Pages

Tampilkan postingan dengan label Agriculture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agriculture. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 November 2015

Rebusan daun jambu biji, solusi alami untuk atasi rambut rontok !!

Daun jambu tak hanya efektif untuk menaikkan trombosit buat pasien demam berdarah, lho. Siapa sangka, daun buah tropis yg satu ini bisa ampuh untuk mencegah kerontokan rambut?

Menurut para ahli seperti dilaporkan Style Craze, daun jambu bisa
mencegah serta mengatasi kerontokan rambut apabila digunakan sebagai bahan perawatan rambut setiap hari. Sebab daun jambu kaya akan vitamin B. Vitamin ini sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kesuburan rambut.

Ingin mendapatkan manfaat menyuburkan rambut dari daun jambu? Kamu tinggal merebus segenggam daun jambu biji dengan 1 liter air selama 20 menit. Sesudah mendidih, dinginkan hingga mencapai suhu ruang.

Gunakan air rebusan daun jambu sebagai tonik. Aplikasikan pada kulit kepala dan akar rambut. Kerjakan pijatan ringan, lalu diamkan sepanjang sebagian jam saat sebelum dicuci. Utk hasil maksimal, bungkus rambut serta kepala dengan handuk atau shower cap sebelum tidur. Cuci rambut besok harinya.

Pemijatan kulit kepala dengan tonik daun jambu ini dapat mengendalikan kerontokan rambut. Dikarenakan ramuan ini bakal kuatkan akar dan folikel rambut.

Minggu, 08 November 2015

Tanaman Herbal Untuk Menurunkan Asam Lambung

Berikut ini saya akan meyempaikan sedikit artikel mengenai Jenis Tanaman Yang Baik Untuk Sakit Maag, Semoga Bermanfaat..!!!
Penyakit Maag radang lambung atau tukak lambung adalah gejala penyakit yang menyerang lambung dikarenakan terjadi luka atau peradangan pada lambung yang menyebabkan sakit, mulas, dan perih pada perut. Biasanya maag disebabkan karena penderita makannya tidak teratur, mengkonsumsi obat-obatan tertentu, atau sebab-sebab lainnya seperti mengkonsumsi alkohol, pola tidur yang tidak teratur dan stress. Gejala maag dapat berupa, sakit saat buang air besar, mual dan muntah, sering merasa lapar, perut kembung dan nyeri yang luar biasa. Maag dikategorikan ke dalam beberapa tahapan, yaitu, maag ringan, maag sedang, maag kronis dan kanker lambung.

Berikut Tumbuhan Untuk Obat Maag Yang Bisa Anda Coba di Rumah :

  • Kunyit
kunyitSifat-sifat kunyit yang dapat menyembuhkan luka sudah dilaporkan sejak tahun 1953. Studi kasus untuk sakit perut akibat tukak lambung, setelah 12 minggu pengobatan, 88% pasien yang menerima pil kunyit (3 pil, yang setara dengan 4 g) memperlihatkan perbaikan dan satu kasus tersembuhkan.
Caranya:
diperlukan 2 jari tangan kunyit. Dikupas dan dibersihkan, diparut, dan ditambah air matang. Setelah itu, diperas melalui kain bersih. Hasilnya didiamkan dan diambil airnya. Dalam sehari diminum 2 kali, masing-masing satu ramuan. Meminumnya pagi sebelum makan dan malam sebelum tidur. (Tumbuhan Untuk Obat Maag)
  • Kemangi Hutan / Lampes (Ocimum sanctum)
kemangi hutanKemangi hutan berupa terna atau perdu bercabang banyak setinggi 0,30 – 1,50 m. Dapat ditemui di seluruh Jawa dari dataran rendah.
Caranya:
Sebagai obat tukak lambung dianjurkan untuk mengkonsumsi daun segar kemangi hutan (lampes) sebagai lalap setiap hari. (Tumbuhan Untuk Obat Maag)
  • Lidah buaya (Aloe vera)
lidah buayaAloenin dan Magnesiun laktat dalam daun lidah buaya yang diidentifikasikan dapat menghambat sekresi asam lambung.
Caranya:
Gel segar dari sekitar 1 lembar daun lidah buaya, diminum untuk sekali minum. Dalam sehari perlu meminumnya sebanyak 2 kali. Untuk memperbaiki rasa gel bisa diberi madu secukupnya. Ibu hamil sebaiknya tidak mengkonsumsi ramuan ini. ( Tumbuhan Untuk Obat Maag )
  • Kamomila (Matricaria recutita)
kamolilaDi Jawa Barat, tanaman kamonila dikenal sebagai teh kembang. Dulu di Garut kamomila digunakan sebagai bahan tambahan teh hijau.
Caranya:
1 sendok teh bunga kamomila. Air panas sebanyak 150 ml dituangkan ke dalamnya, didiamkan selama 5 – 10 menit, lalu diminum. Frekuensi meminumnya 3 – 4 kali sehari. (Tumbuhan Untuk Obat Maag)
  • Kencur (Kaempferia galanga)
kencurCaranya:
1 jari rimpangnya. Rimpang dicuci bersih dikupas dan dikunyah dengan garam seperlunya. Sesudah halus dikunyah, kencur ditelan, disusul dengan minum air hangat. Ini dilakukan 3 kali dalam sehari. (Tumbuhan Untuk Obat Maag)
  • Cincau (Cylea barbata)
daun cincauCaranya:
1 genggam daun cincau (kira-kira 80 gram berat basah). Daun dicuci lalu digiling halus. Lalu diremas dengan air masak seperlunya dan disaring, diberi air kapur sirih seperlunya agar lekas menjadi kental. Setelah menggumpal dimakan dengan air gula atau sirup. Dalam sehari cara ini dilakukan 3 kali, masing-masing dengan gelas ukuran kira-kira 200 cc. (Tumbuhan Untuk Obat Maag)
  • Meniran (Phyllanthus niruri)
meniran
Tanaman ini merupakan tanaman terna yang tumbuh tegak pada tempat lembab dan berbatu.
Caranya:
Cuci, lalu merebus segenggam daun meniran dalam 3 gelas air bersih. Merebusnya dilakukan hingga volume airnya tinggal setengahnya. Sesudah dingin disaring lalu diminum dengan madu seperlunya. Cara ini dilakukan 3 kali dalam sehari. (Tumbuhan Untuk Obat Maag)
  • Labu Siam
labu siamLabu siam adalah salah satu sayuran yang bisa kita pergunakan untuk mengobati maag stadium awal. Buah ini mudah didapatkan dimanapun dipasar-pasar. Tanaman menjalar ini gampang sekali tumbuh didataran tinggi yang berhawa dingin. Namun ia juga bisa tumbuh didataran rendah asal ditanah yang lembab.
Cara menanamnyapun juga sangat mudah. Ambil labu siam yang tua, yang buahnya sudah merekah diujungnya, kulitnya tebal dan kasar, langsung saja ditanam ditanah yang sebelumnya digali secukupnya dengan diberi pupuk kandang. Setelah itu cukup disiram dengan air 1 gayung setiap sore dan biarkan dalam beberapa hari maka ia akan tumbuh tunasnya. Rawat dengan menyiram air setiap sore maka ia akan tumbuh dengan sendirinya. Kalau sudah mulai menjalar, buatkan ia anjang-anjang tempat untuk ia merambat.
  • Daun Ungu
daun ungubanyak dikenal sebagai daun yang bisa untuk mengobati wasir atau ambeien. Namun sebagai alternatif darurat saya pernah menggunakannya untuk obat maag ketika saya muntah mengeluarkan darah, dan ternyata Alhamdulillah tidak lama kemudian setelah saya mengunyah 1 lembar sedang dari daun ungu, muntah saya tidak mengeluarkan darah lagi, meskipun lambung masih terasa sakit. Lalu sesudah itu, setiap hari, pagi sesudah makan saya mengunyah lagi selembar daun ungu yang sedang besar dan tuanya ( bukan yang muda atau kuncup dan bukan yang tua, tapi yang sedang usianya ).
  • Daun Pegagan
pegaganBahan : Daun pegagan 10 gr, Pupus daun pepaya 5 gr, Daun sruni putih 10 gr , Kencur diiris-iris 5 gr, Sembung legi 5 gr, Air matang
Cara Pengobatan : Cuci sampai bersih daun pegagan, pupus daun pepaya, daun sruni putih, kencur dan sembung legi. Ambil kencur untuk diiris-iris seperlunya. Campur semua bahan lalu ditumbuk hingga halus. Tambahkan air matang secukupnya. Minum obat sakit maag ini sampai sembuh.
  • Temulawak
temulawakCara mudah menggunakan temulawak adalah dengan memotong temulawak yang telah dibersihkan menjadi tipis lalu rebus bersama 5 gelas air hingga mendidih dan air menyurut menjadi 3 gelas. Kemudian gunakan air temulawak tersebut sebagai obat dengan diminum 3 kali sehari sebanyak satu gelas pada setiap satu jam sebelum makan, dan lakukan secara rutin hingga sembuh.
Beberapa tumbuhan untuk obat maag diatas dipercaya oleh masyarakat secara turun temurun. Dan bagi anda yang menderita sakit maag atau lambung, anda bisa mencoba ramuan alami dari tumbuhan tersebut.

