Pages

Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Desember 2015

Dengan 1 kg Kentang, Lampu Bisa Menyala Sebulan

Masih banyak desa-desa di Indonesia yang belum dialiri listrik. Tapi kentang bisa jadi alternatif, jadi semua wilayah pelosok di Indonesia sudah pakai lampu.
Patut diterapkan di seluruh Wilayah Indonesia...

Silahkan  dicoba !!!
Ambil 2 buah kentang, tusukkan paku, kemudian pasang lampu LED yang sudah ada kabel plus minusnya, lampu akan menyala 24 jam, untuk 1 Kg kentang bisa sebulan ... Harus ada paku yang ditusuk ke umbi kentang. Sangat cocok untuk daerah terisolir, daerah perbatasan, daerah mahal solar dan bensin, daerah tidak terjangkau PLN, para pedagang keliling,  tukang nasi goreng, tukang buah, tukang gorengan, daerah pegunungan yang belum terjangkau listrik atau cadangan di rumah kalau listrik padam. 

Cukup siapkan lampu LED yang 4W (setara dgn 40W lampu biasa).
Bayangkan seluruh petani di luar jawa rame rame tanam kentang, petani kentang yang akan kewalahan memenuhi permintaan kentang yang akan melonjak.
Bila setiap RT, RW, Dusun, Desa stock cukup bahan kentang... negara kita selalu terang benderang di waktu malam...

Mari kita sebarkan, semoga kpd Inovator, penemu dan penyebar ilmunya, pahala mengalir terus.
 

Rabu, 11 November 2015

Rebusan daun jambu biji, solusi alami untuk atasi rambut rontok !!

Daun jambu tak hanya efektif untuk menaikkan trombosit buat pasien demam berdarah, lho. Siapa sangka, daun buah tropis yg satu ini bisa ampuh untuk mencegah kerontokan rambut?

Menurut para ahli seperti dilaporkan Style Craze, daun jambu bisa
mencegah serta mengatasi kerontokan rambut apabila digunakan sebagai bahan perawatan rambut setiap hari. Sebab daun jambu kaya akan vitamin B. Vitamin ini sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kesuburan rambut.

Ingin mendapatkan manfaat menyuburkan rambut dari daun jambu? Kamu tinggal merebus segenggam daun jambu biji dengan 1 liter air selama 20 menit. Sesudah mendidih, dinginkan hingga mencapai suhu ruang.

Gunakan air rebusan daun jambu sebagai tonik. Aplikasikan pada kulit kepala dan akar rambut. Kerjakan pijatan ringan, lalu diamkan sepanjang sebagian jam saat sebelum dicuci. Utk hasil maksimal, bungkus rambut serta kepala dengan handuk atau shower cap sebelum tidur. Cuci rambut besok harinya.

Pemijatan kulit kepala dengan tonik daun jambu ini dapat mengendalikan kerontokan rambut. Dikarenakan ramuan ini bakal kuatkan akar dan folikel rambut.

Rabu, 19 Agustus 2015

Jika Bintang Bulan Melanggar Hukum, Tangkap Saja Anggota DPRA!

Sejumlah pegiat mengkritisi pernyataan Pangdam IM dan Kapolda Aceh bahwa pengibaran bendera bintang bulan di Mesjid Islamic Center Lhokseumawe melanggar hukum.
"Jikalau melanggar hukum berarti MoU Helsinki yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005 silam dan isi Undang-undang Pemerintah Aceh (UUPA) ilegal buat Aceh," demikian dikatakan salah seorang pegiat, Juliadi, Selasa (18/8/2015) malam.
Menurut Juliadi, orang yang mengibarkan sudah tepat karena sudah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Bukankah DPRA itu lembaga yang legal? Kalaupun melanggar hukum, berarti DPRA lah yang pertama sekali melanggar hukum.
"Pengibaran bendera jangan salahkan rakyat," tegas Juliadi.
Justru, kata Juliadi lagi, jika pusat tidak segera mengesahkan bendera tersebut, ditakutkan akan timbul sakit hati dari rakyat Aceh, karena rakyat Aceh lagi-lagi merasa tertipu oleh pusat yang terkesan ingkar janji.
Soal ada beberapa pihak menganggap bendera bintang bulan seperatis, dijelaskan Juliadi bahwa bukankah pasca damai sudah sepakat di Aceh tidak ada lagi separatis. Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sudah dibubarkan, yang ada hanya Komite Peralihan Aceh (KPA) dan Aceh di bawah NKRI.
Persoalan bendera saja sangat berlarut-larut, belum lagi RPP Migas yang tidak sesuai MoU Helsinki dan turunan UUPA lainnya sampai saat ini masih belum selesai, seperti Qanun KKR dan lain sebagainya. Jika bapak Kapolda Aceh dan Pangdam IM mengatakan bintang bulan melanggar hukum, berarti Polda dan Pangdam sebaiknya menangkap saja DPRA terlebih dahulu dan para petinggi-petinggi GAM yang selalu memberikan janji-janjinya bendera bintang bulan wajib berkibar di Aceh.
Secara hukum, Qanun nomor 3/2013 tentang bendera dan lambang daerah Aceh yang terkait penggunaan bendera bintang bulan di dalamnya sudah sah dari tinjaun hukum. Sebab pihak DPRA dan Pemerintah  Aceh dalam penyusunan Qanun tersebut sudah menepati kaidah atau aturan-aturan yang berlaku sesuai dengan Undang-undang Pemerintah Aceh atau pemerintah daerah tentang penyusunan Perda/Qanun, yaitu setelah 60 hari Qanun terbentuk dan tidak ada respon dari Pemerintah pusat, maka suatu produk Perda/qanun dapat dianggap sah, dimana kemudian dimasukkan ke dalam lembaran daerah.
Maka, tambah Juliadi, sesuai sesuai perundangan-undangan jika Pemerintah pusat menilai qanun tersebut tidak sah, seharusnya bukan dalam bentuk revisi lagi, namun dikeluarkan Keppres untuk pembatalan atau penolakan qanun tersebut, sebab apabila revisi dilakukan pada masa  60 hari tersebut tidak akan memungkinkan lagi.
"Apabila belum ada keputusan lanjutan dari Pemerintah pusat, maka apa yang tertuang dalam qanun yang telah dibentuk sesuai dengan undang-undang dianggap telah sah," katanya.

Selasa, 18 Agustus 2015

Para Pemimpin Muslim Serukan Umat Atasi Perubahan Iklim

Para pemimpin Islam dari 20 negara mengeluarkan deklarasi tentang perubahan iklim pada pertemuan puncak di Istanbul, Selasa (18/8).

Mereka menyerukan kepada 1,6 miliar umat Islam di seluruh dunia, untuk melindungi keseimbangan dunia.

Umat Islam diminta memperhatikan emisi gas rumah kaca, dan dapat bergeser dari bahan bakar fosil ke sumber energi terbarukan.

Dalam pesan yang ditunjukkan ke negara-negara Timur Tengah, mereka meminta kawasan penghasil minyak tersebut untuk menjadi pelopor.

Deklarasi itu dicapai setelah pidato dan diskusi yang digelar selama beberapa hari melibatkan lebih dari 60 peserta dan organisasi.

"Krisis iklim perlu ditangani melalui upaya kolaboratif, jadi mari kita bekerja sama untuk dunia yang lebih baik bagi anak-anak kita, dan anak dari anak kita," kata Din Syamsuddin, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia yang hadir dalam acara itu.

Negara kaya dan negara minyak harus menghapuskan emisi mereka, paling lambat pertengahan abad ini. Mereka juga harus memberi dukungan dalam membantu orang miskin dan menciptakan go green.

Pengobatan Alternatif : Obat Sakit Jantung, Diabetes, dan Darah Tinggi

Penyakit jantung, diabates atau kencing manis, dan darah tinggi merupakan jenis penyakit yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia. Hal ini dipengaruhi oleh pola makan yang tidak sehat, serta kebiasaan buruk seperti rokok, minuman soda, dan berlebihan dalam mengkonsumsi gula.

Tidak ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan untunglah Tuhan menyediakan berbagai pengobatan alternatif seperti salah satunya yang kami share ini.

Bagi anda penderita penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi silahkan mencoba tips berikut. Tips ini kami dapat dari Ustaz Sharhan Syafie yang berhasil mengobati penyakit jantung, kencing manis, dan darah tinggi.

Siapkan sebuah kelapa muda yang dalamnya masih lembut ditambah 3 batang serai yang sudah diketuk, tambah 7 biji halba, lalu panaskan dan minum airnya.

Konsumsi ramuan ini 2 hari sekali, jadi misalkan anda punya 7 buah kelapa muda maka itu cukup untuk 14 hari konsumsi.

Selamat mencoba, insya Allah bila dijalankan sesuai petunjuk peluang kesembuhannya 80% bisa sembuh.

SHARE tips penting ini kepada rakan anda di facebook agar mudah terbaca oleh mereka yang menghidap sakit jantung, kencing manis dan darah tinggi.

Keterangan: Halba biasa juga disebut klabet/kelabat biasa digunakan untuk bikin kare, kelabat bisa di dapatkan / di beli di toko bumbu-bumbu.

Minggu, 16 Agustus 2015

Muhasabah Sepuluh Tahun Kesepakatan Helsinki (Memorandum of Understanding Helsinki) antara GAM dan RI, 15 Agustus 2005 – 15 Agustus 2015

Hari ini, kita Rakyat Aceh memperingati Sepuluh Tahun Perjanjian Perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka dengan Republik Indonesia dengan penandantanganan Nota Kesepahaman Bersama (Memorandum of Understanding) pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia. 

Bersamaan dengan itu, maka berakhirlah sudah konflik antara kedua belah pihak selama hampir 30 tahun, dimana konflik tersebut telah menelan korban puluhan ribu nyawa serta kerusakan harta benda yang tidak terhitung banyaknya. 

Tidak cukup dengan konflik yang panjang, Allah mencoba ketabahan dan kesabaran rakyat Aceh dengan musibah alam - tsunami yang menelan korban 200,000 jiwa dan kerusakan yang luar biasa dimana mana. Tapi dengan kedatangan cobaan Allah itu juga merupakan sebuah harapan baru dan satu hikmah serta catalysator (pemicu) proses perdamaian ini. 

