Pages

Jumat, 27 Maret 2015

Pemerintah Aceh Harus 'Melakukan Pendekatan Khusus' dengan Din Minimi

Mawardi Sekretaris KPA Meuruhom daya juga angkat bicara persoalan Din Minimi yang selama ini menggegerkan dengan kehadirannya membuat polemik baru dan merupakan tugas Pemerintah Aceh baik Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, Ketua DPRK, Tgk. Muharuddin bersama Wakil Gubernur, Muzakir Manaf dan Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al-Haytar.

Mawardi menjelaskan bahwa saat ini kita tidak mendukung jika harus ada perperangan kembali di bumi serambi Mekah “Namun keadilan dari Pemerintah Aceh yang sangat kita butuhkan” dan pemerintah harus melakukan konsolidasi dengan Din Minimi.

Pada dasarnya Din Mini hari ini hanya menuntut keadilan kepada Pemerintah Aceh terhadap apa yang terjadi hari ini.

“untuk saat ini masih banyaknya mantan Kombatan dari GAM masih hidup di bawah garis kemiskinan ada di mana-mana,” terang Mawardi.

Ditambahkannya Pemerintah Aceh harus mampu menciptakan peluang pekerjaan bagi masyarakat Aceh, memberikan keadilan dalam melakukan pembangunan demi untuk menghindari Din Minimi lainnya.

“Kita pantau di media selama ini oknum-oknum hanya sibuk dengan perebutan jabatan namun kesejahteraan rakyat terabaikan,” jelasnya.

“Menjaga nama baik Partai Aceh sepatutnya langkah-langkah dalam mensejahterakan rakyat yang sangat terutama bukan malah menambah daftar buruk,” ujar Sekretaris KPA Meureuhom Daya ini.

DPR RI Turun Ke Aceh Utara, Lihat Dari Dekat Biar Lebih Kenal Rakyat Sendiri....?

Peristiwa pembunuhan terhadap dua anggota TNI AD dari Komando Distrik Militer 0103/Aceh Utara, disikapi serius oleh Komisi I dan Komisi III DPR. Komisi yang membawahi bidang hukum serta pertahanan itu menurunkan tim ke Aceh.

Komisi I dan Komisi III sepakat mengirimkan tim ke Aceh, khusus merespon kasus dibunuhnya dua aparat," kata Ketua Komisi I DPR Mahfuz Sidik di gedung DPR, Jakarta, Kamis (26/3/2015).

Menurut Mahfuz, DPR ingin mengetahui apa yang terjadi di Aceh dalam kaitan tewasnya dua personil TNI, yakni Sertu Indra dan Serda Hendri.

Tim yang dikirim DPR itu ingin memastikan apakah pelaku penculikan dan penembakan dua anggota TNI itu adalah kelompok sipil bersenjata atau tidak. "Kasus ini menentukan apakah kelompok sipil bersenjata di Aceh masih ada. Selain itu apakah kelompok tersebut punya kerterkaitan ke kelompok GAM," ujarnya.

Politikus PKS ini menjelaskan, kalau misalnya kelompok sipil bersenjata ini ada kaitannya dengan GAM, berarti gerakan separatisme di Aceh belum sepenuhnya tuntas. 

Pesan rakyat jangan menduga-duga terlalu jauh, sebaiknya lakukan investigasi dan klarifikasi agar faktanya lebih meyakinkan, karena kesalahan dugaan bisa berakibat fatal bagi rakyatmu dan negeri ini...wahai wakil rakyat yang terhormat.