Manfaat mengejutkan mengonsumsi seledri untuk kesehatan

Sayuran berdaun hijau selalu baik untuk kesehatan. Salah satunya adalah seledri. Baik daun, batang, maupun akar seledri menyimpan banyak manfaat untuk kesehatan.

Selain dikenal sebagai sayuran penambah aroma masakan, daun seledri juga dikenal sebagai tanaman obat. Berikut adalah manfaat kesehatan dari daun seledri seperti dilansir dari magforwomen.com.
  • Seledri merupakan sumber vitamin A dan juga zat besi lainnya seperti zat besi, kalium, dan mineral.
  • Banyak sayuran yang akan kehilangan vitaminnya setelah dimasak. Namun seledri berbeda. Kandungan vitamin seledri akan tetap utuh sebesar 80% walaupun telah dimasak.
  • Seledri bermanfaat untuk para atlet, karena nutrisi seledri dapat mengganti cairan elektrolit tubuh yang hilang.
  • Apabila Anda merasa gerah karena sinar matahari, Anda dapat mendinginkan tubuh dengan jus seledri.
  • Seledri dapat mengurangi keinginan Anda untuk mengonsumsi makanan manis dan makanan yang dapat membuat berat badan tubuh Anda bertambah.
  • Seledri dapat menurunkan tekanan darah dan menjaga agar ginjal Anda tetap berfungsi dengan baik.
  • Seledri mencegah pembentukan batu di kantung empedu dan juga dapat menghindarkan Anda dari sembelit.
  • Seledri juga baik untuk menghindarkan Anda dari kanker perut.
  • Seledri akan menenangkan sistem saraf Anda dan juga dapat mengontrol tekanan darah tinggi.
  • Akar seledri efektif untuk mengembalikan nafsu makan Anda yang hilang.
Walaupun kecil, ternyata seledri mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan Anda. Jangan ragu untuk mengonsumsi seledri untuk kesehatan Anda.

Jeringau, Herba Dengan Segudang Manfaat

Lingkungan mempunyai peran dalam kehidupan manusia. Lingkungan berperan besar dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Namun, kondisi kesehatan masyarakat yang buruk, seperti timbulnya berbagai penyakit, juga dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan memang tidak selalu menjadi penyebab, melainkan sebagai penunjang, media transmisi maupun memperberat penyakit yang telah ada. Keadaan lingkungan yang kurang bersih merupakan tempat yang sangat baik untuk berkembangbiaknya berbagai vektor penyakit, seperti serangga. Untuk menghindari dampak negatif tersebut, maka perlu dikembangkan cara-cara dalam pengendalian serangga yang aman dan efektif. Pengendalian serangga dengan pemanfaatan tanaman yang mengandung zat pestisidik sebagai insektisida nabati, diperkirakan mempunyai prospek dimasa yang akan datang (Kardinan, 2004). Secara umum, insektisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Insektisida nabati relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan terbatas. Oleh karena terbuat dari bahan alami, maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif aman bagi manusia serta ternak peliharaan karena residunya mudah hilang. Insektisida nabati bersifat “pukul dan lari” (hit and run), yaitu apabila diaplikasikan akan membunuh serangga pada waktu itu dan setelah serangga terbunuh, maka residunya akan cepat terurai di alam (Kardinan, 2004). Salah satu contoh insektisida nabati adalah tanaman jeringau (Acorus calamus L). Rimpang jeringau mengandung minyak atsiri yang digunakan sebagai insektisida untuk mengendalikan beberapa serangga pengganggu. Jeringau (Acorus calamus L) adalah tanaman yang mengandung bahan kimia aktif pada bagian rimpang baik dalam bentuk tepung ataupun minyak yang dikenal sebagai minyak atsiri. Tumbuhan ini mudah tumbuh dan dikembangbiakkan serta tidak beracun bagi manusia, karena secara tradisional banyak digunakan sebagai obat sakit perut dan penyakit kulit (Rismunandar, 1988).