Kita kecapi sama-sama perdamaian ini dengan hati senang dan gembira, dimana dalam perjalanannya memang sangat penuh dengan liku-liku, tantangan dan cobaan sering kita hadapi. Banyak usaha yang telah dilakukan tetapi masih banyak juga butir-butir MoU Helsinki yang masih diatas kertas tanpa ada perkembangan seperti yang diharapkan oleh rakyat Aceh. 

Tujuan memperingati hari yang bersejarah ini, adalah untuk membuat muhasabah (evaluasi, mengoreksi dan menilai)  serta mencari jalan keluar agar segala butir-butir yang sudah disepakati dalam MoU itu dilaksanakan sesegera mungkin. Bukanlah mudah mencapai perdamaian tersebut, dimana untuk mencapainya kita harus mengeluarkan linangan air mata, darah dan korban yang sangat besar. 

Saya sangat mengetahui bagaimana usaha team perunding GAM untuk memperjuangkan semua isi dari MoU itu. Team perwakilan dari GAM tidak mau beranjak sedikitpun sebelum semua butir-butir MoU disepakati oleh semua pihak. Dikarnakan itu jugalah, maka  Mr. Martti Ahtisaari, selalu mengatakan ” Nothing is agreed until everything is agreed! ”. Sudah menjadi tanggungjawab kita semua stakeholders untuk berpegang-teguh kepada komitmen untuk menyelesaikan butir-butir MoU itu. 

Sebagai tim dari GAM, saya, seperti mana juga rakyat Aceh lainnya, sangat prihatin dan merasa bertanggungjawab dengan implimentasi MoU Helsinki yang belum optimal sebagaimana yang kita harapakan. Karena itu, kami akan tetap memantau dan berusaha supaya segala butir MoU ini dilanjutkan dan dilaksanakan sebagaimana yang telah disepakati bersama. Oleh sebab itu, kami  sarankan kepada pihak Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Aceh sebagai berikut :

1. Beberapa point dalam Undang-undang Pemerintahan Aceh (UUPA) 2006 yang tidak mengakomodir dengan MoU Helsinki, agar segera di revisi, hal itu untuk melancarkan situasi ekonomi, sosial dan politik Aceh. 

2. Proses re-integrasi harus ditingkatkan untuk menampung mantan-mantan kombatan GAM yang belum menyeluruh untuk menghilangkan konflik horizontal. Dalam hal ini organisasi adhoc  KPA (Komita Peralihan Aceh) harus tau apa tujuan organisasi itu dibuat. Agar jangan ada yang memanfaatkan organisasi itu untuk kepentingan kelompok atau pribadi.

3. Joint Claim Settlement (JCS) untuk menampung korban-korban konflik harus lebih fokus, lebih teratur, dan segera dilaksanakan program-program yang tepat sasaran.

4. Memprioritaskan program-program ekonomi yang pro-rakyat supaya masyarakat bisa mandiri dan meningkatkan ekonomi Aceh.

5. Proses KKR dan HAM perlu segera di mulai di Aceh.

6. Melibatkan Ulama, Umara, tokoh-tokoh masyarakat dan akademisi dalam forum yang terpimpin untuk mendapatkan masukan (input) yang menyeluruh dalam hal kemaslahatan ummat Islam Aceh dari segala aspek kehidupan, termasuk agama, ekonomi, politik, sosial, adat dan budaya  Aceh.
Kami menghimbau kepada anggota GAM dan eks Kombatan GAM yang masih komit dengan perdamaian supaya: 

(a) Walaupun dalam MoU kita sudah sepakat untuk tidak membatasi anggota GAM berpartisipasi dalam pesta demokrasi seperti menjadi Kepala Daerah/Kabupaten/Kota, maupun menjadi anggota legislatif. Kami tegaskan dimasa akan datang, jangan ada anggota tertinggi GAM yang ikut ikutan menjadi Kepala daerah atau anggota eksekutiv atau legeslativ.

(b) Kalau anda mau juga, maka jangan sekali kali membawa bawa nama GAM dalam proses perjalanan anda menuju kursi pimpinan daerah atau sebagai wakil rakyat. Untuk para anggota GAM tidak salah mendukung secara pribadi kandidat yang anda suka. Harus di ingat tugas GAM dan RI adalah menjaga perdamaian dan membantu mengimplementasikan isi MoU seperti yang telah disepakati. 

(c) Kami tegaskan disini juga, supaya kepada semua anggota GAM dan eks kombatan GAM, agar pada pemilu mendatang, semua harus bersabar dan menahan diri dari pada menggunakan segala bentuk kekerasan. 

(d) Kami berseru kepada semua anggota GAM dan eks kombatan GAM, apa pun bendera partai yang anda dukung supaya tetap bersatu teguh sesama anggota, demi untuk membangun Aceh yang bermartabat dan bermaruah. 

Mari kita berdoa kepada Allah dan jangan berhenti berusaha, semoga nasib bangsa kita bisa berubah kearah lebih baik dan sejahtera, diangkatkan maruah, dan semoga perdamaian ini menjadi perdamaian yang abadi di Aceh. Amin.

Salam Perdamaian

Bakhtiar Abdullah
Jurubicara GAM dan Anggota Perunding GAM MoU Helsinki
Stockholm, Sweden 15-08-2015

Promosikan Aceh sebagai Tempat Penyelesaian Konflik

International Peace Symposium yang diselenggarakan Aceh Peace Forum sejak 11 Agustus lalu di Balai Senat Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh, berakhir Kamis (13/8) malam. Pertemuan penting ini berhasilmelahirkan sejumlah kesimpulan dan rekomendasi penting.
Salah satunya, masyarakat internasional yang prodamai diminta aktif mempromosikan Aceh sebagai salah satu kawasan tujuan masyarakat internasional untuk mempelajari berbagai pembelajaran (lesson learn) atas penyelesaian konflik dan pembangunan perdamaian. Termasuk dalam penanganan bencana alam, studi demokrasi dan hak asasi manusia (HAM).
Peserta dan narasumber simposium itu, kata Juanda Djamal ST, Koordinator Aceh Peace Forum, kepada Serambi di Banda Aceh tadi malam, telah menghasilkan sejumlah rekomendasi kepada pihak Pemerintah Aceh dan Pemerintah Indonesia, masyarakat sipil, dan masyarakat internasional, dengan tujuan untuk perbaikan segala kekurangan yang telah terjadi dalam mengisi perdamaian selama ini. (baca, rekomendasi)
Dengan demikian, katanya, semua pihak diharapkan mengambil peran strategis dalam upaya perbaikan ke depan demi kelestarian perdamaian di Aceh.
Keberhasilan Pemerintah Aceh dan masyarakat sipil Aceh dalam menjaga perdamaian selama sepuluh tahun sejak MoU Helsinki diteken pada 15 Agustus 2005, menurut Juanda, merupakan sebuah prestasi yang perlu diapresiasi dan disyukuri oleh semua pihak.
Keberhasilan ini juga patut dirayakan untuk memperkuat kembali komitmen membina perdamaian di Aceh terus lestari. Salah satu bentuk perayaan terhadap pencapaian sepuluh tahun damai Aceh itu, menurut Juanda, adalah terselanggaranya Aceh International Peace Symposium oleh Aceh Peace Forum.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, simposium ini dibahani, antara lain, oleh Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar, Pieter Feith (mantan ketua AMM), Ir Azwar Abubakar MA(mantan Wagub dan Plt Gubernur Aceh), Dr Otto Syamsuddin Ishak MSi (mantan Ketua Komnas HAM), dan Suraiya Kamaruzzaman (aktivis perempuan).(dik)
rekomendasi
- Kepada Pemerintah Aceh
* Perlu mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya pembangunan Aceh yang lebih tepat sasaran, terutama Dana Otonomi Khusus (Otsus), untuk pembangunan yang langsung menyentuh perbaikan tingkat kesejahteraan rakyat Aceh, terutama dalam bidang ekonomi dan pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan kebudayaan.
* Perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap hasil yang sudah dicapai melalui pemanfaatan sumber daya pembangunan Aceh sejak Aceh menerima Dana Otsus, sehingga Pemerintah Aceh memiliki landasan perencanan ke depan yang lebih spesifik untuk kesiapan Aceh lepas landas pada tahun 2027.
* Perlu melakukan perencanaan komprehensif untuk pengelolaan sumber daya alam Aceh yang berdasarkan kepada pinsip pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
* Konsolidasi sumber daya manusia Aceh yang lebih optimal, termasuk SDM perguruan tinggi, sebagai sumber daya pembangunan menyongsong kemandirian Aceh pada tahun 2027.
- Kepada Pemerintah Pusat
* Mengembangkan Aceh menjadi salah satu hotspot pengembangan dan pembangunan kawasan ekonomi baru skala nasional, yang didukung oleh letak geografis dan sumber daya maritim, dan potensi sumber daya alam lainnya.
* Meningkatkan pengawasan terhadap penyelenggaraan tatakelola pemerintahan di Aceh yang bersih, transparan, dan akuntabel. Selanjutnya juga diharapkan dapat memperkuat kapasitas birokrasi dalam mendukung peningkatan layanan publik (public services).
- Kepada Masyarakat Sipil
* Masyarakat sipil, terutama perguruan tinggi sebagai kekuatan penyeimbang, perlu meningkatkan aksi nyata untuk menjaga komitmen bersama dalam mengisi perdamaian Aceh melalui penelitian khusus, pengabdian masyarakat, membangun model, dan pertemuan konsultatif dengan penyelenggara pemerintahan di Aceh.
* Perlu melakukan konsolidasi antarorganisasi masyarakat sipil Aceh untuk berperan dalam pemberdayaan komunitas dan mampu menyeimbangi serta memengaruhi kebijakan publik.
- Kepada Masyarakat Internasional
* Terus memperkuat upaya konsolidasi peacebuilding di Aceh, baik melalui Pemerintah Aceh, universitas, organisasi masyarakat sipil, maupun partai politik.
* Mempromosikan Aceh sebagai salah satu kawasan tujuan masyarakat internasional untuk mempelajari berbagai pembelajaran (lesson learn) atas penyelesaian konflik, pembangunan perdamaian, penanganan bencana alam dan demokrasi, serta hak asasi manusia.

