Pernyataan Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu bahwa pemerintah
akan memberlakukan kembali Daerah Operasi Militer (DOM) di Bumi Serambi
Mekah jika masih terjadi penembakan terhadap TNI di Aceh dikecam keras
oleh Senator asal Aceh, Fachrul Razi MIP.
Dalam rilis yang
dikirimkanya, Jum’at (27/3/2015), pernyataan Menhan tersebut akan
memperkeruh suasana dan sama dengan membuka kembali luka lama rakyat
Aceh, tudingnya.
DOM yang diterapkan di bawah rezim orde baru selama 30 tahun di Aceh,
sampai hari ini belum seluruhnya terselesaikan secara hukum. Masih
banyak kasus orang hilang, terbunuh dan di culik sampai hari ini
pelakunya belum diseret ke pengadilan, tambahnya.
Dia juga
menyesalkan pernyataan Menhan di media yang masih menerapkan pendekatan
militeristik. “Jika pendekatan militeristik yang dilakukan terhadap
masyarakat Aceh dalam menangani perkara penculikan dan pembunuhan
anggota TNI tersebut, ini masih menunjukkan lemahnya kepercayaan pusat
terhadap Aceh. Jangan jadikan Aceh sebagai ajang konflik. Sudah cukup
saat ini Aceh berada dalam konflik, kami ingin damai yang abadi.”
Menurut Senator Aceh yang juga anggota MPR RI, hal itu melanggar
ketentuan MoU Helsinki butir 4.7 MoU yang menegaskan bahwa tidak akan
ada pergerakan besar-besaran tentara setelah perjanjian damai dan jumlah
tentara setelah relokasi di Aceh berjumlah 14.700 orang.
Masyarakat Aceh sudah trauma dengan pergerakan tentara di Aceh. Bila
masyarakat melihat tentara, yang tergambarkan adalah kondisi perang dan
takut untuk beraktifitas di luar rumah, sebutnya.
Dalam hal ini,
pemerintah pusat harus melihat Aceh dalam konteks perdamaian. Jangan
semua masalah kriminal di Aceh di kait-kaitkan dengan mantan kombatan
GAM yang sudah mau berunding dengan Indonesia. Proses reintegrasi yang
sedang berlangsung jangan sampai terganggu akibat persoalan kriminal,
jelasnya.
Semua pihak harus bisa menahan diri agar tidak gegabah
dalam merespon kasus tersebut. Serahkan semua proses untuk pengusutan
kejadian kepada pihak yang berwajib. Jangan menebak persoalan politik di
Aceh, sehingga membuat masyarakat terganggu untuk beraktifitas,
ajaknya.
“Saya tetap mendukung TNI/Polri di Aceh bekerja secara profesional dan juga menjaga perdamaian Aceh.”







0 komentar:
Posting Komentar