Deskripsi Jeringau (Acorus calamus L)
Jeringau termasuk dalam Famili Araceae atau sekeluarga dengan tanaman keladi/talas-talasan. Jeringau merupakan tanaman kecil yang tidak berkayu, mudah tumbuh, menyukai air, asal tersedia cukup air, jeringau dapat berkembang biak. Jeringau merupakan herba tahunan dengan tinggi sekitar 75 cm. Tumbuhan ini biasa hidup di tempat yang lembap, seperti rawa dan air pada semua ketinggian tempat. Batang basah, pendek, membentuk rimpang, dan berwarna putih kotor. Daunnya tunggal, bentuk lanset, ujung runcing, tepi rata, panjang 60 cm, lebar sekitar 5 cm, dan tulang daun sejajar. Daun berwarna hijau, berbentuk bongkol dengan ujung meruncing, panjang 20-25 cm. Pada ketiak daun keluar tangkai sari dengan panjang ± 2,75 mm, kepala sari panjang ± 0,5 mm, dan putik berukuran 1-1,5 mm. Akarnya kuat dengan rimpang berwarna merah jambu dan bagian dalamnya berwarna putih. Jika dikeringkan dan dicium akan mengeluarkan bau yang tajam (Atsiri Indonesia, 2006). Perbanyakan dengan stek batang, rimpang, atau dengan tunas-tunas yang muncul dari ruas-ruas rimpang. Jeringau mempunyai akar berbentuk serabut. Dalam pertumbuhannya, rimpang jeringau membentuk cabang ke kanan atau ke kiri. Banyaknya cabang ditentukan oleh kesuburan tanah.
Rimpang jeringau dalam keadaan segar kira-kira sebesar jari kelingking sampai sebesar ibu jari, dagingnya berwarna putih tetapi jika dalam keadaan kering berwarna merah muda. Bentuk rimpang berbentuk agak petak bulat beruas, dengan panjang ruas 1-3 cm, sebelah sisi akar batang agak menajam, sebelah lagi beralur tempat keluar tunas cabang yang baru. Banyak dikelilingi akar serabutnya yang panjang. Kebanyakan dari akar ini tumbuh pada bagian bawah akar batangnya. Bila umur tanaman lebih dari 2 tahun, akarnya dapat mencapai 60-70 cm. Bau akar sangat menyengat (keras) seperti bau rempah atau bumbu lainnya. Jika diletakkan di lidah rasanya tajam, pedas dan sedikit pahit tetapi tidak panas. Jika rimpang dimemarkan akan keluar bau yang lebih keras lagi karena rimpang jeringau mengandung minyak atsiri.

Klasifikasi Jeringau
Kingdom               :  Plantae
Divisi                    :  Spermatophyta
Sub divisi             :  Angiospermae
Kelas                    :  Monocoiyledonae
Bangsa                 :  Arales
Suku                    :  Araceae
Warga                  :  Acorus
Jenis                    :  Acorus calamus LINN
Nama Inggris      :  Sweet flag, Sweet root, calamus
Nama Indonesia  :  Dringo, Jeringau
Nama daerah     :  Jeurunger (Aceh), Jerango (Gayo), Jarango (Batak), Jarianggu (Minangkabau), Sarango (Nias), Dringo (Sunda), Dlingo (Jawa Tengah), Jharango (Madura), Jangu atau Kaliraga (Flores), Jeringo (Sasak), Kareango (Makasar), Kalamunga (Minahasa), Areango (Bugis), Ai wahu (Ambon), Bila (Buru) (Atsiri Indonesia, 2006).

Penyebaran dan Habitat Jeringau
Di Indonesia, jeringau didapati tumbuh liar di hutan. Tanaman ini dapat ditemui di sepanjang musim menyukai tempat yang lembap dan mudah dijumpai dikawasan yang berpayau seperti di tepi danau, muara sungai, di rawa-rawa, di telaga-telaga atau pada tempat-tempat yang berair/berlumpur, tanaman ini banyak tumbuh didaerah sub tropis maupun daerah tropis yang panas dan lembap. Jeringau merupakan tumbuhan berair, mempunyai rizoma yang berbau wangi. Rizomanya berbentuk silinder dan diameternya antara 19 hingga 25 mm, kulit rizom berwarna coklat muda dengan warna putih didalamnya. Bagian dalamnya berbentuk seperti spon. Daunnya tebal dan keras berbentuk seperti pedang. Apabila daunnya dikoyak akan dihasilkan bau wangi. Jeringau menghasilkan bunga berwarna kuning kecil yang keluar dari ketiak daunnya. Tumbuhan ini jarang mengeluarkan biji benih dan pembiakan utamanya melalui pecahan rizom (Atsiri Indonesia, 2006).

Bagian Tumbuhan Yang Digunakan
Rimpang jeringau mengandung minyak yang bernilai serba guna seperti campuran dalam industri makanan dan minuman, bahan penyedap, pewangi, deterjen, sabun, dan krem kecantikan. Jeringau yang dapat dimanfaatkan sebagai insektisida hayati adalah pada akarnya (rimpang), karena mengandung minyak atsiri. Rimpang jeringau dapat digunakan dalam 2 bentuk, yaitu berbentuk tepung dan minyak. Untuk membuat tepung, rimpang jeringau diiris-iris, dikeringkan, lalu ditumbuk. Sedangkan cara pengolahan rimpang jeringau menjadi minyak atsiri adalah melalui penyulingan dengan metode Destilasi (Kardinan, 2004).

Kandungan Aktif Jeringau
Kandungan bahan kimia terpenting dalam rimpang jeringau adalah minyak atsiri. Kandungan minyak atsirinya mengandung eugenol, asarilaldehid, asaron (alfa dan beta asaron), kalameon, kalamediol, isokalamendiol, preisokalmendiol, akorenin, akonin, akoragermakron, akolamonin, isoakolamin, siobunin, isosiobunin, episiobunin, resin dan amilum (Arsiri Indonesia, 2006). Tinggi rendahnya kualitas minyak atsiri tergantung pada daerah asal jeringau itu sendiri. Komposisi minyak rimpang jeringau terdiri dari asarone (82%), kolamenol (5%), kolamen (4%), kolameone (1%), metil eugenol (1%), dan eugenol (0,3%) (Kardinan, 2004). Rimpang dan daun jeringau mengandung saponin dan flavonoida, disamping rimpangnya mengandung minyak atsiri sebagai pengusir serangga (Anonimous, 2000). Formula rimpang Jeringau sebagai insektisida dapat dibuat secara sederhana maupun secara laboratorium.

