, 26 tahun, asal Banda Masen, Lhokseumawe merupakan pelopor pengibaran Bendera Bintang Bulan di bawah laut wilayah perairan Iboih, Pulau Rubiah, Sabang, Minggu, 29 November 2015 pukul 11.20 WIB. Ia merupakan diver sekaligus guide untuk Kementerian Belia dan Sukan (KBS) Malaysia.

“Saya menjadi guide untuk KBS Malaysia yang berkunjung ke Pantai Iboih, Sabang. Saya juga ajudan pribadi dari Kepala Daerah Pejabat Belia Sukan Sepang, Rusydan bin Abdullah yang mengurusi ragam event sukan lasak (Olahraga lasak) seperti bersepeda, run, hiking, scuba diving dan traveling,” kata Frina .

Pemilik akun Facebook Chokyulate Mint itu mengaku selama ini kerap menghabiskan waktu di dalam air. Lalu secara tiba-tiba muncul ide untuk melakukan sesuatu yang berbeda untuk Aceh, seperti mengibarkan Bendera Bintang Bulan di bawah air.

“Saya sangat mencintai Aceh. Bagi saya pribadi, Bendera Bintang Bulan itu merupakan identitas Aceh. Jadi merupakan sesuatu yang sangat penting. Secara kebetulan empat diver dari KBS Malaysia sedang diving bersama saya. Mereka sangat tertarik dan mendukung ide tersebut, hingga akhirnya mereka ikut bersama tiga diver lainnya dari Scuba Weh, Sabang,” ujar Frina.

Dalam hal ini, Frina bersama diver dari KBS Malaysia berharap Aceh, khususnya Sabang untuk ke depannya semakin baik dan maju.

“Semoga kita (Aceh) bisa berkolaborasi dalam hal conservasi corall dengan negara tetangga. I love Aceh,” katanya.

Aceh dan Indonesia Bersitegang dalam Forum PBB di Jenewa

Warga Aceh penerima suaka politik di sejumlah negara Eropa masih terus mengkampanyekan perlawanan terhadap segala bentuk kekerasan oleh alat negara dalam membasmi kelompok-kelompok perlawanan di Aceh.

Para warga Aceh ini tergabung dalam organisasi Acheh-Sumatra National Liberation Front (ASNLF)--nama yang sama seperti lembaga pergerakan yang pernah dikomandoi Hasan Tiro dalam memperjuangkan kemerdekaan bagi Aceh.

Penolakan aksi kekerasan dan penghukuman tanpa proses pengadilan ini disampaikan dua aktivis ASNLF, masing-masing Imran Abdurrauf di hari pertama dan Asnawi Ali pada hari kedua.

Dalam tayangan video UN Web TV, Wakil Sekretaris ASNLF, Asnawi Ali terlihat berbicara selama tiga menit dalam forum internasional yang digelar di Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia atau Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights (OHCHR) selama 24-25 November 2015 di Room XX, Palais des Nations, Jenewa, Swiss.

Informasi dari forum bertemakan: challenges of criminal justice systems in addressing the needs and demands of minorities (tantangan sistem peradilan pidana dalam menangani kebutuhan dan tuntutan minoritas) itu menghadirkan seluruh perwakilan negara-negara di dunia dan sejumlah NGO yang bergerak dalam penegakan hukum dan kampanye antikorupsi. ASNLF sendiri berada di barisan yang sederet dengan sejumlah NGO anti-korupsi di seluruh dunia, termasuk sebuah LSM antikorupsi dari Jakarta.