Selasa, 04 Agustus 2015

Umar Bin Khattab : Suatu Negeri akan Hancur Jika Para Pengkhianat Menjadi Petinggi, dan Harta dikuasai oleh Orang-orang Fasik

Kepada para komandan pasukan Umar Radiyallahu Anhu mengatakan : “..Perintahkan manusia agar pergi haji dan barangsiapa yang tidak mampu , maka hajikan dia dari harta Allah..”…
(Dari disertasi DR. Jabirah bin Ahmad Al Haritsi , pada program S3 Ekonomoi Islam Fakultas Syariah dan Studi Keislaman Universitas Ummul Qura Makkah dengan predikat Summa Cumlaude)
~~~~~~~~~~
Umar bin Khatab Radiyallahu Anhu  adalah Khalifah yang berhasil membangun dan meletakkan dasar-dasar ekonomi kokoh berdasarkan keimanan  dan Tauhid kepada Allah Subhana wa Ta’ala. Beliau adalah orang yang terakhir kali bisa makan dan beristirahat setelah yakin  penduduk sudah  terjamin kesejahteraannya. Beliau  sangat zuhud terhadap keduniawiaan dan itu diberlakukannya pada keluarganya. Umar Radiyallahu anhu sangat terkenal dengan pengawasan terhadap rakyatnya dan ketegasannya terhadap orang-orang yang melakukan penyimpangan, khususnya apabila orang yang melakukan penyimpangan itu adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan umum seperti Gubernur, hakim, pemungut zakat.
Dalam masa sekarang ini dimana negara-negara di dunia terbagi menjadi negara kapitalis, negara sosialis dan lain-lain sesuai dasar sistem ekonomi yang diikuti oleh setiap negara.  Ini menunjukkan begitu kuatnya hubungan antara politik dan ekonomi yang saling mempengaruhi secara timbal balik. Umar Radiyallahu anhu menjelasakan bahwa kerusakan sistem pemerintahan dan dikuasainya berbagai urusan oleh orang-orang yang fasik merupakan sebab kehancuran pilar-pilar umat; dimana beliau mengatakan,” Suatu negeri akan hancur meskipun dia makmur.” Mereka berkata,” Bagaimana suatu negeri hancur sedangkan dia makmur?” Ia menjawab ,” Jika orang-orang yang penghianat menjadi petinggi dan harta dikuasai oleh orang-orang yang fasik.”
Sesungguhnya ekonomi kontemporer mengakui sebab-sebab yang menghancurkan terhadap kerusakan ekonomi dan bahwasanya itu merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap usaha pengembangan ekonomi khususnya di negara-negara berkembang).
Oleh karena itu , Umar R.a berupaya keras dalam mewujudkan sistem pemerintahan yang baik. Bahkan seringkali beliau bertanya kepada sebahagian sahabatnya agar mereka mengemukakan pendapat mereka untuk mengetahui faktor-faktor kebaikan. Contohnya kepada Muadz bin Jabal ,” Apakah pilar perkara ini ya Muadz?’ Ia berkata,”Islam, karena dia adalah  fitrah; ikhlas , karena dia adalah substansi agama, dan ketaatan karena dia adalah perlindungan.
Dari fikih Ekonomi Umar r.a. semasa pemerintahannya ,ada beberapa point yang menyebutkan kriteria sistem pemerintahan yang baik yaitu :
  1. Pemerintah melaksanakan tugasnya nya yang terpenting yaitu menjaga agama dengan cara menetapkan hukum-hukumnya dan berjihad melawan musuh, menjaga harta kaum muslimin yaitu dengan mengumpulkan dan membagikannya sesuai syariah, menegakkan keadilan dengan meralisasikan kemanan dan ketentraman , berupaya mewujudkan kesejahteraan ummat dengan memperhatikan orang-orang  yang membutuhkan
  2. Melibatkan ummat dengan cara musyawarah ataupun memberikan andil ummat kepada pengawasan terhadap jalannya pemerintah dengan cara menasehati dan meluruskannnya
  3. Ada hak ummat menuntut pemerintah jika pemerintah mengabaikan pelaksanaan apa yang menjadi hak-hak ummat. Dalam hal ini Umar sangat peduli untuk mengetahui pendapat umum dan ia bertanya kepada Malik , sahabat dekatnya di rumah seraya mengatakan ,” wahai Malik , bagaimana keadaaan manusia?” ia menjawab “ Manusia dalam keadaan baik .”. Lalu Umar bertanya lagi “Apakah kamu mendengar sesuatu ?” Malik menjawab “ Aku tidak mendengar melainkan kebaikan”Pertanyaan ini berulang sampai tiga kali. Maka Malik berkata padanya pada hari ketiga”Apa yang kamu khawatirkan dari manusia?” Umar menjawab” Bagaimana kamu ini Malik! Aku khawatir jika Umar mengabaikan sebagian hak kaum muslimin lalu mereka datang kepadanya dengan bendera dan menanyakan hak mereka ?” Dan diantara nasehat Umar kepada para gubernurnya adalah “ Janganlah kamu memukul kaum muslimin, karena dengan itu kamu menistakan mereka. Dan janganlah kamu menghalangi hak mereka, karena dengan itu kamu menjadikan mereka untuk mendurhakai kamu..
  4. Adanya Kestabilan yang tidak mengakibatkan kepada pergolakan dan kegoncangan. Kestabilan politik disini adalah dengan mengharamkan seorang muslim mendurhakai pemimpinnya.
  5. Pengembangan ekonomi ini menuntut adanya sistem manajemen yang memudahkan lajunya roda pengembangan dan menghilangkan rintangan dari jalannya, dimana sebagian bentuk manajemen dan sistem pengawasan yang terdapat dalam fikih ekonomi Umar r.a adalah sbb :
a.Hisbah dan pengawasan pasar
b. Pengawasan harta
c. Pengawasan kerja dan pengaturannya
d. Perlindungan lingkungan
Menurut Fiqih ekonomi tersebut ,bahwasanya ada korelasi antara pengembangan ekonomi dalam kacamata Islam dengan terwujudnya suatu lingkungan yang islami dalam segala aspek kehidupan. Dan dari dua diantara lima pilar-pilar pengembanganan ekonomi ( sebagaimana dikemukakan dalam disertasi Dr Jaribah bin Ahmad dari tesisnya yang membahas mengenai itu) adalah  
  1. Kesalehan ummat
Sesungguhnya kesalahehan ummat adalah dengan mengimani Islam sebagai akidah dan syariah dan pengaplikasiannya dalam segala aspek kehidupan.
Ketika seorang muslim meyakini bahwa dia sebagai Khalifah di bumi, ini akan mendorongnya melakukan pengembangan ekonomi karena ini merupakan hak dan sarana ummat. Dan jika ini dilakukakannya sepenuh hati karena Allah (ikhlas) maka akan menjadi ibadahnya dihadapan Allah Ta’ala.
Disisi lain , ketaatan dan kemaksiatan juga berdampak dalam kehidupan ekono mi umat, dimana ketaatan akan menjadi sebab diperolehnya keberkahan dalamn segala sesuatu, sedangkan kemaksiatan berakibat tercerabutnya keberkahan dari segala sesuatu . Allah berfirman dalam QS al A’Raf : 96
“ jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan  bumi, tetapi mereka mendustakan( ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya..”
Umar Radiyallahu anhu mengegaskan dalam pernyataannya ;”… Sesungguhnya dunia adalah kesenangan yang menawan, maka barang siapa mengambilnya dengan cara ayang benar, dia akan mendapatkan keberkahan di dalamnya, dan barang siapa mengambilnya dengan cara tidak benar maka dia seperti orang yang makan dan tidak pernah kenyang.
 2. Kebaikan sistem
Pemerintah adalah perangkat politik dan apa yang muncul darinya terkait  sistem pemerintah. Sebab dengan kebaikan perangkat politik, konsistensi pemahaman politik bagi individu dan kebaikan hubungan antara rakyat dan pemerintah, maka akan meletakkan laju pesatnya pengembangan ekonomi pada jalan yang semestinya.
Contoh sikap Umar sebagai pejabat negara dapat dilihat dari perkataaan antara lain tehadap para gubernurnya “ Sesungguhnya aku tidak menguasakan kepadamu atas urusan arah, harga diri serta harta kaum muslimin, namun aku mengutus kamu untuk menegakkan shalat, membagi fai’ mereka dan menetapkan hukum dengan Adil.
Kepada para komandan pasukan Umar Radiyallahu Anhu mengatakan : “..Perintahkan manusia agar pergi haji dan barangsiapa yang tidak mampu , maka hajikan dia dari harta Allah..”
Perkataan Umar, ” Sungguh aku sangat berupaya agar tidak melihat kebutuhan manusia melainkan aku penuhinya, selama sebagian kita terdapat keleluasaan atas sebagaian yang lain. Tapi jika demikian itu tidak dapat dilakukan, maka kita memberi contoh dalam kehidupan kita sehingga kita sama dalam kecukupan”
Dalam fikih ekonomi Umar radiyallahu anhu kita dapatkan bahwasanya politik ekonomi dijalankan oleh pemerintah merupakan tolok ukur terpenting tentang baik atau tidaknya sistem pemerintah, sekaligus merupakan karekteristik sistem pemerintah itu. Sebagai bukti hal itu bahwa Umar Radiyallahu anhu mengatakan”’ demi Allah.., aku tidak mengerti apakah aku khalifah atau seorang raja. Jika aku Raja maka demikian itu adalah perkara besar!”   Maka seorang berkata,” Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya diantara keduanya terdapat perbedaan.” Ia berkata,” Apakah itu ? Ia menjawab, ’Khalifah tidak mengambil melainkan dengan cara yang benar dan tidak meletakkannya melainkan dalam kebenaran dan Anda alhamdulillah seperti demikian itu.. Sedangkan raja adalah menindas manusia, lalu dia mengambil dari ini dan memberi yang ini.” Maka Umar pun diam. (Lr)

Aktivis Aceh Lintas Generasi Bakal Bertemu, Ada Apa?

BANDA ACEH – Para aktivis Aceh dari lintas generasi akan menggelar silaturahmi akbar di Hobbies Cafe, Jalan Prof. Ali Hasjimi No.8, Lamteh, Banda Aceh, Sabtu 8 Agustus 2015, Mulai pukul 19.30 WIB.