Manfaat Jeringau
Secara tradisional tanaman jeringau banyak digunakan sebagai obat sakit perut dan penyakit kulit (Rismunandar, 1988). Ada juga kebiasaan yang berkembang di masyarakat yaitu pada ibu yang mempunyai bayi, disediakan sejenis bungkusan kecil yang berisi jeringau dan rempah ini dipercaya dapat menghindarkan bayi dari mahkluk halus dan binatang-binatang (Naria, 2005). Rimpang jeringau berkhasiat sebagai karminaif, spasmolitik dan diaforetik yang bermanfaat untuk obat penenang, lambung, penenang pencernaan, obat limpa, menghilangkan sakit, menambah nafsu makan, tonik, meredakan radang, melegakan hidung tersumbat, menjernihkan suara, dan bahan antiseptik. Contohnya penyakit yang dapat diobati dengan jeringau antara lain adalah bengkak, kudis, kurap, limpa bengkak, cacar sapi, mimisan, demam dan lainnya. Bahkan ada penderita stroke ringan yang sembuh dengan mandi air hangat yang dicampur dengan beberapa rimpang jeringau. Selain itu jeringau juga digunakan sebagai ramuan untuk wanita selepas bersalin. (Atsiri Indonesia, 2006). Di India, tepung rimpang jeringau digunakan sebagai obat cacing dan jamu-jamuan. Didalam obat-obatan timur asli, rimpang jeringau banyak dipakai untuk dyspepsia (obat anak-anak yang mengalami diare), bronchitis dan lozenge (obat kunyah untuk sakit tenggorokan). Air rebusan rimpang jeringau disebut teh jeringau (calamus), baik sekali dipakai untuk obat menguatkan badan dan menghangatkan perut. Jeringau dapat pula membangkitkan nafsu makan serta mendorong dan membuang kotoran-kotoran dalam perut. Teh jeringau ini pun sangat manjur untuk mengobati reumatik, demam, penyakit kuning, sakit empedu, memperlancar haid bagi wanita, dan lain-lain (Indo, M., 1972). Dalam dosis rendah jeringau dapat memberikan efek relaksasi pada otot dan menimbulkan efek sedatif (penenang) terhadap sistem saraf pusat karena senyawa asaron memiliki struktur kimia mirip senyawa golongan amfetamin dan ekstasi. Namun, jika digunakan dalam dosis yang tinggi dan dalam jangka waktu yang lama dapat meningkatkan aktivitas mental (psikoaktif) bahkan potensial sebagai karsinogen jika antibodi yang ada di dalam tubuh tidak bisa mengeliminasi efek karsinogen jeringau (Agusta, 2008). Di beberapa Negara tanaman jeringau telah dikembangkan secara luas sebagai tanaman perdagangan, industri, maupun obat-obatan, bahkan sampai di ekspor. Minyak yang dihasilkan dari bahan baku rimpang jeringau melalui proses penyulingan disebut Calamus Oil.  Minyak jeringau dibutuhkan untuk industri makanan sebagai penambah cita rasa, industri minuman sebagai campuran bir, limun, anggur, dan lain-lain, karena baunya jeringau yang lembut, warnanya yang kuning dan aromanya yang mendekati bau nilam, serta pada bahan industri pasta gigi sebagai dental cream.

Hama Yang Dikendalikan
Rimpang jeringau dapat digunakan untuk mengendalikan beberapa serangga pengganggu disekitar kita. Rimpang yang ditumbuk halus (bentuk tepung) dapat digunakan untuk mengendalikan rayap dan membunuh kutu, dapat juga digunakan untuk memusnahkan anai-anai, dengan cara menaburkan tepung jeringau di sekeliling kayu yang diserang oleh anai-anai (Indo, M., 1972). Serangga lain yang dapat dikendalikan adalah nyamuk, ngengat dan kecoa (Naria, 2005). Tumbuhan ini, terutama bagian rimpangnya mengandung minyak yang dapat digunakan sebagai bahan insektisida yang bekerja sebagai repellent (penolak serangga), antifeedant (penurun nafsu makan), dan antifertilitas/chemosterilant (pemandul). Tepung rimpang jeringau dapat digunakan untuk melindungi hasil panen yang disimpan di gudang, yaitu dengan mencampurkannya pada biji-bijian dengan konsentrasi 1-2 % atau 1-2 kg tepung jeringau dicampur dengan 100 kg biji-bijian. Tepung rimpang jeringau dengan konsentrasi 3-5% berpengaruh terhadap mortalitas serangga sitophilus sp. Rimpang jeringau sering digunakan sebagai insektisida nabati di berbagai negara. Sebagai contoh, di Tiongkok dan India rimpang jeringau ini dimanfaatkan untuk membasmi beberapa jenis kutu, di Malaysia dimanfaatkan untuk membasmi rayap, dan di Filipina untuk mengusir walang sengit (Kardinan, 2004). Berdasarkan cara kerja minyak dari rimpang jeringau sebagai insektisida nabati untuk mengendalikan serangga dapat dinyatakan sebagai racun kontak, dan racun pernafasan. Sebagai racun kontak, apabila minyak jeringau yang disemprotkan dapat langsung mengenai bagian tubuh serangga sasaran yang menyebabkan serangga tersebut jatuh dan akhirnya mati ditandai dengan tubuh serangga mengering karena dehidrasi. Dinyatakan sebagai racun kontak apabila insektisida dapat masuk kedalam tubuh serangga sasaran lewat kulit/bersinggungan langsung (Djojosumarto, 2000).  Sebagai racun pernafasan, apabila serangga menghirup minyak rimpang jeringau yang menyebabkan serangga tersebut tergelepar hingga akhirnya mengalami kematian. Racun pernafasan bekerja lewat saluran pernafasan. Kebanyakan racun pernafasan berupa gas (Djojosumarto, 2000). Pengaplikasian minyak rimpang jeringau berbentuk cair yang dapat berubah dan menimbulkan gas. Hal ini dapat diketahui dari baunya yang sangat menyengat (Onasis, 2001). Untuk mendapatkan minyak dari rimpang jeringau dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
  1. Siapkan 10 kg rimpang jeringau yang telah disortir dan dirajang halus.
  2. Lakukan pengeringan dengan tidak langsung berada dibawah sinar matahari sampai kadar airnya 10-25 %.
  3. Lakukan penyulingan dengan alat suling yang menggunakan metode destilasi.
  4. Pisahkan minyak rimpang jeringau dari air.
  5. Minyak dari rimpang jeringau siap untuk digunakan.

Dengan mengetahui informasi diatas, diharapkan dapat menambah wawasan kita mengenai berbagai kandungan kimia dan manfaat dari tanaman jeringau. Karena budidayanya yang mudah, tanaman jeringau ini dapat dikembangkan, mengingat manfaat dari tanaman ini yang begitu besar, baik sebagai tanaman herba untuk pengobatan manusia, maupun sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan.

oleh
M. P. Setyolaksono

Jumat, 27 Februari 2015

Cara Budi Daya Tanaman Jahe Lengkap (Pula Halia)

Tanaman jahe sudah terkenal sebagai bahan obat & penghangat. Jahe merupakan tanaman obat berupa tumbuhan rumpun berbatang semu. Jahe termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae), se-famili dengan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (Cucuma xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferia galanga), lengkuas (Languas galanga) & lain-lain. Beriykut adalah Cara Budidaya tanaman Jahe.

1. SEJARAH SINGKAT
Jahe berasal dari Asia Pasifik yg tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yg pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak & obat-obatan tradisional. Nama daerah jahe antara lain halia (Aceh), beeuing (Gayo), bahing (Batak Karo), sipodeh (Minangkabau), jahi (Lampung), jahe (Sunda), jae (Jawa & Bali), jhai (Madura), melito (Gorontalo), geraka (Ternate), dsb.