Masing-masing pihak diberikan waktu 3 menit untuk menyampaikan nota keberatan dan bantahan. Asnawi dalam nota keberatannya mengatakan, Indonesia adalah negara yang menandatangani Kovenan Internasional tentang Hak Sipil dan Politik (ICCPR). Karena itu, ASNLF mendesak agar Indonesia mematuhi pasal 6 ayat 1 dari ICCPR tersebut yang berbunyi: "Setiap manusia memiliki hak untuk hidup. Hak ini dilindungi oleh hukum. Tidak boleh dengan sewenang-wenang merampas hidup orang sipil di Aceh," katanya."Ini termasuk kasus pembunuhan di luar koridor hukum oleh operasi polisi terhadap warga sipil Aceh sejak bulan Maret 2015," katanya.

Ia mendesak PBB untuk menekan Indonesia agar bertindak sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang berlaku terhadap setiap insiden kekerasan yang dilakukan oleh TNI/Polri serta pula akuntabilitas atas kejahatan kemanusiaanya di Aceh. "Banyak kasus impunitas (kekebalan hukum) yang menyebabkan selalu terulangnya kekerasan di tanah rencong," katanya dalam sebuah pesan khusus. Sementara bantahan dari Perwakilan Republik Indonesia disampaikan oleh Caka A Awal, Sekretaris Utama dalam Misi Tetap Republik Indonesia untuk PBB, WTO, dan Organisasi Internasional di Jenewa. Caka A Awal mengatakan bahwa informasi yang disampaikan ASNLF kurang update dan masih memerlukan verifikasi lanjutan. Bahkan, pihak Republik Indonesia juga menyatakan, sistem penegakan hukum di Indonesia sudah mulai membaik seiring dengan dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi.

Sebagai informasi, ASNLF sendiri adalah organisasi yang mewakili Aceh di Unrepresented Nations and Peoples Organization (UNPO) yang mulai diakui kembali pada 28 Juni 2014 lalu dan sesuai dengan kovenan UNPO. Sedangkan forum kaum minoritas di Jenewa tersebut digelar setiap tahun dan tahun ini adalah yang ke 8.

Berikut video pernyataan aktivis ASNLF dalam forum PBB selama 24-25 November 2015 di Room XX, Palais des Nations, Jenewa, Swiss.
 