Acara yang diberi Tema “Silaturahmi Aktivis Aceh Bersatu Membangun Aceh” tersebut turut melibatkan ratusan aktivis Aceh yang kini berada di berbagai lembaga sosial, politik, Pemerintahan, dan kampus.
“Acara ini milik kita semua, kita tetap sama dan harus sama-sama membangun Aceh,” kata Ari Maulana, salah seorang Inisiator Silaturahmi Aceh Lintas Generasi di Banda Aceh, Senin 3 Agustus 2015.
Inisiator kegiatan ini selain Ari Maulana, adalah Muhammad MTA, T. Banta Syahrial, dan Iqbal Farabi. Sementara ikut mengundang tertara puluhan nama antara lain Kautsar Muhammad Yus, Aguswandi, Thamren Ananda, Taufik Abda, Cut Farah Meutia, Suraya Kamaruzaman, Hendra Budian, dan lain-lain.
Untuk informasi kegaiatan tersebut, Ari menyebutkan para undangan dapat menghubungi langsung ke nomor handphone 081372484383.

Senin, 03 Agustus 2015

INI DIA 10 NEGARA TERMISKIN DI DUNIA

Ternyata negara-negara di Benua Afrika masih mendominasi sepuluh negara termiskin di dunia. Berikut ini adalah daftar 10 negara termiskin di dunia, dimulai dari peringkat pertama diduduki oleh Republik Kongo, dan di posisi sepuluh ditempati oleh Republik Mozambik.

1. Republik Kongo – $300 (GDP Per Kapita)
Negara ini dulunya dikenal dengan nama Zaire (sejak tahun 1971 hingga 1997). Negara yang menggunakan bahasa Prancis sebagai bahasa resminya ini kondisinya porak-poranda oleh perang. Perang Kongo kedua pecah pada tahun 1998. Perang yang melibatkan setidaknya tujuh tentara negara asing ini adalah konflik paling mematikan di dunia sejak Perang Dunia II yang telah menewaskan 5.400.000 orang. Di Afrika, perang ini disebut sebagai Perang Dunia Afrika. Pada tahun 2010, diperkirakan setidaknya 45.000 orang di Kongo tewas setiap bulannya.
Republik Kongo juga dikenal sebagai salah satu tempat terakhir di bumi yang memiliki suku kanibal. Memakan manusia adalah cara untuk bertahan hidup dalam kelaparan yang mempengaruhi sekitar 67% dari populasi. Kongo juga diyakini sebagai tempat terburuk di dunia bagi para wanita, karena ia memiliki tingkat pemerkosaan paling tinggi dalam setahun. Warga setempat percaya bahwa "tidur" dengan seorang gadis perawan akan menyembuhkan AIDS.

2. Burundi – $300 (GDP Per Kapita)
Perang antarsuku menjadi pemandangan yang selalu dapat dijumpai di sini. Burundi sangat miskin dikarenakan negara tersebut tidak pernah benar-benar punya waktu untuk menghentikan perang sipil yang abadi. Korupsi, akses masyarakat miskin terhadap pendidikan, dan persentase yang tinggi dari HIV dan AIDS adalah semua hal yang dikenal mengenai Burundi.
Sekitar 80% dari penduduknya hidup dalam garis kemiskinan. Menurut Program Pangan Dunia, 57% dari anak di bawah lima tahun menderita kekurangan gizi kronis. 93% dari pendapatan Burundi berasal dari penjualan ekspor kopi. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di 178 negara, penduduk Burundi memiliki kepuasan hidup terendah di dunia dan hampir seluruhnya hidup bergantung pada bantuan asing.

3. Liberia – $500 (GDP Per Kapita)
Liberia adalah salah satu dari sedikit negara di Afrika yang belum pernah dijajah oleh bangsa Eropa. Sebaliknya, Liberia didirikan dan dijajah oleh para budak yang melarikan diri dari Amerika. Budak ini terdiri elite negara dan mereka mendirikan pemerintahan yang mirip dengan Amerika Serikat.
Pada tahun 1980, presiden Liberia digulingkan dan diikuti periode perang sipil. Setelah memakan korban ratusan ribu orang, Liberia berada dalam krisis ekonomi yang mendalam. Statistik menunjukkan bahwa sekitar 90% dari penduduk hidup di bawah penghasilan $1,25 /hari. Sebagai salah satu dari tiga negara termiskin di dunia, Liberia memiliki tingkat pengangguran yang mencapai angka 85%.

4. Somalia – $600 (GDP Per Kapita)
Tidak seperti kebanyakan negara Afrika lainnya, Somalia belum pernah secara resmi dijajah oleh negara manapun. Upaya Kerajaan Inggris untuk membangun koloni di sana berhasil dihalau. Sementara Somalia yang terletak di Afrika Timur itu memiliki hubungan dekat dengan dunia Arab karena menjadi salah satu anggota Liga Arab. Mungkin, karena berlatar belakang Islam, Somalia memiliki salah satu tingkat penderita HIV dan infeksi AIDS terendah. Somalia menjalin persahabatan dengan Uni Soviet untuk membangun militer terbesar di Afrika. Namun sayangnya, hal itu terbukti tidak efektif untuk menahan perang sipil yang pecah pada tahun 1991.
Dalam beberapa tahun terakhir, orang-orang miskin di Somalia telah menemukan cara baru untuk mendapatkan uang. Hal tersebut tak lain dengan cara pembajakan kapal internasional dan mengambil kru dan kargo sebagai sandera. Pembajakan di Somalia telah menjadi begitu umum. Ketika anak-anak muda tumbuh dewasa, mereka ingin menjadi bajak laut karena di situlah uang berada. Perusahaan internasional diwajibkan membayar uang tebusan kepada bajak laut antara 1–20 juta dolar hanya untuk mendapatkan kapal kembali. Bahkan tebusan untuk sebuah kapal tanker yang mengangkut minyak dapat senilai seratus juta dolar.
Beberapa bulan yang lalu, kapal berbendera Indonesia menjadi salah satu korban pembajakan yang dilakukan oleh bajak laut Somalia. Namun, kapal tersebut akhirnya dilepaskan setelah pemerintah bersedia membayar uang tebusan kepada mereka.

5. Guinea-Bissau – $600 (GDP Per Kapita)
Sebagai salah satu negara dengan GDP per kapita terendah, lebih dari dua-pertiga penduduk Guinea-Bissau hidup di bawah garis kemiskinan. Perekonomian terutama bergantung pada pertanian, perikanan, kacang mete, dan kacang tanah sebagai ekspor utama. Suatu periode panjang ketidakstabilan politik telah menyebabkan aktivitas ekonomi tertekan, memburuknya kondisi sosial, dan meningkatkan ketidakseimbangan makro-ekonomi.
Setelah beberapa tahun berlalu, tepatnya pada tahun 1997, Guinea-Bissau memasuki sistem moneter CFA Franc. Namun, kemerosotan ekonomi dan ketidakstabilan politik telah menyebabkan instabilitas moneter internal. Perang sipil yang terjadi pada tahun 1998 dan 1999 serta kudeta militer pada bulan September 2003 kembali mengganggu kegiatan ekonomi.
Sejak sekitar tahun 2005, para pengedar narkoba yang berbasis di Amerika Latin mulai menggunakan Guinea-Bissau, bersama dengan beberapa negara tetangga Afrika Barat, sebagai titik transshipment untuk pengedaran kokain ke Eropa.

6. Nigeria – $700 (GDP per kapita)
Di negara yang beribu kota Niamey ini, lebih dari 80% lanskapnya tertutup oleh luasnya gurun sahara. Sementara di sekitar sungai Niger, savana banyak dijumpai. Lebih dari 5000 tahun yang lalu, lahan tersebut sebenarnya ditutupi dengan padang rumput yang subur. Namun, perubahan telah terjadi di 2000 tahun terakhir.
Luas negara ini dua kali ukuran Prancis. Namun, dari 10.000 km panjang jalan raya yang dimiliki, kurang dari 800 km yang diaspal. Semua jalan beraspal berada di dalam kota. Tidak ada jalan beraspal yang menghubungkan kota satu dengan kota lainnya. Nigeria adalah eksportir uranium terbesar di dunia. Sama seperti negara-negara miskin lainnya, hanya sekitar 1 dari 4 orang yang pernah mengenyam bangku pendidikan. Alutsista negara Nigeria juga sangat minim, di mana negara ini hanya memiliki sekitar 12.000 tentara dan 4 pesawat terbang!

7. Eritrea – $700 (GDP Per Kapita)
Lokasi Eritrea memberinya keuntungan mengendalikan rute laut melalui Terusan Suez. Inilah sebabnya mengapa Italia mendirikan koloninya hanya setahun setelah pembukaan kanal pada tahun 1869 dan mengapa pula Inggris menaklukkannya pada tahun 1941. Eritrea ialah negara yang dituduh oleh Amerika Serikat karena diduga memiliki hubungan dengan teroris.
Pada tahun 2009, Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, menuduh Eritrea memasok senjata kepada kelompok militan As Shabab Somalia yang diyakini memiliki hubungan dengan Al-Qaeda.
Dalam sejarah, diketahui bahwa Fir'aun Mesir banyak mendatangkan gajah dari negara ini sebagai salah satu unit perangnya. Namun, akhir-akhir ini, populasi gajah di sana sudah hampir punah. Selama 1955 hingga 2001, tidak ada gajah yang terlihat. Diyakini bahwa hewan tersebut hampir punah karena menjadi salah satu korban perang yang sedang berlangsung di Eritrea. Sebagai tambahan informasi, di negara ini hanya memiliki 824 sekolah dan dua universitas.

8. Republik Afrika Tengah – $700 (GDP Per Kapita)
Di negara yang beribu kota Bangui ini, kesejahteraan penduduk sepenuhnya bergantung pada bantuan luar negeri dan berbagai organisasi nirlaba. Seperti kebanyakan negara-negara miskin lainnya, masalah gizi buruk dan kelaparan menjadi salah satu persoalan yang dihadapi.
Banyaknya pemilik lahan yang menjual hasil panennya ke luar negeri menjadi salah satu faktor mengapa negara ini kekurangan pangan. Di tahun 2006, ketika terjadi pemberontakan hebat di negeri ini, sekitar 5000 orang mati karena kelaparan.