2. URAIAN TANAMAN JAHE
2.1 Klasifikasi
  • Divisi : Spermatophyta
  • Sub-divisi : Angiospermae
  • Kelas : Monocotyledoneae
  • Ordo : Zingiberales
  • Famili : Zingiberaceae
  • Genus : Zingiber
  • Species : Zingiber officinale
2.2 Deskripsi.
Terna berbatang semu, tinggi 30 cm sampai 1 m, rimpang bila dipotong berwarna kuning atau jingga. Daun sempit, panjang 15 – 23 mm, lebar 8 – 15 mm ; tangkai daun berbulu, panjang 2 – 4 mm ; bentuk lidah daun memanjang, panjang 7,5 – 10 mm, & tidak berbulu; seludang agak berbulu. Perbungaan berupa malai tersembul dipermukaan tanah, berbentuk tongkat atau bundar telur yg sempit, 2,75 – 3 kali lebarnya, sangat tajam ; panjang malai 3,5 – 5 cm, lebar 1,5 – 1,75 cm ; gagang bunga hampir tidak berbulu, panjang 25 cm, rahis berbulu jarang ; sisik pada gagang terdapat 5 – 7 buah, berbentuk lanset, letaknya berdekatan atau rapat, hampir tidak berbulu, panjang sisik 3 – 5 cm; daun pelindung berbentuk bundar telur terbalik, bundar pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna hijau cerah, panjang 2,5 cm, lebar 1 – 1,75 cm ; mahkota bunga berbentuk tabung 2 – 2,5 cm, helainya agak sempit, berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 – 2,5 mm, lebar 3 – 3,5 mm, bibir berwarna ungu, gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan, panjang 12 – 15 mm ; kepala sari berwarna ungu, panjang 9 mm ; tangkai putik 2

2.3 Jenis Tanaman
Jahe dibedakan menjadi 3 jenis berdasarkan ukuran, bentuk & warna rimpangnya. Umumnya dikenal 3 varietas jahe, yaitu :
  1. Jahe putih/kuning besar atau disebut juga jahe gajah atau jahe badak : Rimpangnya lebih besar & gemuk, ruas rimpangnya lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bias dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.
  2. Jahe putih/kuning kecil atau disebut juga jahe sunti atau jahe emprit : Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok utk ramuan obat-obatan, atau utk diekstrak oleoresin & minyak atsirinya.
  3. Jahe merah : Rimpangnya berwarna merah & lebih kecil dari pada jahe putih kecil. sama seperti jahe kecil, jahe merah selalu dipanen setelah tua, & juga memiliki kandungan minyak atsiri yg sama dengan jahe kecil, sehingga cocok utk ramuan obat-obatan.
3. MANFAAT TANAMAN
Rimpang jahe dapat digunakan sebagai bumbu masak, pemberi aroma & rasa pada makanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula & berbagai.minuman. Jahe juga dapat digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, diolah menjadi asinan jahe, dibuat acar, lalap, bandrek, sekoteng & sirup. Dewasa ini para petani cabe menggunakan jahe sebagai pestisida alami. Dalam perdagangan jahe dijual dalam bentuk segar, kering, jahe bubuk & awetan jahe. Disamping itu terdapat hasil olahan jahe seperti: minyak astiri & koresin yg diperoleh dengan cara penyulingan yg berguna sebagai bahan pencampur dalam minuman beralkohol, es krim, campuran sosis & lain-lain.
Adapun manfaat secara pharmakologi antara lain adalah sebagai karminatif (peluruh kentut), anti muntah, pereda kejang, anti pengerasan pembuluh darah, peluruh keringat, anti inflamasi, anti mikroba & parasit, anti piretik, anti rematik, serta merangsang pengeluaran getah lambung & getah empedu.

4. SENTRA PENANAMAN
Terdapat di seluruh Indonesia, ditanam di kebun & di pekarangan. Pada saat ini jahe telah banyak dibudidayakan di Australia, Srilangka, Cina, Mesir, Yunani, India, Indonesia, Jamaika, Jepang, Meksiko, Nigeria, Pakistan. Jahe dari Jamaika mempunyai kualitas tertinggi, sedangkan India merupakan negara produsen jahe terbesar, yaitu lebih dari 50 % dari total produksi jahe dunia.

