Panglima Kodam
(Pangdam) Iskandar Muda, Mayjen TNI Agus Kriswanto memastikan tidak ada operasi
militer yang dilakukan di Nisam, Aceh Utara, meskipun ada sekitar 400 personel
yang dikerahkan pasca insiden penculikan hingga pembunuhan terhadap dua
prajuritnya.
“Kita kerahkan
pasukan hanya untuk membantu kepolisian dalam upaya mengejar pelaku pembunuhan
serta menjaga perkampungan sekitar lokasi dalam upaya memberikan rasa aman dan
nyaman bagi masyarakat,” ujar Mayjen Agus Kriswanto dalam konferensi pers yang
berlangsung di Mes Lilawangsa Kota Lhokseumawe, Kamis (26/3).
Atas dasar itu
Pangdam berharap agar masyarakat tidak perlu trauma, tapi harus tetap waspada
dan bisa memberikan informasi kepada aparat keamanan apabila mendapat ancaman
atau intimidasi dari sipil bersenjata.
Diakuinya, sampai
saat ini pihaknya masih terus membantu pihak kepolisian untuk mengejar para
pelaku. Pangdam juga belum memastikan kapan pengejaran itu akan berakhir.
“Pastinya sampai saat kondisinya sudah kondusif,” ujarnya.
Di samping itu,
Pangdam juga memastikan sejauh ini belum menemukan pelaku pembunuhan terhadap
dua prajuritnya. “Secara fisik pelakunya belum kita temukan, namun prediksi,
komunikasi, dan analisis masih terus kita lakukan,” ungkapnya.
Disinggung tentang
motif pelaku melakukan pembunuhan itu, Pangdam belum memastikan secara jelas.
Namun, dia uraikan selama ini TNI terus bergerak memberantas narkoba, sesuai
dengan instruksi Presiden RI. Di mana TNI terus berhasil menemukan sejumlah
ladang ganja dan juga menangkap pemilik sabu-sabu untuk selanjutnya diserahkan
kepada pihak kepolisian.
Pangdam Iskandar
Muda, Mayjen TNI Agus Kriswanto, memberi keterangan kepada media di Mes
Lilawangsa, terkait perkembangan situasi Nisam Antara, Kamis (26/3/2015).
Pangdam IM mengatakan saat ini pasukan TNI siaga namun situasi masyarakat di
Nisam Antara masih Kondusif.
Pangdam juga
menguraikan dari 400 personel yang diturunkan itu semua berasal dari Aceh
Utara, Lhokseumawe, dan sekitarnya seperti dari Kodim Aceh Tengah dan Kodim
Bireuen. Kedua Kodim ini pun dilibatkan hanya untuk pengimbangan dalam upaya
mengantisipasi para pelaku berusaha melarikan diri ke luar dari Aceh Utara.
“Jadi, selama
pengejaran dilakukan dalam beberapa hari ini, belum pernah terjadi kontak
tembak,” demikian Pangdam IM. Saat ditanya apakah ada perluasan pengejaran,
Pangdam mengaku sejauh ini belum ada, melainkan tetap difokuskan di kawasan
Nisam.
Ke Nisam Antara
Pangdam Mayjen Agus
Kriswanto, Kamis (26/3) siang juga mengunjungi Kecamatan Nisam Antara untuk
melihat kondisi masyarakat di wilayah itu pascatewasnya dua anggota TNI serta
masuknya 400 anggota TNI ke kawasan tersebut untuk mencari kelompok bersenpi.
Dalam kunjungan
dimaksud, Pangdam singgah di salah satu warung kopi Keude Alue Papeun. Di sini
Pangdam meminta masyarakat tidak perlu khawatir akan terjadi kontak tembak
karena kehadiran TNI ke kawasan itu untuk mengamankan warga dari kelompok
bersenjata.
Ladang ganja
Pangdam mengatakan
hingga saat ini mereka belum berhasil memastikan siapa kelompok bersenjata
tersebut, namun diperkirakan sebagian dari mereka telah meninggalkan wilayah
Aceh Utara. Bahkan, menurut Pangdam, ada kemungkinan keterlibatan kelompok
pemilik ladang ganja dalam kejadian ini, karena TNI akhir-akhir ini sangat gencar
memusnahkan ladang ganja, terutama di Aceh Utara. “Bisa saja mereka dendam
terhadap tindakan TNI tersebut,” ujar Pangdam.
Pantauan di beberapa
desa dalam Kecamatan Nisam Antara, seperti Alue Dua, Seumirah, dan Alue Papeun,
banyak warga yang beraktivitas di depan rumah dengan menjemur atau membelah
pinang. Sedangkan kondisi Pasar Keude Alue Papeun tetap normal. Banyak warga
yang datang berbelanja.
Sementara itu,
ratusan personel TNI dan Polri dengan senjata lengkap tetap bersiaga di Pos
Polisi dan Koramil Nisam Antara di Desa Alue Dua.
Warga mengaku sejak
kejadian penculikan anggota TNI tersebut, warga tidak berani pergi ke kebun,
karena saat ini aparat TNI dan Polri sedang menyisir hutan di wilayah itu.
Warga khawatir akan terjadi kontak tembak sewaktu-waktu.
“Semenjak dua TNI
ditemukan tewas dan saat mereka melakukan penyisiran ke hutan, kami tidak lagi
pergi ke kebun karena khawatir akan terjadi hal yang tidak diinginkan,” ujar
Keuchik Alue Papeun, Syawaluddin.
Hal itu dibenarkan
Kamariah, seorang janda yang menemui Pangdam sembari mengatakan bahwa dia
sangat khawatir akan terjadi kontak tembak. Kamariah juga berharap keadaan
kembali normal agar warga dapat kembali pergi ke kebun.







0 komentar:
Posting Komentar