9. Afghanistan – $800 (GDP Per Kapita)
Afghanistan adalah sebuah negara yang relatif miskin, sangat bergantung pada pertanian dan peternakan. Ekonominya melemah akibat kerusuhan politik dan militer terkini, ditambah kemarau panjang yang menjadi sumber kesulitan bangsa sejak 1998. Sebagian penduduk mengalami krisis pangan, sandang, papan, dan minimnya perawatan kesehatan. Kondisi ini diperburuk oleh operasi militer dan ketidakpastian politik yang membelit negara tersebut. Sementara itu, laju inflasi juga menyisakan banyak masalah bagi rakyat di sana.
Lebih dari 70% penduduk Afganistan hidup dari penghasilan yang berkisar kurang dari $2 per harinya. Perekonomian Afghanistan yang porak-poranda oleh perang tetap bergantung pada poppy. Negara ini ialah penghasil opium (karet kering yang disarikan dari sari biji opium) terkemuka di dunia. Sebagai tambahan, opium adalah bahan dasar pembuatan heroin.

10. Mozambik – $900 (GDP Per Kapita)
Republik Mozambik adalah sebuah negara di Afrika bagian selatan yang berbatasan dengan Afrika Selatan, Swaziland, Tanzania, Malawi, Zambia, dan Zimbabwe. Mozambik merupakan anggota Komunitas Negara-Negara Berbahasa Portugis dan Persemakmuran. Ibu kota sekaligus kota terbesarnya adalah Maputo yang terletak di penghujung bagian selatan.
Menurut data IMF, antara tahun 1994–2006, rata-rata pertumbuhan GDP tahunan negara tersebut sekitar 8%. Walaupun demikian, Mozambik tetap menjadi salah satu negara termiskin dan paling terbelakang di dunia. Kondisi perekonomian negara ini semakin diperparah dengan berbagai macam problematika hidup penduduknya, seperti pecahnya perang saudara hingga gizi buruk yang banyak menimpa anak-anak.

zelapurnama dot blogspot dot com

Rabu, 15 Juli 2015

Asal Usul Tradisi Makmeugang di Aceh

Indonesia tidak hanya dikenal dengan tanahnya yang subur akan tetapi indonesia memiliki kekayaan Tradisi dan budaya yang luar biasa unik dan beraneka ragam. Salah satu tradisi yang belakangan ini hangat diperbicangkan terdapat di Provinsi Aceh.
Tradisi warisan nenek moyang itu disebut makmeugang atau meugang, yaitu pergi ke pasar untuk membeli daging, kemudian dimasak dan dimakan bersama keluarga. Tradisi tersebut digelar untuk menyambut Hari raya Idul Fitri, Hari raya Idul Adha, dan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Tradisi makmeugang tergolong sangat unik dan langka, karena tradisi ini  tidak ditemukan di daerah lain di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. sehingga timbul berbagai tanda tanya dan kontrofersi dari kalangan tertentu di luar Aceh tentang asal usul makmeugang tersebut. semisal ada banyak orang di luar sana yang berasumsi jelek terhadap tradisimakmeugang, Ada juga yang menganggap tradisi makmeugang itu ide gila. Bahkan ada yang mengklaim orang Aceh jarang makan daging, Benarkah? Mari kita telusuri Asal usulnya.
Sejarah Makmeugang
Dari berbagai sumber sejarah, disebutkan bahwa Makmeugang pertama kali muncul pada abad ke 14 masehi yaitu seiring pengembangan ajaran islam di Aceh, namun tradisi tersebut diperkirakan tidak meluas ke seluruh Aceh, kemudian pada abad  ke-16 Masehi, Yakni pada masa kejayaan Sultan Iskandar Muda memimpin Kerajaan Aceh Darussalam (tahun 1607 M). ide makmeugang itu dicetuskan oleh Sultan iskandar muda agar supaya digelar secara merata oleh  seluruh masyarakat Aceh.
Saat itu Istilah makmeugang dicantumkan dalam Qanun Meukuta Alam, yakni Undang-Undang yang berlaku pada masa Kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam di bawah Pemerintahan Sultan Iskandar Muda.
Pada hari makmeugang, Sultan dan pembesar kerajaan selalu memotong hewan dalam jumlah banyak, kemudian dagingnya dibagi-bagikan secara gratis kepada rakyat, sebagai sedekah dan bentuk rasa syukur atas kemakmuran kerajaan sekaligus wujud terima kasih untuk rakyatnya dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan dengan hati gembira bersama sang Raja dan Pembesar kerajaan.
Keberhasilan Sultan Iskandar muda dalam menerapkan sistem politik pemerintahan, kemasyarakatan, ekonomi,maupun sosial serta perannya dalam segala hal termasuk dalam dunia internasional tak luput dari dasar pondasi Tradisi dan budaya serta Agama yang kuat dan  tangguh yang menjadi acuan dan rujukan. Ketangguhan pemerintahannya saat itu dilatar belakangi kemampuannya membangun suatu kultur dan struktur tatanan masyarakat Aceh menjadi salah satu segmen peradaban manusia (Civilization of human right). Yang tersimpul dalam nilai-nilai filosofi Narit maja (Hadih madja). Narit maja inilah yang menjadi pijakan kreasi tradisi dan budaya yang dikenal dengan motto : Adat ngon hukom (hukum Agama), Lagei zat ngon sifeut. Yang stuktur implimentasinya disimpulkan dalam “Adat bak poe teumeuruhom, Hukom bak syiah kuala, Kanun bak putroe phang, Reusam bak laksamana”. yang kemudian dijadikan sebagai way of life (landasan filosofis).
Selanjutnya Pada tanggal 27-12-1636 Masehi, Sultan Iskandar muda Yang dikenal gagah,adil dan bijaksana meninggal dunia, Kerajaan dipimpin oleh Raja setelahnya, tak lama kemudian Aceh dijajah oleh Belanda, sehingga kerajaan menjadi bangkrut. Lalu rakyatlah yang  berpartisipasi memotong sapi atau kerbau pada hari makmeugang. Tradisi makmeugang tetap dipertahankan oleh masyarakat Aceh ketika peperangan hingga sekarang,meskipun kemajuan zaman sudah begitu canggih. “Bahkan walau berada di belahan negara manapun, orang yang berdarah Aceh Asli pasti  akan melaksanakan tradisimakmeugag tersebut.
Manfaat Makmeugang
Selain tradisi makmeugang, di Aceh juga banyak tradisi-tradisi daging lainnya yaitu kenduri laut, kenduri blang, kenduri pesta perkawinan,peusijuek,peu troen aneuk dan lain-lain, yang tentunya sangat bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama anak yatim dan fakir miskin. Bicara soal kemiskinan tak hanya di alami oleh masyarakat Aceh, dan Tak dapat dipungkiri bahwa Hampir di setiap negara di seluruh dunia  tentunya terdapat masyarakat miskin, malah di negara tertentu terdapat masyarakat miskin yang mengindap  penyakit akibat kekurangan gizi.  dan hal tersebut diharapkan tidak pernah menimpa masyarakat miskin di Aceh.
Pada hari makmeugang,jika ada warga miskin yang tidak sanggup membeli daging, biasanya daging akan diberikan oleh tetangga atau orang kaya. Bahkan pemerintah dan pejabat militer di Aceh akan berpartisipasi dalam membagi-bagikan Daging gratis sekaligus menyantuni anak yatim dan fakir miskin pada hari makmeugang tersebut.
Faidah lain yang terkandung dalam pelaksanaan tradisi makmeugang yaitu terjadinya interaksi sosial antara Pemerintah dan masyarakat saat membagikan daging untuk warga miskin,  Selain itu, terjadinya silaturrahmi dan kebersamaan sesama warga atau anggota keluarga. Karena biasanya warga yang merantau ke luar kota, akan pulang kampung untuk menikmati daging makmeugang bersama keluarga, sehingga terjadilah silaturrahmi.
Pada hari itu juga mendorong tumbuhnya ekonomi rakyat, karena pada hari makmeugang akan terjadi transaksi jual beli dalam jumlah besar. Selain jual beli daging, berbagai kebutuhan dapur laku keras pada hari itu.
Memiliki Nilai Religius
Tradisi makmeugang di Aceh senarnya memiliki nilai religius, hal ini dikarenakan makmeugang selalu digelar pada waktu-waktu yang dianggap suci bagi umat Islam,misalnya seperti menyambut bulan suci ramadan, dimana masyarakat Aceh akan mencurahkan segala kegembiraannya dalam menyambut bulan suci ramadan dengan menggelar makmeugang.
Tentusaja nenek moyang orang Aceh terdahulu berpedoman pada Hadis Nabi Muhammad saw  berikut ini :
“Barangsiapa merasa gembira dengan datangnya bulan Ramadan, Maka Allah mengharamkan badan orang itu masuk neraka”.
Tradisi makmeugang juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah memberi rezeki,sehingga para dermawan  akan membagi-bagikannya untuk fakir miskin pada hari makmeugang.­­­
Ketika Wali kota Lhokseumawe Pak Suhaidi Yahya mengguncang dunia Maya dengan larangan Wanita duduk ngangkang di atas sepeda motor, pada suatu diskusi disalah satu Radio di kota lhokseumawe, beliau mengungkapkan sebagai berikut “Setiap suku bangsa diseluruh dunia memiliki tradisi dan budaya yang berbeda,, ketika tradisi dan budaya suatu bangsa hilang, maka hilanglah jati diri bangsa tersebut­­­­­­­­­.
Dari sedikit uraian diatas Setidaknya dapat kita pahami bahwa bangsa indonesia, khususnya masyarakat Aceh perlu mempertahankan tradisi dan budaya yang ada. Mengigat tradisi dan budaya merupakan bagian dari kekayaan negara (heritange). yang tentunya tidak dimiliki kesamaannya oleh negara lain.