5. SYARAT PERTUMBUHAN
  1. Iklim
    1. Tanaman jahe membutuhkan curah hujan relatif tinggi, yaitu antara 2.500-4.000 mm/tahun.
    2. Pada umur 2,5 sampai 7 bulan atau lebih tanaman jahe memerlukan sinar matahari. Dengan kata lain penanaman jahe dilakukan di tempat yg terbuka sehingga mendapat sinar matahari sepanjang hari.
    3. Suhu udara optimum utk budidaya tanaman jahe antara 20-35°C.
  2. Media Tanam
    1. Tanaman jahe paling cocok ditanam pada tanah yg subur, gembur & banyak mengandung humus.
    2. Tekstur tanah yg baik adalah lempung berpasir, liat berpasir & tanah laterik.
    3. Tanaman jahe dapat tumbuh pada keasaman tanah (pH) sekitar 4,3-7,4. Tetapi keasaman tanah (pH) optimum utk jahe gajah adalah 6,8-7,0.
  3. Ketinggian Tempat
    1. Jahe tumbuh baik di daerah tropis & subtropis dengan ketinggian 0-2.000 m dpl..
    2. Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200 - 600 m dpl.
6. PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan Jahe
  1. Persyaratan Bibit Jahe : Bibit berkualitas adalah bibit yg memenuhi syarat mutu genetik, mutu fisiologik (persentase tumbuh yg tinggi), & mutu fisik. yg dimaksud dengan mutu fisik adalah bibit yg bebas hama & penyakit. Oleh karena itu kriteria yg harus dipenuhi antara lain:
    1. Bahan bibit diambil langsung dari kebun (bukan dari pasar).
    2. Dipilih bahan bibit dari tanaman yg sudah tua (berumur 9-10 bulan).
    3. Dipilih pula dari tanaman yg sehat & kulit rimpang tidak terluka atau lecet.
  2. Teknik Penyemaian Bibit : utk pertumbuhan tanaman yg serentak atau seragam, bibit jangan langsung ditanam sebaiknya terlebih dahulu dikecambahkan. Penyemaian bibit dapat dilakukan dengan peti kayu atau dengan bedengan.
    1. Penyemaian pada peti kayu : Rimpang jahe yg baru dipanen dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Patahkan rimpang tersebut dengan tangan dimana setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas & dijemur ulang 1/2-1 hari. Selanjutnya potongan bakal bibit tersebut dikemas ke dalam karung beranyaman jarang, lalu dicelupkan dalam larutan fungisida & zat pengatur tumbuh sekitar 1 menit kemudian keringkan. Setelah itu dimasukkan kedalam peti kayu. Lakukan cara penyemaian dengan peti kayu sebagai berikut: pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian di atasnya diberi abu gosok atau sekam padi, demikian seterusnya sehingga yg paling atas adalah abu gosok atau sekam padi tersebut. Setelah 2-4 minggu lagi, bibit jahe tersebut sudah disemai.
    2. Penyemaian pada bedengan : Buat rumah penyemaian sederhana ukuran 10 x 8 m utk menanam bibit 1 ton (kebutuhan jahe gajah seluas 1 ha). Di dalam rumah penyemaian tersebut dibuat bedengan dari tumpukan jerami setebal 10 cm. Rimpang bakal bibit disusun pada bedengan jerami lalu ditutup jerami, & di atasnya diberi rimpang lalu diberi jerami pula, demikian seterusnya, sehingga didapatkan 4 susunan lapis rimpang dengan bagian atas berupa jerami. Perawatan bibit pada bedengan dapat dilakukan dengan penyiraman setiap hari & sesekali disemprot dengan fungisida. Setelah 2 minggu, biasanya rimpang sudah bertunas. Bila bibit bertunas dipilih agar tidak terbawa bibit berkualitas rendah..Bibit hasil seleksi itu dipatah-patahkan dengan tangan & setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas & beratnya 40-60 gram.
  3. Penyiapan Bibit Jahe : Sebelum ditanam, bibit harus dibebaskan dari ancaman penyakit dengan cara bibit tersebut dimasukkan ke dalam karung & dicelupkan ke dalam larutan fungisida sekitar 8 jam. Kemudian bibit dijemur 2-4 jam, barulah ditanam.
6.2. Pengolahan Media Tanam
  1. Persiapan Lahan : utk mendapatkan hasil panen yg optimal harus diperhatikan syarat-syarat tumbuh yg dibutuhkan tanaman jahe. Bila keasaman tanah yg ada tidak sesuai dengan keasaman tanah yg dibutuhkan tanaman jahe, maka harus ditambah atau dikurangi keasaman dengan kapur.
  2. Pembukaan Lahan : Pengolahan tanah diawali dengan dibajak sedalam kurang lebih dari 30 cm dengan tujuan utk mendapatkan kondisi tanah yg gembur atau remah & membersihkan tanaman pengganggu. Setelah itu tanah dibiarkan 2-4 minggu agar gas-gas beracun menguap serta bibit penyakit & hama akan mati terkena sinar matahari. Apabila pada pengolahan tanah pertama dirasakan belum juga gembur, maka dapat dilakukan pengolahan tanah yg kedua sekitar 2-3 minggu sebelum tanam & sekaligus diberikan pupuk kandang dengan dosis 1.500-2.500 kg.
  3. Pembentukan Bedengan : Pada daerah-daerah yg kondisi air tanahnya jelek & sekaligus utk encegah terjadinya genangan air, sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan engan ukuran tinggi 20-30 cm, lebar 80-100 cm, sedangkan anjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan.
  4. Pengapuran : Pada tanah dengan pH rendah, sebagian besar unsur-unsur hara didalamnya, Terutama fosfor (p) & calcium (Ca) dalam keadaan tidak tersedia atau sulit diserap. Kondisi tanah yg masam ini dapat menjadi media perkembangan beberapa cendawan penyebab penyakit fusarium sp & pythium sp. Pengapuran juga berfungsi menambah unsur kalium yg sangat diperlukan tanaman utk mengeraskan bagian tanaman yg berkayu, merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mempertebal dinding sel buah & merangsang pembentukan biji.
    1. Derajat keasaman < 4 (paling asam): kebutuhan dolomit > 10 ton/ha.
    2. Derajat keasaman 5 (asam): kebutuhan dolomit 5.5 ton/ha.
    3. Derajat keasaman 6 (agak asam): kebutuhan dolomit 0.8 ton/ha.
  1. Penentuan Pola Tanaman : Pembudidayaan jahe secara monokultur pada suatu daerah tertentu memang dinilai cukup rasional, karena mampu memberikan produksi & produksi tinggi. Namun di daerah, pembudidayaan tanaman jahe secara monokultur kurang dapat diterima karena selalu menimbulkan kerugian. Penanaman jahe secara tumpangsari dengan tanaman lain mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
    1. Mengurangi kerugian yg disebabkan naik turunnya harga.
    2. Menekan biaya kerja, seperti: tenaga kerja pemeliharaan tanaman.
    3. Meningkatkan produktivitas lahan.
    4. Memperbaiki sifat fisik & mengawetkan tanah akibat rendahnya pertumbuhan gulma (tanaman pengganggu). Praktek di lapangan, ada jahe yg ditumpangsarikan dengan sayur-sayuran, seperti ketimun, bawang merah, cabe rawit, buncis & lain-lain. Ada juga yg ditumpangsarikan dengan palawija, seperti jagung, kacang tanah & beberapa kacang-kacangan lainnya.
