Rumah itu besar, juga megah. Letaknya di sebuah jalan di kawasan
Tomang, Jakarta Barat. Pagarnya putih dengan gerbang besi yang selalu
mengatup. Halamannya luas dengan bunga yang bermekar-mekar. Di ruang
tengah ada televisi besar, tapi jarang dinyalakan, ditemani sebuah radio
transistor. Seperti sebuah kuburan besar, rumah itu senyap siang malam.
Penghuninya adalah seorang pria yang sudah uzur yang kesepian. Dialah
Teungku Daud Beureueh, tokoh pergerakan kemerdekaan Aceh yang namanya
melegenda itu. Abu Daud, begitu ia biasa disapa, “disimpan” di bangunan
itu dari tahun 1978 hingga 1982. Tadinya Daud adalah seorang pejuang
kemerdekaan Indonesia.
Pernah pula ia menjadi Gubernur Aceh. Tapi ia lalu merasa disepelekan
Jakarta, sewaktu daerah kelahirannya itu dilebur dengan Sumatera Utara
pada 1953, dalam periode Perdana Menteri Mohammad Natsir. Penggabungan
itu secara tak sopan memecat sang Teungku dari jabatannya-sesuatu yang
bukan saja amat menghina Daud Beureueh, tapi juga melukai hati
kebanyakan orang Aceh.
Dan luka kian menganga ketika rakyat menganggap para petinggi Tentara
Nasional Indonesia yang bertugas di Aceh saat itu berhaluan
kekiri-kirian. Republik pun kian terasa jauh dari Serambi Mekah.
Bagi Daud Beureueh, segala kekecewaan itu hanya punya satu jalan
keluar: Merdeka. Karena itu, setelah tak lagi menjadi gubernur, dari
Banda Aceh ia balik ke Kampung Usi, Kecamatan Beureunen, sekitar 15
kilometer dari Sigli, ibu kota Kabupaten Pidie.
Sebentar saja ia telah menghimpun kekuatan, lalu memimpin perlawanan
gerilya melawan serdadu Indonesia. Sembilan tahun ia berjuang
habis-habisan di hutan, tapi “jalan keluar” itu tak kunjung dapat
dijejakinya. Lelah berperang, pada 1962 ia lalu menerima tawaran damai
pemerintah Indonesia, dan turun gunung pada tahun itu juga.
Sebagai imbalan, Jakarta berjanji memberlakukan syariat Islam di
Aceh. Dari gunung ia kembali ke kampung, dan menetap di sebuah bilik di
samping masjid di desanya. Menjadi imam di situ, pengaruh Daud Beureueh
kian dalam merasuk ke hati rakyat.
Profesor Nazaruddin Sjamsuddin, pakar politik yang pernah menulis
buku Pemberontakan Kaum Republik: Kasus Darul Islam, punya cerita
bagaimana rakyat amat menghormati figur karismatis itu.
Pada 7 Juli 1973, Nazaruddin mewawancarai Daud Beureueh untuk
kepentingan studinya. Sedang asyik-asyiknya mereka berbincang, seorang
petani lewat naik sepeda. Dia baru pulang dari kebun. Ia mampir
sebentar, hanya untuk mencium tangan sang Teungku, lalu memberikan enam
biji ketimun yang baru dipetiknya.
Hampir tiap hari Nazaruddin melihat pemandangan itu. Ada saja warga
yang datang membawa makanan dan buah-buahan ke rumah itu. Tapi berbagai
pendekatan dan pemberian dari Jakarta selalu ditampiknya.
Kesepakatan damai tak kunjung melumerkan kekerasan hatinya terhadap
pemerintah pusat. Abu Daud kecewa. Janji tentang syariat Islam ternyata
tak pernah dipenuhi. Iming-iming itu baru terealisasi 43 tahun kemudian,
melalui Undang-Undang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), yang disahkan
pada 2002 silam, 16 tahun setelah Daud Beureueh wafat.
Kekecewaan itulah yang lalu diutarakannya berulang-ulang dalam setiap ceramahnya di masjid-masjid di Aceh maupun Medan.
Ahmad Farhan Hamid, putra Abdul Hamid, teman seperjuangan Daud
Beureueh, punya kisah menarik soal ini. Tahun 1976, saat menjadi
mahasiswa di Fakultas MIPA Universitas Sumatera Utara, Farhan pernah
mengundang Daud Beureueh berceramah di kampus itu. Semula cuma diminta
memberi khotbah agama, eh, Abu Daud malah masuk jauh ke wilayah politik.
“Dia juga memaki-maki pemerintah,” kata Farhan.
Memang, dalam setiap ceramahnya, Abu Daud tak henti mengkritik
kebijakan pemerintah. Ia merasa pembangunan di Aceh tak pernah bisa
melayani kebutuhan masyarakat. Ia menjadi saksi betapa di tanah mereka
sendiri, orang Aceh cuma jadi penonton ketika Orde Baru membangun
berbagai industri besar di sana.