Senin, 23 November 2015

Jejak Aceh di Tanah Arab

”Asyi”, sebutan 'marga' Aceh dikalangan orang Arab. Gelar Asyi (Aceh—dalam bahasa Arab) ini adalah merupakan sebuah pengakuan identitas bagi setiap orang Aceh di Arab Saudi yang terhormat, sehingga gelar "al-Asyi" ini kemudian bisa dikatakan sebagai salah satu marga Aceh yang wujud di Tanah Arab.
Sebutan negeri Aceh adalah tidak asing bagi sebagian orang Arab walaupun sekarang hanyalah salah satu propinsi di negeri ini. Karena itu, saya memandang bahwa martabat orang Aceh di Arab Saudi sangat luar biasa. Sejauh ini, gelar ini memang tidak begitu banyak, namun mengingat kontribusi para Asyi ini pada kerajaan Saudi Arabia, saya berkeyakinan bahwa ada hubungan yang cukup kuat secara emosional antara tanah Arab ini dengan Serambinya, yaitu Aceh.
Banyak sekali orang Arab keturunan Aceh mendapat kedudukan bagus di kerajaan Saudi Arabia seperti alm Syech Abdul Ghani Asyi mantan ketua Bulan Sabit Merah Timur Tengah, Alm Dr jalal Asyi mantan wakil Menteri Kesehatan Arab Saudi, DR Ahmad Asyi mantan wakil Menteri Haji dan Wakaf dan banyak sekali harta wakaf negeri Aceh sekarang masih wujud disana.
Kita akan menguak tradisi sumbang menyumbang masyarakat Aceh di Tanah Hijaz (Mekkah, Saudi Arabia) pada abad ke-17 Masehi. Ini menarik agar kita tahu bagaimana kontribusi Aceh atas tanah hijaz (sekarang bernama Saudi Arabia, red), dimana orang Aceh tidak hanya mewakafkan tanah, melainkan juga emas yang didatangkan khusus dari Bumi Serambi ke negeri Mekkah Al-Mukarramah ini.
Diriwayatkan bahwa pada tahun 1672 M, Syarif Barakat penguasa Mekkah pada akhir abad ke 17 mengirim duta besarnya ke timur. Mencari sumbangan untuk pemeliharaan Masjidil Haram. Karena kondisi Arab pada saat itu masih dalam keadaan miskin. Kedatangan mareka ke Aceh setelah Raja Moghol, Aurangzeb (1658-1707) tidak mampu memenuhi keinginan Syarif Barakat itu. Dia saat itu belum sanggup memberi sumbangan seperti biasanya ke Mesjidil Haram. Setelah empat tahun rombongan Mekkah ini terkatung katung di Delhi India. Atas nasehat pembesar di sana, rombongan ini berangkat ke Aceh dan tiba di Aceh pada tahun 1092 H (1681M).
Sampai di Aceh, duta besar Mekkah ini disambut dan dilayani dengan baik dan hormat oleh Sri Ratu Zakiatuddin Inayatsyah (1678-1688 M). Di luar dugaan, kedatangan utusan syarif Mekkah ini menyulut semangat kelompok wujudiyah yang anti pemerintahan perempuan. Namun, karena sosok Sultanah Zakiatuddin yang ‘alim dan mampu berbahasa Arab dengan lancar. Bahkan menurut sejarah, dia berbicara dengan para tamu ini dengan menggunakan tabir dari sutra Dewangga (Jamil: 1968).
Utusan Arab sangat gembira diterima olehSri Ratu Zakiatuddin, karena mareka tidak mendapat pelayanan serupa ketika di New Delhi, India. Bahkan empat tahun mareka di India, tidak dapat bertemu Aurangzeb.
Ketika mereka pulang ke Mekkah, Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah, memberi mareka tanda mata untuk rombongan dan Syarif Mekkah juga sumbangan untuk Mesjidil Haram dan dan Mesjidil Nabawi di Madinah terdiri dari: tiga kinthar mas murni, tiga rathal kamfer, kayu cendana dan civet (jeuebeuet musang), tiga gulyun (alat penghisap tembakau) dari emas, dua lampu kaki (panyot-dong) dari emas, lima lampu gantung dari emas untuk Masjidil Haram, lampu kaki dan kandil dari emas untuk Masjid Nabawi.