  2. Pembutan Lubang Tanam : utk menghindari pertumbuhan jahe yg jelek, karena kondisi air tanah yg buruk, maka sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan. Selanjutnya buat lubang-lubang kecil atau alur sedalam 3-7,5 cm utk menanam bibit.
  3. Cara Penanaman : Cara penanaman dilakukan dengan cara melekatkan bibit rimpang secara rebah ke dalam lubang tanam atau alur yg sudah disiapkan.
  4. Perioda Tanam : Penanaman jahe sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan sekitar bulan September & Oktober. Hal ini dimungkinkan karena tanaman muda akan membutuhkan air cukup banyak utk pertumbuhannya.
6.4. Pemeliharaan Tanaman
  1. Penyulaman : Sekitar 2-3 minggu setelah tanam, hendaknya diadakan utk melihat rimpang yg mati. Bila demikian harus segera dilaksanakan penyulaman agar pertumbuhan bibit sulaman itu tidak jauh tertinggal dengan tanaman lain, maka sebaiknya dipilih bibit rimpang yg baik serta pemeliharaan yg benar.
  2. Penyiangan : Penyiangan pertama dilakukan ketika tanaman jahe berumur 2-4 minggu kemudian dilanjutkan 3-6 minggu sekali. Tergantung pada kondisi tanaman pengganggu yg tumbuh. Namun setelah jahe berumur 6-7 bulan, sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan lagi, sebab pada umur tersebut rimpangnya mulai besar..
  3. Pembubunan : Tanaman jahe memerlukan tanah yg peredaran udara & air dapat berjalan dengan baik, maka tanah harus digemburkan. Disamping itu tujuan pembubunan utk menimbun rimpang jahe yg kadang-kadang muncul ke atas permukaan tanah. Apabila tanaman jahe masih muda, cukup tanah dicangkul tipis di sekeliling rumpun dengan jarak kurang lebih 30 cm. Pada bulan berikutnya dapat diperdalam & diperlebar setiap kali pembubunan akan berbentuk gubidan & sekaligus terbentuk sistem pengairan yg berfungsi utk menyalurkan kelebihan air. Pertama kali dilakukan pembumbunan pada waktu tanaman jahe berbentuk rumpun yg terdiri atas 3-4 batang semu, umumnya pembubunan dilakukan 2-3 kali selama umur tanaman jahe. Namun tergantung kepada kondisi tanah & banyaknya hujan.
  4. Pemupukan :
    1. Pemupukan Organik : Pada pertanian organik yg tidak menggunakan bahan kimia termasuk pupuk buatan & obat-obatan, maka pemupukan secara organik yaitu dengan menggunakan pupuk kompos organik atau pupuk kandang dilakukan lebih sering disbanding kalau kita menggunakan pupuk buatan. Adapun pemberian pupuk kompos organik ini dilakukan pada awal pertanaman pada saat pembuatan guludan sebagai pupuk dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yg ditebar & dicampur tanah olahan. utk menghemat pemakaian pupuk kompos dapat juga dilakukan dengan jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam di awal pertanaman sebanyak 0.5 – 1kg per tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, & 8 – 10 bulan. Adapun dosis pupuk sisipan sebanyak 2 – 3 kg per tanaman. Pemberian pupuk kompos ini biasanya dilakukan setelah kegiatan penyiangan & bersamaan dengan kegiatan pembubunan.
    2. Pemupukan Konvensional : Selain pupuk dasar (pada awal penanaman), tanaman jahe perlu diberi pupuk susulan kedua (pada saat tanaman berumur 2-4 bulan). Pupuk dasar yg digunakan adalah pupuk organik 15-20 ton/ha. Pemupukan tahap kedua digunakan pupuk kandang & pupuk buatan (urea 20 gram/pohon; TSP 10 gram/pohon; & ZK 10 gram/pohon), serta K2O (112 kg/ha) pada tanaman yg berumur 4 bulan. Pemupukan juga dilakukan dengan pupuk nitrogen (60 kg/ha), P2O5 (50 kg/ha), & K2O (75 kg/ha). Pupuk P diberikan pada awal tanam, pupuk N & K diberikan pada awal tanam (1/3 dosis) & sisanya (2/3 dosis) diberikan pada saat tanaman berumur 2 bulan & 4 bulan. Pupuk diberikan dengan ditebarkan secara merata di sekitar tanaman atau dalam bentuk alur & ditanam di sela-sela tanaman.
  5. Pengairan & Penyiraman : Tanaman Jahe tidak memerlukan air yg terlalu banyak utk pertumbuhannya, akan tetapi pada awal masa tanam diusahakan penanaman pada awal musim hujan sekitar bulan September;
  6. Waktu Penyemprotan Pestisida : Penyemprotan pestisida sebaiknya dilakukan mulai dari saat penyimpanan bibit yg utk disemai & pada saat pemeliharaan. Penyemprotan pestisida pada fase pemeliharaan biasanya dicampur dengan pupuk organik cair atau vitamin-vitamin yg mendorong pertumbuhan jahe.
7. HAMA & PENYAKIT
Hama yg dijumpai pada tanaman jahe adalah:
  1. Kepik, menyerang daun tanaman hingga berlubang-lubang.
  2. Ulat penggesek akar, menyerang akar tanaman jahe hingga menyebabkan tanaman jahe menjadi kering & mati.
  3. Kumbang.
  1. Penyakit layu bakeri
    • Gejala: Mula-mula helaian daun bagian bawah melipat & menggulung kemudian terjadi perubahan warna dari hijau menjadi kuning & mengering. Kemudian tunas batang menjadi busuk & akhirnya tanaman mati rebah. Bila diperhatikan, rimpang yg sakit itu berwarna gelap & sedikit membusuk, kalau rimpang dipotong akan keluar lendir berwarna putih susu sampai kecoklatan. Penyakit ini menyerang tanaman jahe pada umur 3-4 bulan & yg paling berpengaruh adalah faktor suhu udara yg dingin, genangan air & kondisi tanah yg terlalu lembab.
    • Pengendalian:
      • jaminan kesehatan bibit jahe;
      • karantina tanaman jahe yg terkena penyakit;
      • pengendalian dengan pengolahan tanah yg baik;
      • pengendalian fungisida dithane M-45 (0,25%), Bavistin (0,25%)
  2. Penyakit busuk rimpang
    • Penyakit ini dapat masuk ke bibit rimpang jahe melalui lukanya. Ia akan tumbuh dengan baik pada suhu udara 20-25 derajat C & terus berkembang akhirnya menyebabkan rimpang menjadi busuk.
    • Gejala: Daun bagian bawah yg berubah menjadi kuning lalu layu & akhirnya tanaman mati.
    • Pengendalian:.
      • penggunaan bibit yg sehat;
      • penerapan pola tanam yg baik;
      • penggunaan fungisida.
  3. Penyakit bercak daun
    • Penyakit ini dapat menular dengan bantuan angin, akan masuk melalui luka maupun tanpa luka.
    • Gejala: Pada daun yg bercak-bercak berukuran 3-5 mm, selanjutnya bercak-bercak itu berwarna abu-abu & ditengahnya terdapat bintik-bintik berwarna hitam, sedangkan pinggirnya busuk basah. Tanaman yg terserang bisa mati.
    • Pengendalian: baik tindakan pencegahan maupun penyemprotan penyakit bercak daun sama halnya dengan cara-cara yg dijelaskan di atas.
7.3. Gulma
Gulma potensial pada pertanaman temu lawak adalah gulma kebun antara lain adalah rumput teki, alang-alang, ageratum, & gulma berdaun lebar lainnya.