Fachrul Razi MIP Kecam Pernyataan Menhan Tentang DOM Aceh

Pernyataan Menteri Pertahanan RI, Ryamizard Ryacudu bahwa pemerintah akan memberlakukan kembali Daerah Operasi Militer (DOM) di Bumi Serambi Mekah jika masih terjadi penembakan terhadap TNI di Aceh dikecam keras oleh Senator asal Aceh, Fachrul Razi MIP.
Dalam rilis yang dikirimkanya, Jum’at (27/3/2015), pernyataan Menhan tersebut akan memperkeruh suasana dan sama dengan membuka kembali luka lama rakyat Aceh, tudingnya.
DOM yang diterapkan di bawah rezim orde baru selama 30 tahun di Aceh, sampai hari ini belum seluruhnya terselesaikan secara hukum. Masih banyak kasus orang hilang, terbunuh dan di culik sampai hari ini pelakunya belum diseret ke pengadilan, tambahnya.
Dia juga menyesalkan pernyataan Menhan di media yang masih menerapkan pendekatan militeristik. “Jika pendekatan militeristik yang dilakukan terhadap masyarakat Aceh dalam menangani perkara penculikan dan pembunuhan anggota TNI tersebut, ini masih menunjukkan lemahnya kepercayaan pusat terhadap Aceh. Jangan jadikan Aceh sebagai ajang konflik. Sudah cukup saat ini Aceh berada dalam konflik, kami ingin damai yang abadi.”
Menurut Senator Aceh yang juga anggota MPR RI, hal itu melanggar ketentuan MoU Helsinki butir 4.7 MoU yang menegaskan bahwa tidak akan ada pergerakan besar-besaran tentara setelah perjanjian damai dan jumlah tentara setelah relokasi di Aceh berjumlah 14.700 orang.
Masyarakat Aceh sudah trauma dengan pergerakan tentara di Aceh. Bila masyarakat melihat tentara, yang tergambarkan adalah kondisi perang dan takut untuk beraktifitas di luar rumah, sebutnya.
Dalam hal ini, pemerintah pusat harus melihat Aceh dalam konteks perdamaian. Jangan semua masalah kriminal di Aceh di kait-kaitkan dengan mantan kombatan GAM yang sudah mau berunding dengan Indonesia. Proses reintegrasi yang sedang berlangsung jangan sampai terganggu akibat persoalan kriminal, jelasnya.
Semua pihak harus bisa menahan diri agar tidak gegabah dalam merespon kasus tersebut. Serahkan semua proses untuk pengusutan kejadian kepada pihak yang berwajib. Jangan menebak persoalan politik di Aceh, sehingga membuat masyarakat terganggu untuk beraktifitas, ajaknya.
“Saya tetap mendukung TNI/Polri di Aceh bekerja secara profesional dan juga menjaga perdamaian Aceh.”
Saya mendesak siapapun pemerintah pusat agar pernyataan seperti yang dikeluarkan oleh Menhan Ryamizard Ryacudu tidak akan terulang lagi,” pintanya.

Situasi Yaman Memburuk, Masyarakat Global Cemas

Serangan yang dipimpin Arab Saudi ke Yaman masih terjadi. Meski, ribuan masyarakat telah menolak serangan tersebut dan puluhan korban jiwa berjatuhan.

Serangan itu setidaknya menewaskan lebih dari 40 warga sipil tak berdosa termasuk perempuan dan anak-anak dalam serangan sejak Kamis (26/3) waktu setempat. Seperti diberitakan Fars News 25 warga sipil tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam serangan pertama. Sedangkan dalam serangan kedua menewaskan lebih dari 15 orang.

Laman Al Jazeera, Jumat (27/3) waktu setempat mengatakan, serangan udara menargetkan kamp penerimaan anggota baru yang bergabung dengan milisi Houthi di Sanaa. Saksi mata juga melaporkan, serangan udara dan ledakan keras terjadi di Sa'ada dekat perbatasan Saudi, di mana sebuah unit militer menjadi targetnya.

Saudi dan sekutunya merenggut nyawa puluhan warga Yaman saat melakukan serangan di Sana'a, Sa'ada, Lahij, dan Ta'iz. Menurut warga, puluhan kendaraan yang membawa rudal anti-pesawat terus menerus mengelilingi lingkungan ibu kota sejak serangan yang dipimpin Saudi itu dimulai.

Masyarakat global rupanya mengkhawatirkan, bila serangan tersebut akan lebih banyak menjatuhkan korban dari kalangan sipil.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengungkapkan keprihatinannya dalam sebuah pernyataan. Rusia menyatakan keprihatinan yang mendalam atas situasi yang memburuk di Yaman.

Beijing juga menyatakan keprihatinan mendalam atas serangan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Hua Chunying mendesak semua pihak untuk bertindak sesuai dengan resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai Yaman dan untuk menyelesaikan sengketa melalui dialog.

"Semua pihak yang terlibat cepat menyelesaikan perselisihan melalui dialog politik, mengatasi krisis saat ini dan memulihkan stabilitas dalam negeri dan normalitas ke Yaman," kata dia dalam konferensi pers.

Sebaliknya, dalam sebuah pernyataan usai serangan, Gedung Putih justru mendukung serangan Saudi. Gedung Putih mengatakan bahwa AS tengah mengkoordinasikan dukungan militer dan intelijen dengan Saudi. Namun tidak mengambil bagian secara langsung dalam

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Jeff Rathke mengatakan pada Kamis (26/3) waktu setempat bahwa pemerintah AS memahami kekhawatiran Saudi dan mendukung upaya mereka.