Pada tahun 1094 (1683 M) mareka kembali ke Mekkah dan sampai di Mekkah pada bulan Sya’ban 1094 H (September 1683 M). Dua orang bersaudara dari rombongan duta besar Mekkah ini yakni Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim, tetap menetap di Aceh atas permintaan para pembesar negeri Aceh yang dalam anti raja perempuan (Jamil: 1968). Mereka dibujuk untuk tetap tinggal di Aceh sebagai orang terhormat dan memberi pelajaran agama dan salah satu dari mereka, kawin dengan Kamalat Syah, adik Zakiatuddin Syah.
Lima tahun kemudian setelah duta besar Mekkah kembali ke Hijaz dengan meninggalkan Syarif Hasyim dan Syarif Ibrahim di Aceh, Sultanah Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah wafat tepat pada hari Ahad 8 Zulhijjah 1098H (3 Oktober 1688 M). Pemerintahan Aceh digantikan oleh adiknya yaitu Seri Ratu Kamalatsyah yang bergelar juga Putroe Punti. Dia diangkat menjadi Ratu pemerintahan kerajaan Aceh atas saran Syeikh Abdurrauf Al Fansury yang bertindak pada saat itu sebagai Waliyul-Mulki (Wali para Raja).
Baru setelah meninggalnya Syeikh Abdurrauf pada malam senin 23 Syawal 1106 H (1695M), konflik mengenai kedudukan pemerintahan Aceh dibawah pemerintahan ratu yang telah berlangsung 54 tahun sejak Safiatuddin Syah(1641-1675M), terguncang kembali. Hal ini dipicu oleh fatwa dari Qadhi Mekkah tiba. Menurut sejarah, “fatwa import” ini tiba dengan “jasa baik” dari golongan oposisi ratu. Lalu pemerintah Aceh, diserahkan kepada penguasa yang berdarah Arab, yaitu salah satu dua utusan Syarif dari Mekkah, yakni suami Ratu Kemalatsyah, Syarif Hasyim menjadi raja pada hari Rabu 20 Rabi`ul Akhir 1109 H (1699M).
Menurut sejarah, Ratu tersebut dimakzulkan akibat dari “fatwa import” tersebut. Lalu kerajaan Aceh memiliki seorang pemimpin yang bergelar Sultan Jamalul Alam Syarif Hasyim Jamalullail (1110-1113 H/1699-1702M). dengan berkuasanya Syarif Hasyim awal dari dinasti Arab menguasai Aceh sampai dengan tahun 1728 M. Inilah bukti sejarah bahwa kekuasaan para Ratu di Aceh yang telah berlangsung 59 tahun hilang setelah adanya campur tangan pihak Mekkah, paska para ratu ini menyumbang emas ke sana. Aceh yang dipimpin oleh perempuan selama 59 tahun bisa jadi bukti bagaimana sebenarnya tingkatemansipasi perempuan Aceh saat itu (Azyumardi Azra, 1999).
Terkait dengan sumbangan emas yang diberikan oleh Ratu kepada rombongan dari Mekkah, ternyata menjadi perbincangan dan perdebatan di Mekkah. Disebutkan bahwa sejarah ini tercatat dalam sejarah Mekkah dimana disebutkan bahwa emas dan kiriman Sultanah Aceh tiba di Mekkah di bulan Syakban 1094 H/1683 M dan pada saat itu Syarif Barakat telah meninggal. Pemerintahan Mekkah digantikan oleh anaknya Syarif Sa’id Barakat (1682-1684 M).
Snouck Hurgronje, menuturkan “Pengiriman Seorang Duta Mekkah ke Aceh Pada Tahun 1683” sempat kagum terhadap kehebatan Aceh masa lalu dan dicatat dalam bukunya, dimana sewaktu dia tiba di Mekkah pada tahun 1883. Karena Kedermawaan Bangsa dan Kerajaan Aceh masa itu, Masyarakat Mekkahmenyebut Aceh Sebagai "Serambi Mekkah" di sana.