Pada tahun 1970-an, misalnya, di Aceh Utara didirikan pabrik gas Arun.
Tapi mesin industri yang menderu cepat itu hanya membuat rakyat Aceh
kian tertinggal. Tak pelak, jurang itu melahirkan kembali perlawanan
baru terhadap Jakarta di bawah pimpinan Teungku Muhammad Hasan Tiro.
Hasan Tiro, paham betul bahwa restu Daud Beureueh amatlah penting
untuk menopang gerakannya. Itu sebabnya, sekembali dari Amerika Serikat,
dua kali ia bertamu ke rumah Abu Daud untuk meminta sokongan.
Menurut Nazaruddin Sjamsuddin, sebagaimana pernah dituturkan langsung
Daud Beureueh kepadanya, Hasan Tiro menemui sang Teungku pada akhir
1975, di rumahnya di Beureunuen, Aceh.
Dalam pertemuan itu Hasan Tiro penuh semangat menjelaskan isi dan
strategi perjuangannya. Tapi Daud tak peduli dengan segala siasat itu,
Ia malah bertanya.
“Apa dasarmu membentuk Aceh merdeka?” Hasan tersentak
mendengar pertanyaan itu. Belum lagi dijawab, Daud Beureueh sudah
menukas sembari menatap tajam.
“Kalau dasarnya Islam, silakan. Saya mendukung.”
Setelah terdiam sejenak, Hasan Tiro menjawab, “Untuk
kesejahteraan masyarakat Aceh. Selama bergabung dengan Republik, Aceh
tak mungkin makmur. Jadi, harus berdiri sendiri.”
Bukannya memuji, Daud Beureueh malah geleng-geleng kepala dan menarik napas panjang.
“Apa dasarmu sebenarnya?” ia kembali bertanya penuh selidik.
Kembali, Hasan Tiro tercenung. “Aceh, kata Daud, butuh menjadi Islam,
bukan merdeka.”
“Apa nanti pertanggungjawaban kita kepada Allah kalau dasarnya bukan Islam,” kata Nazaruddin mengutip Daud.
Hasan Tiro tak patah arang. Ia terus meyakinkan Daud Beureueh bahwa
orang Aceh memang memerlukan kemerdekaan. Setelah sejam mereka bicara,
akhirnya Daud mengangguk memberi restu. Hasan Tiro langsung bergerak
cepat.
Kemerdekaan Aceh diproklamasikan pada 4 Desember 1976. Jakarta berang
dan segera mengirim pasukan. Dalam sekejap pasukan Hasan Tiro terdesak,
lalu bergerilya di gunung dan hutan. Namun para petinggi Republik paham
betul, roh perlawanan Aceh yang sesungguhnya ada dalam diri Daud
Beureueh.
Keputusan pun diambil. Legenda hidup itu harus diceraikan dari
gemuruh pemberontakan Hasan Tiro. Sebuah tim khusus lalu dikirim ke Aceh
untuk membawa Daud Beureueh ke Jakarta, pada 1 Mei 1978.
Dipimpin oleh Sjafrie Sjamsoeddin-Kepala Dinas Penerangan TNI-para utusan tiba di kediaman Abu Daud tak lama seusai salat subuh.
Dikisahkan Nur Ibrahimy, menantu Daud Beureueh, tim Sjafrie meminta kesediaan sang Teungku untuk ikut bersama mereka ke Jakarta.
“Kami diperintahkan membawa Abu Daud ke Jakarta untuk menjadi saksi
di Pengadilan Negeri Surabaya dalam perkara Haji Ismail yang dituding
terlibat aksi Komando Jihad,” kata salah seorang anggota rombongan itu.
Peristiwa ini disaksikan langsung Teungku Nya’Aisah, istri ketiga
Daud Beureueh. Karena sudah tua, sakit-sakitan pula, Daud Beureueh
berkeberatan dibawa ke ibu kota Republik.
Dengan santun ia menjawab, “Maaf, bukannya tidak bersedia, saya ini
sudah uzur. Saya mau bersaksi di sini saja.” Tapi tim Sjafrie berkeras.
Masih menurut Nur Ibrahimy, mereka lalu memegangi kaki dan tangan
Daud Beureueh. Salah satunya sigap menyuntikkan obat bius. Tapi, karena
sang Teungku keras memberontak, jarum suntik pun patah.
“Darah berceceran dan membasahi baju Abu Daud,” kata Nur.
Daud Beureueh yang sudah terkulai lemas lalu dilarikan dengan jip
menuju helikopter yang sudah disiagakan. Ia pun dibawa ke Medan, lalu ke
Jakarta.
Menurut Nur Ibrahimy, alasan menjadi saksi dalam perkara Komando
Jihad itu cuma dalih untuk membawa paksa Abu Daud keluar dari tanah
Aceh. Sjafrie Sjamsoeddin mengakui memang dialah yang memimpin tim untuk
“mengambil” Daud Beureueh.