Oleh karenanya “Mari sama-sama kita memperkenalkan asal usul tradisi dan budaya pada generasi kita, sehingga nantinya anak cucu kita tetap menghargai dan memelihara tradisi-tradisi dan budaya yang ada di tanah air yang kita cintai ini. Wallahu’alam bi al-shawab.
Selamat Menyambut Hari Raya idul fittri 1436 H.  Mohon maaf lahir batin.

HIDUP ADALAH ANUGERAH BAGI JIWA YANG IKHLAS

Yang tinggal di gunung merindukan pantai.
Yang tinggal di pantai merindukan gunung.
Di musim kemarau merindukan musim hujan.
Di musim hujan merindukan musim kemarau.
Yang berambut hitam mengagumi yang pirang.
Yang berambut pirang mengagumi yang hitam.
Diam di rumah merindukan bepergian.
Setelah bepergian merindukan rumah.
Ketika masih jadi karyawan ingin jadi Entrepreneur supaya punya time freedom…
Begitu jadi Entrepreneur ingin jadi karyawan, biar tdk pusing…
Waktu tenang mencari keramaian.
Waktu ramai mencari ketenangan.
Saat masih bujangan, ingin punya suami ganteng/istri cantik.
Begitu sudah dapat suami ganteng/istri cantik, ingin yang biasa2 saja, bikin cemburu aja/ takut selingkuh..
Punya anak satu mendambakan banyak anak.
Punya banyak anak mendambakan satu anak saja.
Kita tidak pernah bahagia sebab segala sesuatu tampak indah hanya sebelum dimiliki.
Namun setelah dimiliki tak indah lagi.
Kapankah kebahagiaan akan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, namun mengabaikan apa yang sudah dimiliki tanpa rasa syukur ?
"Semoga kita jd pribadi yang selalu bersyukur..Yg senantiasa bersyukur dngn berkah yg sudah kita miliki"
"Bagaimana mungkin selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini?
Jangankan bumi, menutupi telapak tangan saja sulit.
Namun bila daun kecil ini menempel di mata kita, maka tertutupilah bumi!"
Begitu juga bila hati ditutupi pikiran buruk sekecil apapun maka kita akan melihat keburukan di mana-mana. Bumi ini pun akan tampak buruk.
Jangan menutupi hati kita.
Bila hati kita tertutup, tertutuplah semua…
Syukuri apa yg ada, karena hidup adalah anugerah bagi jiwa-jiwa yg ikhlas.
Keep Spirit !


Aceh Kembali Jaya, Jika Dikembalikan ke Tangan Ulama”

Alumni Dayah Darul Ulum Tanoh Mirah, Kabupaten Bireuen, Teungku Muhammad Nur, mengatakan Aceh akan kembali jaya jika dikembalikan ke tangan ulama.
“Dayah sejak dahulu memang memiliki peran penting terhadap Aceh. Sejarah telah membuktikan bagaimana peran ulama Aceh sejak masa kerajaan.
Namun sejak Belanda masuk, Aceh dipisahkan dari dayah. Seolah-olah teungku dayah dan ulama hanya harus memikirkan akhirat, dan itu siasat Snock Hurgronje, yang masih dikembangkan hingga kini,” kata Teungku Muhammad Nur.
Contoh positifnya, kata Teungku Muhammad Nur, saat kepemimpinan Aceh diserahkan ke Teungku Daud Beureueh. Posisi Teungku Daud Beureueh saat itu adalah ulama kharismatik Aceh.
“Jadi bukan tak mungkin Aceh dipimpin oleh ulama. Sudah saatnya ulama kembali berkiprah dan menjadikan Aceh betul-betul sebagai serambi mekkah,” katanya.
Teungku Muhammad Nur juga mengaku mendukung wacana pendamping Mualem berasal dari ulama dayah Aceh.
“Semua sepakat bahwa Mualem memiliki peluang menang untuk pilkada 2017. Oleh karena itu, wakilnya harus dari dayah. Siapa orangnya? Itu bisa diputuskan dalam pertemuan ulama Aceh. Siapapun yang ditunjuk, itulah yang terbaik,” ujarnya.

Hari Raya Dalam Sarakata Sultan Iskandar Muda

Hari raya di Aceh zaman dahulu adalah hari bagi bagi para pembersar memberi karunia kepada rakyatnya. Tingkat pemberian sesuai dengan pangkat dan jabatan. Yang besar member untuk yang kecil sebagai wujud ucapan selamat berhari raya.
Raja Aceh yang paling kesohor, Sultan Iskandar Muda malah membuat peraturan (sarakata) khusus tentang perayaan hari raya. Peraturan tersebut dinamai Sarakata Poteumeureuhom Meukuta Alam Iskandar Muda.
Prof. Dr H Aboebakar Atjeh dalam makalah Wajah Rakyat Aceh Dalam Lintasan Sejarah pada Seminar Pekan Kebudayaan Aceh kedua di Banda Aceh, 20 Agustus – 2 September 1972 menyertakan lampiran sarakata tersebut. Ia menjelaskan bahwa salinan Sarakata Sulthan Iskandar Muda diambil dari buku “De Inrichting Van Het Atjeshe Staatbestuur onder het Sultanaan” karangan KFH Van Langen.
Pada pendahuluan buku itu Van Langen menjelaskan baik sarakata Adat Meukuta Alam didapatnya pada waktu menyerang Masjid Indrapuri tahun 1879 dalam kitab-kitab yang telah ditinggalkan orang Aceh. Dokumen-dokumen aslinya tertulis dalam akasara Arab.
 
 
Khusus terkait dengan perayaan hari raya, ada sarakata khusus yang berjudul Peraturan Hari Besar Sulthan Aceh Memberi Karunia dan Kehormatan Kepada Uleebalang dan Rakyatnya. Ada 12 pasal dalam peraturan ini. Pada pasal 5 dijelaskan,  jikalau hari raya pitrah (idulfitri-red) dipasang meriam 21 kali pada pukul lima pagi-pagi awal dari satu hari bulan syawal.
Pada pagi-pagi hari raya pertama, baik idul fitri maupun idul adha, raja berangkat ke Mesjid Raya untuk sembahyang hari raya bersama dengan uleebalang yang ada dan rakyat sekalian dalam negerinya. (pasal 12).
Kemudian dalam pasal 7 dilanjutkan bahwa pada hari raya pertama usai shalat ied,
panglima sagi dan uleebalang dalam sagi berkumpul meusapat di Masjid Raya mesjoearat (musyawarah-red) menentukan hari menghadap raja.
Dalam pasal 8 diterangkat bahwa hari menghadap raya itu adalah hari raya ketiga. Karena pada hari raya pertama dan kedua para uleebalang dan panglima sagi harus melayani rakyat di daerah pemerintahan masing-masing yang berkunjung ke rumahnya (open house).
Pada pagi-pagi hari ketiga bulan syawal, panglima sagi dan uleebalang menghadap raja di atas balai Baiturrahman. Saat itulah raja member karunia (hadiah) kepada mereka. Dalam pasal 9 ditulis, “Maka panglima sagi dan ulebalang dalam sagi yang menghadap raja itu mendapat salinan pada satu orang iaitu satu lembar kain dikaruniai oleh raja tanda selamat hari raja.”
Hadiah yang diberikan raja tersebut menurut kesukaan raja dan sesuai dengan pangkat orang yang menghadapkan. Pemberian kepada uleebalang dan panglima sagi berbeda dengan pemberian kepada rakyat biasa. Aturan pemberian hadiah ini sama baik pada hari raya idul fitri maupun hari raya idul adha.[Iskandar Norman]

Kisah Daud Beureueh Dibius

Rumah itu besar, juga megah. Letaknya di sebuah jalan di kawasan Tomang, Jakarta Barat. Pagarnya putih dengan gerbang besi yang selalu mengatup. Halamannya luas dengan bunga yang bermekar-mekar. Di ruang tengah ada televisi besar, tapi jarang dinyalakan, ditemani sebuah radio transistor. Seperti sebuah kuburan besar, rumah itu senyap siang malam.
Penghuninya adalah seorang pria yang sudah uzur yang kesepian. Dialah Teungku Daud Beureueh, tokoh pergerakan kemerdekaan Aceh yang namanya melegenda itu. Abu Daud, begitu ia biasa disapa, “disimpan” di bangunan itu dari tahun 1978 hingga 1982. Tadinya Daud adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.
Pernah pula ia menjadi Gubernur Aceh. Tapi ia lalu merasa disepelekan Jakarta, sewaktu daerah kelahirannya itu dilebur dengan Sumatera Utara pada 1953, dalam periode Perdana Menteri Mohammad Natsir. Penggabungan itu secara tak sopan memecat sang Teungku dari jabatannya-sesuatu yang bukan saja amat menghina Daud Beureueh, tapi juga melukai hati kebanyakan orang Aceh.
Dan luka kian menganga ketika rakyat menganggap para petinggi Tentara Nasional Indonesia yang bertugas di Aceh saat itu berhaluan kekiri-kirian. Republik pun kian terasa jauh dari Serambi Mekah.
Bagi Daud Beureueh, segala kekecewaan itu hanya punya satu jalan keluar: Merdeka. Karena itu, setelah tak lagi menjadi gubernur, dari Banda Aceh ia balik ke Kampung Usi, Kecamatan Beureunen, sekitar 15 kilometer dari Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie.
Sebentar saja ia telah menghimpun kekuatan, lalu memimpin perlawanan gerilya melawan serdadu Indonesia. Sembilan tahun ia berjuang habis-habisan di hutan, tapi “jalan keluar” itu tak kunjung dapat dijejakinya. Lelah berperang, pada 1962 ia lalu menerima tawaran damai pemerintah Indonesia, dan turun gunung pada tahun itu juga.
Sebagai imbalan, Jakarta berjanji memberlakukan syariat Islam di Aceh. Dari gunung ia kembali ke kampung, dan menetap di sebuah bilik di samping masjid di desanya. Menjadi imam di situ, pengaruh Daud Beureueh kian dalam merasuk ke hati rakyat.
Profesor Nazaruddin Sjamsuddin, pakar politik yang pernah menulis buku Pemberontakan Kaum Republik: Kasus Darul Islam, punya cerita bagaimana rakyat amat menghormati figur karismatis itu.
Pada 7 Juli 1973, Nazaruddin mewawancarai Daud Beureueh untuk kepentingan studinya. Sedang asyik-asyiknya mereka berbincang, seorang petani lewat naik sepeda. Dia baru pulang dari kebun. Ia mampir sebentar, hanya untuk mencium tangan sang Teungku, lalu memberikan enam biji ketimun yang baru dipetiknya.