Ternyata sumbangan Kerajaan Aceh 200 tahun yang lalu masih selalu hangat dibicarakan disana. Menurutnya berdasarkan catatan sejarah Mekkah yang dipelajarinya barang barang hadiah itu sempat disimpan lama di rumah Syarif Muhammad Al Harits sebelum dibagikan kepada para Syarif yang berhak atas tiga perempat dari hadiah dan sedekah diberikan kepada kaum fakir miskin sedangkan sisanya diserahkan kepada Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Begitu juga tradisi wakaf orang Aceh di tanah Arab sebagai contoh tradisi wakaf umum, ialah wakaf habib Bugak Asyi yang datang ke hadapan Hakim Mahkmah Syariyah Mekkah pada tanggal 18 Rabiul Akhir tahun 1224 H. Di depan hakim dia menyatakan keinginannya untuk mewakafkan sepetak tanah dengan sebuah rumah dua tingkat di atasnya dengan syarat; rumah tersebut dijadikan tempat tinggal jemaah haji asal Aceh yang datang ke Mekkah untuk menunaikan haji dan juga untuk tempat tinggal orang asal Aceh yang menetap di Mekkah. Sekiranya karena sesuatu sebab tidak ada lagi orang Aceh yang datang ke Mekkah untuk naik haji maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal para pelajar (santri, mahasiswa) Jawi (nusantara) yang belajar di Mekkah. Sekiranya karena sesuatu sebab mahasiswa dari Nusantara pun tidak ada lagi yang belajar di Mekkah maka rumah wakaf ini digunakan untuk tempat tinggal mahasiswa Mekkah yang belajar di Masjid Haram. Sekiranya mereka ini pun tidak ada juga maka wakaf ini diserahkan kepada Imam Masjid Haram untuk membiayai kebutuhan Masjid Haram.
Menurut sejarah, sebenarnya bukan hanya wakaf habib Bugak yang ada di Mekkah, yang sekarang hasilnya sudah dapat dinikmati oleh para jamaaah haji dari Aceh tiap tahunnya lebih kurang 2000 rial per jamaah. Peninggalan Aceh di Mekkah bukan hanya sumbangan emas pada masa pemerintahan ratu ini juga harta harta wakaf yang masih wujud sampai saat ini seperti :
Wakaf Syeikh Habib Bugak Al Asyi',
Wakaf Syeikh Muhammad Saleh Asyi dan isterinya Syaikhah Asiah (sertifikat No. 324) di Qassasyiah,
Wakaf Sulaiman bin Abdullah Asyi di Suqullail (Pasar Seng),
Wakaf Muhammad Abid Asyi,
Wakaf Abdul Aziz bin Marzuki Asyi,
Wakaf Datuk Muhammad Abid Panyang Asyi di Mina,
Wakaf Aceh di jalan Suq Al Arab di Mina,
Wakaf Muhammad Saleh Asyi di Jumrah ula di Mina,
Rumah Wakaf di kawasan Baladi di Jeddah,
Rumah Wakaf di Taif,
Rumah Wakaf di kawasan Hayyi al-Hijrah Mekkah.
Rumah Wakaf di kawasan Hayyi Al-Raudhah, Mekkah,
Rumah Wakaf di kawasan Al Aziziyah, Mekkah.
Wakaf Aceh di Suqullail, Zugag Al Jabal, dikawasan Gazzah, yang belum diketahui pewakafnya.
Rumah wakaf Syech Abdurrahim bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan) di Syamiah Mekkah,
Syech Abdussalam bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga) di Syamiah, Abdurrahim bin Abdullah bin Muhammad Asyi di Syamiah dan Chadijah binti Muhammad bin Abdullah Asyi di Syamiah.
Inilah bukti bagaimana generous antara ibadah dan amal shaleh orang Aceh di Mekkah.Mereka lebih suka mewakafkan harta mereka, ketimbang dinikmati oleh keluarga mereka sendiri. Namun, melihat pengalaman Wakaf Habib Bugak, agaknya rakyat Aceh sudah bisa menikmati hasilnya sekarang.
Fenomena dan spirit ini memang masih sulit kita jumpai pada orang Aceh saat ini, karena tradisi wakaf tanah tidak lagi dominan sekali. Karena itu, saya menganggap bahwa tradisi leluhur orang Aceh yang banyak mewakafkan tanah di Arab Saudi perlu dijadikan sebagai contoh tauladan yang amat tinggi maknanya. Hal ini juga dipicu oleh kejujuran pengelolalaan wakaf di negeri ini, dimana semua harta wakaf masih tercatat rapi di Mahkamah Syariah Saudi Arabia.