KontraS Minta TNI Ditarik dari Aceh Utara

Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh mendesak pimpinan TNI menarik pasukannya dari Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara. Sebab keberadaan pasukan TNI di wilayah itu dianggap meresahkan masyarakat.
Perwakilan KontraS Aceh Hendra Saputra mengatakan, pasca kejadian tewasnya dua intel Kodim 0103 di Dusun Batee Pila, Kecamatan Nisam Antara. Wilayah itu mulai mendapatkan penjagaan ketat dari TNI dan kepolisian.
"Akibat dari peristiwa ini masyarakat merasa tidak nyaman biar pun dalam situasi damai. TNI dan kepolisian masih bersiaga di sekitar Nisam Antara," ujar Hendra, Kamis 26 Maret 2015.
KontraS mengkhawatirkan, bila munculnya kasus penculikan dan penembakan terhadap dua TNI tersebut, justru akan membuka ruang keterlibatan TNI untuk menuntaskan kriminalitas di Aceh. Padahal, ranah itu harusnya menjadi kewenangan dari kepolisian.
"Kasus ini diserahkan saja ke pihak kepolisian, mereka yang bertanggungjawab untuk menangkap pelaku penembakan pasukan TNI," katanya.
Kepolisian Aceh, selaku penanggung jawab keamanan di Aceh, harus mengungkapkan motif kriminalitas bersenjata api yang marak terjadi di Aceh. Bila kriminal bersenjata api terus dibiarkan, diprediksi perdamaian akan terganggu.
"Meningkatnya angka kriminalitas bersenjata di pantai timur dua bulan terakhir menunjukan bahwa aparat penegak hukum belum mampu mengungkapkan dalangnya dan motifnya, sehingga membuat masyarakat tidak aman," katanya.