7.4. Pengendalian hama/penyakit secara organik
Dalam pertanian organik yg tidak menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya melainkan dengan bahan-bahan yg ramah lingkungan biasanya dilakukan secara terpadu sejak awal pertanaman utk menghindari serangan hama & penyakit tersebut yg dikenal dengan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yg komponennya adalah sbb:
  1. Mengusahakan pertumbuhan tanaman yg sehat yaitu memilih bibit unggul yg sehat bebas dari hama & penyakit serta tahan terhadap serangan hama dari sejak awal pertanaman
  2. Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami
  3. Menggunakan varietas-varietas unggul yg tahan terhadap serangan hama & penyakit.
  4. Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.
  5. Menggunakan teknik-teknik budidaya yg baik misalnya budidaya tumpang sari dengan pemilihan tanaman yg saling menunjang, serta rotasi tanaman pada setiap masa tanamnya utk memutuskan siklus penyebaran hama & penyakit potensial.
  6. Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yg ramah lingkungan & tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yg dipanen ma maupun pada tanah. Disamping itu penggunaan bahan ini hanya dalam keadaan darurat berdasarkan aras kerusakan ekonomi yg diperoleh dari hasil pengamatan.
Beberapa tanaman yg dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati & digunakan dalam pengendalian hama antara lain adalah:.
  1. Tembakau (Nicotiana tabacum) yg mengandung nikotin utk insektisida kontak sebagai fumigan atau racun perut. Aplikasi utk serangga kecil misalnya Aphids.
  2. Piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) yg mengandung piretrin yg dapat digunakan sebagai insektisida sistemik yg menyerang urat syaraf pusat yg aplikasinya dengan semprotan. Aplikasi pada serangga seperti lalat rumah, nyamuk, kutu, hama gudang, & lalat buah.
  3. Tuba (Derris elliptica & Derris malaccensis) yg mengandung rotenone utk insektisida kontak yg diformulasikan dalam bentuk hembusan dan
    semprotan.
  4. Neem tree atau mimba (Azadirachta indica) yg mengandung azadirachtin yg bekerjanya cukup selektif. Aplikasi racun ini terutama pada serangga penghisap seperti wereng & serangga pengunyah seperti hama penggulung daun (Cnaphalocrocis medinalis). Bahan ini juga efektif utk menanggulangi serangan virus RSV, GSV & Tungro.
  5. Bengkuang (Pachyrrhizus erosus) yg bijinya mengandung rotenoid yaitu pakhirizida yg dapat digunakan sebagai insektisida & larvasida.
  6. Jeringau (Acorus calamus) yg rimpangnya mengandung komponen utama asaron & biasanya digunakan utk racun serangga & pembasmi cendawan, serta hama gudang Callosobrocus.
8. PANEN
  1. Ciri & Umur Panen Jahe: Pemanenan dilakukan tergantung dari penggunaan jahe itu sendiri. Bila kebutuhan utk bumbu penyedap masakan, maka tanaman jahe sudah bisa ditanam pada umur kurang lebih 4 bulan dengan cara mematahkan sebagian rimpang & sisanya dibiarkan sampai tua. Apabila jahe utk dipasarkan maka jahe dipanen setelah cukup tua. Umur tanaman jahe yg sudah bisa dipanen antara 10-12 bulan, dengan ciri-ciri warna daun berubah dari hijau menjadi kuning & batang semua mengering. Misal tanaman jahe gajah akan mengering pada umur 8 bulan & akan berlangsung selama 15 hari atau lebih.
  2. Cara Panen : Cara panen yg baik, tanah dibongkar dengan hati-hati menggunakan alat garpu atau cangkul, diusahakan jangan sampai rimpang jahe terluka. Selanjutnya tanah & kotoran lainnya yg menempel pada rimpang dibersihkan & bila perlu dicuci. Sesudah itu jahe dijemur di atas papan atau daun pisang kira-kira selama 1 minggu. Tempat penyimpanan harus terbuka, tidak lembab & penumpukannya jangan terlalu tinggi melainkan agak disebar.
  3. Periode Panen. : Waktu panen sebaiknya dilakukan sebelum musim hujan, yaitu diantara bulan Juni – Agustus. Saat panen biasanya ditandai dengan mengeringnya bagian atas tanah. Namun demikian apabila tidak sempat dipanen pada musim kemarau tahun pertama ini sebaiknya dilakukan pada musim kemarau tahun berikutnya. Pemanenan pada musim hujan menyebabkan rusaknya rimpang & menurunkan kualitas rimpang sehubungan dengan rendahnya bahan aktif karena lebih banyak kadar airnya.
  4. Perkiraan Hasil Panen : Produksi rimpang segar utk klon jahe gajah berkisar antara 15-25 ton/hektar, sedangkan utk klon jahe emprit atau jahe sunti berkisar antara 10-15 ton/hektar.
9. PASCAPANEN
  1. Penyortiran Basah & Pencucian : Sortasi pada bahan segar dilakukan utk memisahkan rimpang dari kotoran berupa tanah, sisa tanaman, & gulma. Setelah selesai, timbang jumlah bahan hasil penyortiran & tempatkan dalam wadah plastik utk pencucian. Pencucian dilakukan dengan air bersih, jika perlu disemprot dengan air bertekanan tinggi. Amati air bilasannya & jika masih terlihat kotor lakukan pembilasan sekali atau dua kali lagi. Hindari pencucian yg terlalu lama agar kualitas & senyawa aktif yg terkandung didalam tidak larut dalam air. Pemakaian air sungai harus dihindari karena dikhawatirkan telah tercemar kotoran & banyak mengandung bakteri/penyakit. Setelah pencucian selesai, tiriskan dalam tray/wadah yg belubang-lubang agar sisa air cucian yg tertinggal dapat dipisahkan, setelah itu tempatkan dalam wadah plastik/ember.
  2. Perajangan : Jika perlu proses perajangan, lakukan dengan pisau stainless steel & alasi bahan yg akan dirajang dengan talenan. Perajangan rimpang dilakukan melintang dengan ketebalan kira-kira 5 mm – 7 mm. Setelah perajangan, timbang hasilnya & taruh dalam wadah plastik/ember. Perajangan dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin pemotong.
  3. Pengeringan : Pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu dengan sinar matahari atau alat pemanas/oven. pengeringan rimpang dilakukan selama 3 - 5 hari, atau setelah kadar airnya dibawah 8%. pengeringan dengan sinar matahari dilakukan diatas tikar atau rangka pengering, pastikan rimpang tidak saling menumpuk. Selama pengeringan harus dibolak-balik kira-kira setiap 4 jam sekali agar pengeringan merata. Lindungi rimpang tersebut dari air, udara yg lembab & dari bahan-bahan disekitarnya yg bisa mengkontaminasi..Pengeringan di dalam oven dilakukan pada suhu 50 ° C - 60 ° C. Rimpang yg akan dikeringkan ditaruh di atas tray oven & pastikan bahwa rimpang tidak saling menumpuk. Setelah pengeringan, timbang jumlah rimpang yg dihasilkan
  4. Penyortiran Kering. : Selanjutnya lakukan sortasi kering pada bahan yg telah dikeringkan dengan cara memisahkan bahan-bahan dari benda-benda asing seperti kerikil, tanah atau kotoran-kotoran lain. Timbang jumlah rimpang hasil penyortiran ini (untuk menghitung rendemennya).
  5. Pengemasan : Setelah bersih, rimpang yg kering dikumpulkan dalam wadah kantong plastik atau karung yg bersih & kedap udara (belum pernah dipakai sebelumnya). Berikan label yg jelas pada wadah tersebut, yg menjelaskan nama bahan, bagian dari tanaman bahan itu, nomor/kode produksi, nama/alamat penghasil, berat bersih & metode penyimpanannya.
  6. Penyimpanan : Kondisi gudang harus dijaga agar tidak lembab & suhu tidak melebihi 30 ° C & gudang harus memiliki ventilasi baik & lancar, tidak bocor, terhindar dari kontaminasi bahan lain yg menurunkan kualitas bahan yg bersangkutan, memiliki penerangan yg cukup (hindari dari sinar matahari langsung), serta bersih & terbebas dari hama gudang.

Demikian artikel tentang Cara Budidaya Tanaman Jahe, semoga bermanfaat.