“Ya, kami yang menjemput beliau,” ujarnya. Tapi, menurut versi
Sjafrie, ketika itu Abu Daud tak sempat melawan, juga tak ada kekerasan
berarti, karena obat bius yang disuntikkan cepat bekerja.
Jenderal bekas Panglima Kodam Jaya itu mengungkapkan penjemputan
pemimpin karismatik Aceh ini memang dilandasi kekhawatiran bahwa Daud
Beureueh akan kembali naik gunung menyokong Gerakan Aceh Merdeka (GAM),
yang sedang sengit-sengitnya digelorakan Hasan Tiro.
Saat itu perlawanan gerilya Hasan Tiro memang telah merasuki sebagian
rakyat Aceh. Dari hutan, mereka gencar menyerang sejumlah fasilitas
pemerintah dan perusahaan asing yang beroperasi di Aceh.
Pada awal 1978, misalnya, pasukan Tiro bahkan berhasil menerobos
masuk ke pabrik LNG Arun di Aceh Utara. Serangan itu menewaskan seorang
pekerja warga Amerika. Namun, di mata Nur Ibrahimy, ketakutan pemerintah
pusat itu kelewat berlebihan.
Menurut dia, Abu Daud tak pernah sepenuhnya menyetujui gerakan
kemerdekaan versi Hasan Tiro itu. Sebabnya, “GAM ini bersifat sekuler
dan meski kurang Islami.”
Di Jakarta, mulanya Daud Beureueh tinggal di rumah menantunya,
Muhammadiyah Haji, di Jalan Tomang, Jakarta Barat. Tapi tak berapa lama
kemudian pemerintah lalu mengontrak sebuah rumah, persis di samping
kediaman sang menantu. Bangunannya besar, megah, tapi sepi. Di situlah
kemudian Abu Daud harus menetap seorang diri. Keperluan ia makan diurus
anak dan menantunya.
“Tiap hari saya dan istri bawa makanan ke rumahnya,” kata Nur
mengenang. Opor ayam dan ilieh alias belut goreng ala Aceh adalah
makanan kesukaan Teungku Daud.
Untunglah, masih ada yang menghibur hatinya. Daud Beureueh selalu
berseri-seri saat orang Aceh di Jakarta datang mengunjunginya. Atau juga
kala ia berceramah di masjid dan menghadiri acara diskusi, meski dalam
lingkup yang sangat terbatas. Di Jakarta, ruang gerak Daud Beureueh
jelas tak lagi leluasa. Aparat keamanan terus mengintainya. Pemerintah
cemas, siapa tahu di antara tetamu itu menyusup seorang gerilyawan Aceh.
Menurut Nur Ibrahimy, aparat intel, baik dari kepolisian maupun
militer, saban hari mengawasi rumah kontrakan di Tomang itu, juga ketat
menguntit ke mana pun Daud Beureueh melangkah. Karena itulah, Abu Daud
sendiri menyebut kediaman megahnya di Tomang itu sebagai “sangkar emas
pemerintah Indonesia”.
Dikungkung begitu, lama-kelamaan tergerogoti juga kesehatan Daud
Beureueh. Beberapa kali ia jatuh sakit, dirongrong diabetes dan
paru-paru basah. Berkali-kali ia minta pulang ke Aceh. Tapi baru pada
1982, saat kondisi kesehatannya terus merosot, pemerintah mengabulkannya
Di Aceh, ia kembali menempati bilik di samping masjid di kampung
kelahirannya. Tapi sakitnya kian parah. Tahun 1985, ia terjatuh dari
ranjang. Engsel pinggulnya cedera berat, dan ia tak sanggup lagi
berdiri. Walau begitu, semangatnya tak pernah pudar.
Dalam keadaan selalu terbaring di tempat tidur ia tetap menerima tamu
dari berbagai kalangan: pejabat pemerintah, mahasiswa yang sedang
menyusun skripsi, atau petani yang sekadar ingin mencium tangannya.
Sikap kritisnya terhadap pemerintah pusat pun tak lumer. Berkali-kali
dia mengirim surat ke Presiden Soeharto, mengingatkan kian merebaknya
kemerosotan moral di Serambi Mekah. Ia baru menyerah ketika ajal datang
menjemput.
Rabu, 10 Juni 1987, Abu Daud menutup mata, dalam usia 89 tahun. Dari
Jakarta, Presiden Soeharto mengirim karangan bunga dan kawat khusus duka
cita. Jasad Teungku Daud Beureueh, bersama segenap impiannya tentang
masa depan Aceh, dimakamkan di bawah pohon mangga di pekarangan Masjid
Baitul A’la lil Mujahidin di Beureunuen, sebagaimana yang ia minta.
(atjehcyber/tempo 2003/lasdipo)