Hampir tiap hari Nazaruddin melihat pemandangan itu. Ada saja warga yang datang membawa makanan dan buah-buahan ke rumah itu. Tapi berbagai pendekatan dan pemberian dari Jakarta selalu ditampiknya.
Kesepakatan damai tak kunjung melumerkan kekerasan hatinya terhadap pemerintah pusat. Abu Daud kecewa. Janji tentang syariat Islam ternyata tak pernah dipenuhi. Iming-iming itu baru terealisasi 43 tahun kemudian, melalui Undang-Undang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), yang disahkan pada 2002 silam, 16 tahun setelah Daud Beureueh wafat.
Kekecewaan itulah yang lalu diutarakannya berulang-ulang dalam setiap ceramahnya di masjid-masjid di Aceh maupun Medan.
Ahmad Farhan Hamid, putra Abdul Hamid, teman seperjuangan Daud Beureueh, punya kisah menarik soal ini. Tahun 1976, saat menjadi mahasiswa di Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara, Farhan pernah mengundang Daud Beureueh berceramah di kampus itu. Semula cuma diminta memberi khotbah agama, eh, Abu Daud malah masuk jauh ke wilayah politik.
“Dia juga memaki-maki pemerintah,” kata Farhan.
Memang, dalam setiap ceramahnya, Abu Daud tak henti mengkritik kebijakan pemerintah. Ia merasa pembangunan di Aceh tak pernah bisa melayani kebutuhan masyarakat. Ia menjadi saksi betapa di tanah mereka sendiri, orang Aceh cuma jadi penonton ketika Orde Baru membangun berbagai industri besar di sana.
Pada tahun 1970-an, misalnya, di Aceh Utara didirikan pabrik gas Arun. Tapi mesin industri yang menderu cepat itu hanya membuat rakyat Aceh kian tertinggal. Tak pelak, jurang itu melahirkan kembali perlawanan baru terhadap Jakarta di bawah pimpinan Teungku Muhammad Hasan Tiro.
Hasan Tiro, paham betul bahwa restu Daud Beureueh amatlah penting untuk menopang gerakannya. Itu sebabnya, sekembali dari Amerika Serikat, dua kali ia bertamu ke rumah Abu Daud untuk meminta sokongan.
Menurut Nazaruddin Sjamsuddin, sebagaimana pernah dituturkan langsung Daud Beureueh kepadanya, Hasan Tiro menemui sang Teungku pada akhir 1975, di rumahnya di Beureunuen, Aceh.
Dalam pertemuan itu Hasan Tiro penuh semangat menjelaskan isi dan strategi perjuangannya. Tapi Daud tak peduli dengan segala siasat itu, Ia malah bertanya.
“Apa dasarmu membentuk Aceh merdeka?” Hasan tersentak mendengar pertanyaan itu. Belum lagi dijawab, Daud Beureueh sudah menukas sembari menatap tajam.
“Kalau dasarnya Islam, silakan. Saya mendukung.”
Setelah terdiam sejenak, Hasan Tiro menjawab, “Untuk kesejahteraan masyarakat Aceh. Selama bergabung dengan Republik, Aceh tak mungkin makmur. Jadi, harus berdiri sendiri.”
Bukannya memuji, Daud Beureueh malah geleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.
“Apa dasarmu sebenarnya?” ia kembali bertanya penuh selidik. Kembali, Hasan Tiro tercenung. “Aceh, kata Daud, butuh menjadi Islam, bukan merdeka.”
“Apa nanti pertanggungjawaban kita kepada Allah kalau dasarnya bukan Islam,” kata Nazaruddin mengutip Daud.
Hasan Tiro tak patah arang. Ia terus meyakinkan Daud Beureueh bahwa orang Aceh memang memerlukan kemerdekaan. Setelah sejam mereka bicara, akhirnya Daud mengangguk memberi restu. Hasan Tiro langsung bergerak cepat.
Kemerdekaan Aceh diproklamasikan pada 4 Desember 1976. Jakarta berang dan segera mengirim pasukan. Dalam sekejap pasukan Hasan Tiro terdesak, lalu bergerilya di gunung dan hutan. Namun para petinggi Republik paham betul, roh perlawanan Aceh yang sesungguhnya ada dalam diri Daud Beureueh.
Keputusan pun diambil. Legenda hidup itu harus diceraikan dari gemuruh pemberontakan Hasan Tiro. Sebuah tim khusus lalu dikirim ke Aceh untuk membawa Daud Beureueh ke Jakarta, pada 1 Mei 1978.
Dipimpin oleh Sjafrie Sjamsoeddin-Kepala Dinas Penerangan TNI-para utusan tiba di kediaman Abu Daud tak lama seusai salat subuh.
Dikisahkan Nur Ibrahimy, menantu Daud Beureueh, tim Sjafrie meminta kesediaan sang Teungku untuk ikut bersama mereka ke Jakarta.
“Kami diperintahkan membawa Abu Daud ke Jakarta untuk menjadi saksi di Pengadilan Negeri Surabaya dalam perkara Haji Ismail yang dituding terlibat aksi Komando Jihad,” kata salah seorang anggota rombongan itu.
Peristiwa ini disaksikan langsung Teungku Nya’Aisah, istri ketiga Daud Beureueh. Karena sudah tua, sakit-sakitan pula, Daud Beureueh berkeberatan dibawa ke ibu kota Republik.
Dengan santun ia menjawab, “Maaf, bukannya tidak bersedia, saya ini sudah uzur. Saya mau bersaksi di sini saja.” Tapi tim Sjafrie berkeras.
Masih menurut Nur Ibrahimy, mereka lalu memegangi kaki dan tangan Daud Beureueh. Salah satunya sigap menyuntikkan obat bius. Tapi, karena sang Teungku keras memberontak, jarum suntik pun patah.
“Darah berceceran dan membasahi baju Abu Daud,” kata Nur.
Daud Beureueh yang sudah terkulai lemas lalu dilarikan dengan jip menuju helikopter yang sudah disiagakan. Ia pun dibawa ke Medan, lalu ke Jakarta.
Menurut Nur Ibrahimy, alasan menjadi saksi dalam perkara Komando Jihad itu cuma dalih untuk membawa paksa Abu Daud keluar dari tanah Aceh. Sjafrie Sjamsoeddin mengakui memang dialah yang memimpin tim untuk “mengambil” Daud Beureueh.
“Ya, kami yang menjemput beliau,” ujarnya. Tapi, menurut versi Sjafrie, ketika itu Abu Daud tak sempat melawan, juga tak ada kekerasan berarti, karena obat bius yang disuntikkan cepat bekerja.
Jenderal bekas Panglima Kodam Jaya itu mengungkapkan penjemputan pemimpin karismatik Aceh ini memang dilandasi kekhawatiran bahwa Daud Beureueh akan kembali naik gunung menyokong Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang sedang sengit-sengitnya digelorakan Hasan Tiro.
Saat itu perlawanan gerilya Hasan Tiro memang telah merasuki sebagian rakyat Aceh. Dari hutan, mereka gencar menyerang sejumlah fasilitas pemerintah dan perusahaan asing yang beroperasi di Aceh.
Pada awal 1978, misalnya, pasukan Tiro bahkan berhasil menerobos masuk ke pabrik LNG Arun di Aceh Utara. Serangan itu menewaskan seorang pekerja warga Amerika. Namun, di mata Nur Ibrahimy, ketakutan pemerintah pusat itu kelewat berlebihan.
Menurut dia, Abu Daud tak pernah sepenuhnya menyetujui gerakan kemerdekaan versi Hasan Tiro itu. Sebabnya, “GAM ini bersifat sekuler dan meski kurang Islami.”
Di Jakarta, mulanya Daud Beureueh tinggal di rumah menantunya, Muhammadiyah Haji, di Jalan Tomang, Jakarta Barat. Tapi tak berapa lama kemudian pemerintah lalu mengontrak sebuah rumah, persis di samping kediaman sang menantu. Bangunannya besar, megah, tapi sepi. Di situlah kemudian Abu Daud harus menetap seorang diri. Keperluan ia makan diurus anak dan menantunya.
“Tiap hari saya dan istri bawa makanan ke rumahnya,” kata Nur mengenang. Opor ayam dan ilieh alias belut goreng ala Aceh adalah makanan kesukaan Teungku Daud.
Untunglah, masih ada yang menghibur hatinya. Daud Beureueh selalu berseri-seri saat orang Aceh di Jakarta datang mengunjunginya. Atau juga kala ia berceramah di masjid dan menghadiri acara diskusi, meski dalam lingkup yang sangat terbatas. Di Jakarta, ruang gerak Daud Beureueh jelas tak lagi leluasa. Aparat keamanan terus mengintainya. Pemerintah cemas, siapa tahu di antara tetamu itu menyusup seorang gerilyawan Aceh.
Menurut Nur Ibrahimy, aparat intel, baik dari kepolisian maupun militer, saban hari mengawasi rumah kontrakan di Tomang itu, juga ketat menguntit ke mana pun Daud Beureueh melangkah. Karena itulah, Abu Daud sendiri menyebut kediaman megahnya di Tomang itu sebagai “sangkar emas pemerintah Indonesia”.
Dikungkung begitu, lama-kelamaan tergerogoti juga kesehatan Daud Beureueh. Beberapa kali ia jatuh sakit, dirongrong diabetes dan paru-paru basah. Berkali-kali ia minta pulang ke Aceh. Tapi baru pada 1982, saat kondisi kesehatannya terus merosot, pemerintah mengabulkannya
Di Aceh, ia kembali menempati bilik di samping masjid di kampung kelahirannya. Tapi sakitnya kian parah. Tahun 1985, ia terjatuh dari ranjang. Engsel pinggulnya cedera berat, dan ia tak sanggup lagi berdiri. Walau begitu, semangatnya tak pernah pudar.
Dalam keadaan selalu terbaring di tempat tidur ia tetap menerima tamu dari berbagai kalangan: pejabat pemerintah, mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, atau petani yang sekadar ingin mencium tangannya.
Sikap kritisnya terhadap pemerintah pusat pun tak lumer. Berkali-kali dia mengirim surat ke Presiden Soeharto, mengingatkan kian merebaknya kemerosotan moral di Serambi Mekah. Ia baru menyerah ketika ajal datang menjemput.
Rabu, 10 Juni 1987, Abu Daud menutup mata, dalam usia 89 tahun. Dari Jakarta, Presiden Soeharto mengirim karangan bunga dan kawat khusus duka cita. Jasad Teungku Daud Beureueh, bersama segenap impiannya tentang masa depan Aceh, dimakamkan di bawah pohon mangga di pekarangan Masjid Baitul A’la lil Mujahidin di Beureunuen, sebagaimana yang ia minta. (atjehcyber/tempo 2003/lasdipo)