PANGDAM IM Pastikan Tidak Ada Operasi Militer



Panglima Kodam (Pangdam) Iskandar Muda, Mayjen TNI Agus Kriswanto memastikan tidak ada operasi militer yang dilakukan di Nisam, Aceh Utara, meskipun ada sekitar 400 personel yang dikerahkan pasca insiden penculikan hingga pembunuhan terhadap dua prajuritnya.
“Kita kerahkan pasukan hanya untuk membantu kepolisian dalam upaya mengejar pelaku pembunuhan serta menjaga perkampungan sekitar lokasi dalam upaya memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat,” ujar Mayjen Agus Kriswanto dalam konferensi pers yang berlangsung di Mes Lilawangsa Kota Lhokseumawe, Kamis (26/3).
Atas dasar itu Pangdam berharap agar masyarakat tidak perlu trauma, tapi harus tetap waspada dan bisa memberikan informasi kepada aparat keamanan apabila mendapat ancaman atau intimidasi dari sipil bersenjata.
Diakuinya, sampai saat ini pihaknya masih terus membantu pihak kepolisian untuk mengejar para pelaku. Pangdam juga belum memastikan kapan pengejaran itu akan berakhir. “Pastinya sampai saat kondisinya sudah kondusif,” ujarnya.
Di samping itu, Pangdam juga memastikan sejauh ini belum menemukan pelaku pembunuhan terhadap dua prajuritnya. “Secara fisik pelakunya belum kita temukan, namun prediksi, komunikasi, dan analisis masih terus kita lakukan,” ungkapnya.
Disinggung tentang motif pelaku melakukan pembunuhan itu, Pangdam belum memastikan secara jelas. Namun, dia uraikan selama ini TNI terus bergerak memberantas narkoba, sesuai dengan instruksi Presiden RI. Di mana TNI terus berhasil menemukan sejumlah ladang ganja dan juga menangkap pemilik sabu-sabu untuk selanjutnya diserahkan kepada pihak kepolisian.
Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Agus Kriswanto, memberi keterangan kepada media di Mes Lilawangsa, terkait perkembangan situasi Nisam Antara, Kamis (26/3/2015). Pangdam IM mengatakan saat ini pasukan TNI siaga namun situasi masyarakat di Nisam Antara masih Kondusif.
Pangdam juga menguraikan dari 400 personel yang diturunkan itu semua berasal dari Aceh Utara, Lhokseumawe, dan sekitarnya seperti dari Kodim Aceh Tengah dan Kodim Bireuen. Kedua Kodim ini pun dilibatkan hanya untuk pengimbangan dalam upaya mengantisipasi para pelaku berusaha melarikan diri ke luar dari Aceh Utara.
“Jadi, selama pengejaran dilakukan dalam beberapa hari ini, belum pernah terjadi kontak tembak,” demikian Pangdam IM. Saat ditanya apakah ada perluasan pengejaran, Pangdam mengaku sejauh ini belum ada, melainkan tetap difokuskan di kawasan Nisam.
Ke Nisam Antara
Pangdam Mayjen Agus Kriswanto, Kamis (26/3) siang juga mengunjungi Kecamatan Nisam Antara untuk melihat kondisi masyarakat di wilayah itu pascatewasnya dua anggota TNI serta masuknya 400 anggota TNI ke kawasan tersebut untuk mencari kelompok bersenpi.
Dalam kunjungan dimaksud, Pangdam singgah di salah satu warung kopi Keude Alue Papeun. Di sini Pangdam meminta masyarakat tidak perlu khawatir akan terjadi kontak tembak karena kehadiran TNI ke kawasan itu untuk mengamankan warga dari kelompok bersenjata.
Ladang ganja
Pangdam mengatakan hingga saat ini mereka belum berhasil memastikan siapa kelompok bersenjata tersebut, namun diperkirakan sebagian dari mereka telah meninggalkan wilayah Aceh Utara. Bahkan, menurut Pangdam, ada kemungkinan keterlibatan kelompok pemilik ladang ganja dalam kejadian ini, karena TNI akhir-akhir ini sangat gencar memusnahkan ladang ganja, terutama di Aceh Utara. “Bisa saja mereka dendam terhadap tindakan TNI tersebut,” ujar Pangdam.
Pantauan di beberapa desa dalam Kecamatan Nisam Antara, seperti Alue Dua, Seumirah, dan Alue Papeun, banyak warga yang beraktivitas di depan rumah dengan menjemur atau membelah pinang. Sedangkan kondisi Pasar Keude Alue Papeun tetap normal. Banyak warga yang datang berbelanja.
Sementara itu, ratusan personel TNI dan Polri dengan senjata lengkap tetap bersiaga di Pos Polisi dan Koramil Nisam Antara di Desa Alue Dua.
Warga mengaku sejak kejadian penculikan anggota TNI tersebut, warga tidak berani pergi ke kebun, karena saat ini aparat TNI dan Polri sedang menyisir hutan di wilayah itu. Warga khawatir akan terjadi kontak tembak sewaktu-waktu.
“Semenjak dua TNI ditemukan tewas dan saat mereka melakukan penyisiran ke hutan, kami tidak lagi pergi ke kebun karena khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan,” ujar Keuchik Alue Papeun, Syawaluddin.
Hal itu dibenarkan Kamariah, seorang janda yang menemui Pangdam sembari mengatakan bahwa dia sangat khawatir akan terjadi kontak tembak. Kamariah juga berharap keadaan kembali normal agar warga dapat kembali pergi ke kebun.

TNI Perluas Zona Perburuan Kelompok Bersenjata Aceh

Pasukan gabungan TNI dan Polri memperluas wilayah operasi perburuan kelompok bersenjata pelaku penembakan terhadap dua intel Kodim 0103 Aceh Utara.
Komandan Korem 011 Lilawangsa, Kolonel Inf A Daniel Chardin menuturkan, pasukan TNI dan Polri kini mulai bergerak memburu pelaku ke wilayah Kecamatan Sawang, Kuta Makmur, simpang kramat dan wilayah lainnya.
"Kita sudah kepung wilayah Nisam Antara, sekarang operasi diperluas," kata Kolonel Inf Danilel, Jumat 27 Maret 2015.
Menurut Daniel, wilayah operasi perburuan lokasi diperluas untuk mempersempit ruang gerak kelompok bersenjata pelaku penembakan.
Dalam operasi perburuan kelompok bersenjata itu, TNI mengerahkan sekitar 400 personel yang terdiri dari dua satuan setingkat kompi (SSK) dan dua satuan setingkat peleton (SST) serta 40 personel Anoa bersenjata lengkap.
Diperkirakan, kelompok bersenjata yang telah menculik dan membunuh Sertu Indra dan Serda Hendri berjumlah antara 10 sampai 15 orang bersenjata.
Seperti diketahui, Senin, 23 Maret 2015 lalu, dua personel intel Komando Distrik Militer (Kodim) 0103 Aceh Utara, Provinsi Aceh ditemukan tewas mengenaskan di Desa Batee Pila, Kecamatan Nisam Antara, Aceh Utara.
Kedua jenazah ditemukan oleh Kepolisian dan pasukan Korem Aceh Utara dengan posisi telungkup, tangan terikat dan hanya menggunakan celana dalam.