Sebagai bukti bagaimana kejujuran pengelolaan wakaf di Arab Saudi, Pada tahun 2008 Mesjidil haram diperluas lagi kekawasan Syamiah dan Pasar Seng. Akibatnya ada 5 persil tanah wakaf orang Aceh terkena penggusuran. Tanah wakaf tersebut adalah kepunyaan Sulaiman bin Abdullah Asyi, Abdurrahim bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan), Syech Abdussalam bin Jamaluddin Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga), Abdurrahim bin Abdullah bin Muhammad Asyi dan Chadijah binti Muhammad bin Abdullah Asyi.
Di Mekkah juga penulis sempat bertemu dengan Saidah Taliah Mahmud Abdul Ghani Asyi serta Sayyid Husain seorang pengacara terkenal di Mekkah untuk mengurus pergantian tanah wakaf yang bersetifikat no 300 yang terletak di daerah Syamiah yang terkena pergusuran guna perluasan halaman utara Mesjidil haram Mekkah al Mukarramah yang terdaftar petak persil penggusuran no 608. Yang diwakafkan oleh Syech Abdurrahim Bawaris Asyi (Tgk Syik di Awe Geutah, Peusangan) dan adiknya Syech Abdussalam Bawaris Asyi (Tgk di Meurah, Samalanga).
Memang pada asalnya 75 persen tanah di sekitar Mesjidil Haram adalah tanah wakaf apakah itu wakaf khusus atau wakaf umum. Dan sebagiannya ada milik orang orang Aceh dulu dan ini bagian dari kejayaan Aceh yang pernah masuk dalam 5 besar negeri Islam di dunia bersama Turki, Morroko, Iran, Mughal India dan Aceh Darussalam di Asia tenggara.
Menurut peraturan pemerintah Saudi Arabia para keluarga dan nadhir dapat menuntuk ganti rugi dengan membawa bukti kepemilikan (tentu memerlukan proses yang lama ie menelusuri siapa nadhir tanah wakaf tersebut, penunjukan pengacara dll) dan bisa menghadap pengadilan agama Mekkah menutut ganti rugi dan penggantian dikawasan lain di Mekkah sehingga tanah wakaf tersebut tidak hilang. Kalau seandainya tidak ada keluarga pewakaf lagi khusus untuk wakaf keluarga maka sesuai dengan ikrar wakaf akan beralih milik mesjidil haram atau baital mal. Inilah pelajaran atau hikmah tradisi wakaf di Mekkah yang semoga bisa menjadi contoh yang baik bagi pengelolaan wakaf di Aceh.
Mekkah Tempo Dulu
Itulah secuil catatan yang tercecer, tentang wakaf orang Aceh di Tanah Arab, walaupun generasi sekarang hanya mengenal bahwa Aceh adalah Serambi Mekkah. Namun sebenarnya ada rentetan sejarah yang menyebabkan Aceh memang pernah memberikan kontribusi penting terhadap pembinaan sejarah Islam di Timur Tengah. Karena itu, selain Aceh memproduksi Ulama, ternyata dari segi materi, rakyat Aceh juga memberikan sumbangan dan wakaf yang masih bisa ditelusuri hingga hari ini.
Karena itu, saya menduga kuat bahwa tradisi Islam memang telah dipraktikkan oleh orang Aceh saat itu, dimana “tangan di atas, lebih baik daripada tangan di bawah”. Akibatnya, kehormatan orang Aceh sangat disegani, baik oleh kawan maupun lawan. Dalam hal ini, harus diakui bahwa Snouck telah “berjasa” merekam beberapa akibat dari episode sejarah kehormatan orang Aceh.
Inilah pelajaran penting bagi peneliti sejarah Aceh, dimana selain bukti-bukti otentik, sejarah juga bisa ditulis melalui oral history (sejarah lisan). Pelajaran ini sangat penting bagi generasi sekarang untuk melacak dimana peran orang Aceh di beberapa negara, termasuk di Timur Tengah.
Inilah sekelumit hasil muhibbah saya ke Arab Saudi dan saya benar-benar terkesima dengan pengakuan identitas "Asyi" dan pola pengelolaan wakaf di Arab Saudi. Selain ini, di dalam perjalanan ini, saya sempat berpikir apakah nama baik orang Aceh di Arab Saudi bisa sederajat dengan nama baik Aceh di Indonesia dan di seluruh dunia. Yang menarik adalah hampir semua negara yang saya kunjungi, nama Aceh selalu dihormati dan dipandang sebagai bagian dari peradaban dunia.