Biografi Munir, SH (Cak Munir)

Pada 6 September 2004, isterinya Suciwati dan anaknya Soultan Alif Allend melepas Munir menuju Amsterdam (Belanda) untuk melanjutkan studi program master (S2) di Universitas Utrecht, Belanda. Alumni Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini, sekitar pukul 21.55 WIB, naik Garuda Indonesia GA-974 menuju Singapura untuk kemudian transit terbang ke Amsterdam. Tiba di Singapura pukul 00.40 waktu Singapura, kemudian pukul pukul 01.50 waktu Singapura take off menuju Amsterdam.
Menurut sumber Tokoh Indonesia di PT Garuda Indonesia, tiga jam setelah pesawat GA-974 take off dari Singapura, supervisor awak kabin bernama Najib melaporkan kepada pilot Pantun Matondang bahwa seorang penumpang bernama Munir yang duduk di kursi nomor 40 G menderita sakit. Munir bolak balik ke toilet. Pilot meminta Najib terus memonitor kondisi Munir. Munir pun dipindahkan duduk di sebelah seorang penumpang yang kebetulan berprofesi dokter yang juga berusaha menolongnya. Penerbangan menuju Amsterdam menempuh waktu 12 jam. Namun dua jam sebelum mendarat 7 September 2004, pukul 08.10 waktu Amsterdam di bandara Schipol Amsterdam, saat diperiksa, Munir telah meninggal dunia.
Pejuang hak asasi manusia (HAM) itu, pergi untuk selama-lamanya. Bangsa ini kehilangan seorang tokoh muda yang dikenal gigih membela kebenaran sejak Pak Harto masih berkuasa. Kematian pendiri Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), itu pun segera mendapat perhatian amat luas di Indonesia. Banyak SMS dan telepon ke berbagai media menanyakan kebenaran berita duka itu.
Sejumlah orang terkejut dan bersedih. Mereka berdatangan ke rumah almarhum yang tampak sederhana di Jalan Cendana XII No.12 Jakasampurna Permai, Bekasi Barat. Di antaranya, para Aktivis LSM, Munarman (YLBHI), dan Smita Notosusanto (Cetro) serta para keluarga korban pelanggaran HAM Semanggi I-II, Trisakti, Mei 98, dan Tanjung Priok.
Pejuang HAM yang sempat bekerja di sebuah perusahaan persewaan sound system dan menjual alat-alat elktronik itu sejak mahasiswa terkenal keras hati. Sebelum menyelesaikan studinya di FH Universitas Brawidjaja (1990) sudah aktif sebagai sukarelawan LBH Surabaya (1989). Kemudian menjadi anggota LBH dan menjabat Ketua LBH Surabaya Pos Malang (1991). Lalu menjabat Koordinator Divisi Pembunuhan dan Divisi Hak Sipil Politik LBH Surabaya (1992-1993) dan Kepala Bidang Operasional LBH Surabaya (1993-1995.
Sebelum hijrah ke Jakarta menjabat Sekretaris Bidang Operasional YLBHI (1996), dia lebih dulu menjabat Direktur LBH Semarang (1996). Kemudian di YLBHI dia menjabat Wakil Ketua Bidang Operasional (1997) dan Wakil Ketua Dewan Pengurus YLBHI (1998). Sampai kemudian dia mendirikan dan menjabat Koordinator Badan Pekerja Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) (16 April 1998-2001) dan Ketua Dewan Pengurus Kontras (2001).
Saat menjabat Koordinator Kontras namanya melambung sebagai seorang pejuang bagi orang-orang hilang yang diculik pada masa itu. Ketika itu dia membela para Aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Setelah Pak Harto jatuh, penculikan itu menjadi alasan pencopotan Danjen Kopassus (waktu itu) Prabowo Subianto dan diadilinya para anggota tim Mawar.
Dia pun memperoleh The Right Livelihood Award di Swedia (2000) sebuah penghargaan prestisius yang disebut sebagai Nobel alternatif. Sebelumnya, Majalah Asiaweek (Oktober 1999) menobatkannya menjadi salah seorang dari 20 pemimpin politik muda Asia pada milenium baru dan Man of The Year versi majalah Ummat (1998). Ia mendapat hadiah uang dari Yayasan The Right Livelihood Award sebesar Rp 500 juta. Separoh dari hadiah itu diberikan ke Kontras dan sebagian lagi dikirim kepada ibunya di Malang untuk renovasi rumah.
Sementara, kendati namanya sudah mendunia, Munir tetap hidup bersahaja. Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial (2004), ini tinggal di rumah sederhana dan ke mana-mana naik sepeda motor. Sekali waktu motornya pernah dicuri. Padahal ia pun sering mendapat ancaman. Saat membongkar kasus pembunuhan Aktivis buruh Marsinah, ia pun diancam akan dijadikan sosis oleh orang yang mengaku aparat keamanan. Begitu pula ketika dia membongkar kasus penculikan aktivis mahasiswa pada akhir kekuasaan Soeharto. Bahkan rumah ibunya pun (Ny Jamilah, 78) pernah diancam bom. Dia juga pernah diisukan anak Gerwani oleh sebuah majalah. Majalah itu kemudian minta maaf.
Munir merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara. Di kalangan keluarga, teman dekat dan tetangganya, dia dikenal sebagai orang yang memiliki kepedulian sosial. “Sejak mengenyam pendidikan di SD Muhammadiyah di kota kelahirannya dia terlihat suka menolong orang lain,” ungkap Ali Ahmad, salah seorang keluarga almarhum kepada Jawa Pos.
Munir meninggal seorang istri, Suciwati, dan dua orang anak, Sultan Alif Allende (5) dan Diva (2). Menurut penuturan isterinya, tak ada satu pun firasat yang dirasakan sebelum kepergian Munir yang begitu mendadak ini. Pertemuan mereka terakhir terjadi Senin malam 6 September 2004, tatkala mereka melepas Munir terbang ke Belanda dengan pesawat Garuda.
Mereka tiba di bandara sekitar satu setengah jam sebelum pesawat take off. Di bandara, teman-teman Munir dari Imparsial sudah ada yang ikut menunggu. Saat itu, Munir memang tampak berat berpisah dengan keluarganya. Meski, rencananya, isteri dan anaknya akan menyusul beberapa bulan kemudian. Isterinya sangat terkejut, ketika Usman Hamid (koordinator Kontras) memberitahukan meninggalnya Munir.
Belum diketahui pasti apa penyakit yang menyebabkan kematian Munir. Dalam general check up yang dilakukan sebelum Munir berangkat ke Belanda, sebagai salah satu prasyarat yang harus disertakan, kondisi kesehatannya dinyatakan baik-baik saja. Menurut Suciwati, setahun lalu, Munir memang sempat di rawat di RS Saint Carolus. “Saat itu, dokter berpesan supaya suami saya itu tidak terlalu lelah. Kalau bisa, dalam sebulan, istilahnya liburnya seminggu,” kata Suciwati.
Memang semakin mendekati hari keberangkatannya ke Belanda, Munir terlihat sibuk ke sana-kemari untuk menghadiri berbagai acara dan persiapan. Misalnya, pada Selasa ada pesta perpisahan yang dilakukan Kontras. Lalu, pada Jumatnya, 3 September 2004, Munir menghadiri acara makan siang bersama di Kantor Imparsial di Jalan Diponegoro, Jakarta. Sore harinya masih ada acara “perpisahan” yang diadakan Propatria di Hotel Santika, Jakarta. Tapi, kondisi Munir saat itu tampak baik-baik.
Dalam acara itu Munir banyak menyampaikan harapan bahwa dia akan mengambil program doktor sekaligus, meskipun beasiswa yang diperolehnya hanya untuk program master di Universitas Utrecht.
(sumber; tokohindonesia.com)

Misteri Pengarang Lagu Bungong Aceh

Daerah Aceh terkenal kaya alamnya yang indah membuat sebagian besar orang untuk menciptakan kreasi akan seni dan budaya.
Ratusan tahun yang lalu terciptalah seni dan budaya Aceh yang telah berkembang berupa syair-syair dan diturunkan ke anak cucu. Saat penjajahan Belanda datang ke Bumi Aceh maka sebagian besar nahkah-nahkah kuno dari bangsa Aceh yang dirampas dan dibakar oleh Belanda. Sebagian lagi tersimpan di museum negeri Belanda.
Ada juga lagu-lagu dan seni budaya yang lahir pasca Indonesia merdeka dan kebanyakan pengarangnya dikatakan anonin (tidak punya nama). Ketika Riset mencari data-data lagu dan kesenian Aceh maka sebagian besar dikatakan anonin walaupun ada pengarangnya.
Seperti lagu bungong Jeumpa, lagu bungong Seulanga, tari Ranuop Lampuan yang indah bila Kita dengar dan dipertontonkan.Sedikit sekali data yang tersimpan di museum Aceh dan beberapa perpustakaan lainnya. Apalagi gempa dan tsunami Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu turut andil besar melenyapkan data-data yang tersimpan.
Ada juga seniman Aceh yang telah menyusun suatu buku yang terangkum dalam Ensiklopedi, akan tetapi data lagu dan lainnya kurang lengkap. Ketika memawancarinya salah satu pelaku seni Lk.Ara di Taman Budaya Banda Aceh, hari Selasa, 27 Januari 2014. Terkait lagu-lagu Aceh seperti Bungong Jeumpa bahwa,”Pencipta lagu bungong Jeumpa adalah anonin/tidak ada pengarangnya,” ujar LK.Ara.
Hasil riset menunjukan sebenarnya ada pengarang asli dari Bungong Jeumpa walaupun riset tersebut belum selesai semuanya, jadi belum bisa dipublikasi. Kedepan diharapkan para pelaku seni budaya agar menulis apa saja yang mereka ketahui selama hayat masih dikandung badan.

Penulis:
RACHMAD YULIADI NASIR, Jurnalis Independent. Mesjid Deah Bitay Aceh Turkiye Jl.Teungku Di Bitay No.1 Bitay Jaya Baru Banda Aceh 23235. SMS: 088260020123