Indonesia tidak hanya dikenal dengan tanahnya yang subur akan tetapi
indonesia memiliki kekayaan Tradisi dan budaya yang luar biasa unik dan
beraneka ragam. Salah satu tradisi yang belakangan ini hangat
diperbicangkan terdapat di Provinsi Aceh.
Tradisi warisan nenek
moyang itu disebut makmeugang atau meugang, yaitu pergi ke pasar untuk
membeli daging, kemudian dimasak dan dimakan bersama keluarga. Tradisi
tersebut digelar untuk menyambut Hari raya Idul Fitri, Hari raya Idul
Adha, dan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
Tradisi
makmeugang tergolong sangat unik dan langka, karena tradisi ini tidak
ditemukan di daerah lain di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. sehingga
timbul berbagai tanda tanya dan kontrofersi dari kalangan tertentu di
luar Aceh tentang asal usul makmeugang tersebut. semisal ada banyak
orang di luar sana yang berasumsi jelek terhadap tradisimakmeugang, Ada
juga yang menganggap tradisi makmeugang itu ide gila. Bahkan ada yang
mengklaim orang Aceh jarang makan daging, Benarkah? Mari kita telusuri
Asal usulnya.
Sejarah Makmeugang
Dari
berbagai sumber sejarah, disebutkan bahwa Makmeugang pertama kali
muncul pada abad ke 14 masehi yaitu seiring pengembangan ajaran islam di
Aceh, namun tradisi tersebut diperkirakan tidak meluas ke seluruh Aceh,
kemudian pada abad ke-16 Masehi, Yakni pada masa kejayaan Sultan
Iskandar Muda memimpin Kerajaan Aceh Darussalam (tahun 1607 M).
ide makmeugang itu dicetuskan oleh Sultan iskandar muda agar supaya
digelar secara merata oleh seluruh masyarakat Aceh.
Saat itu
Istilah makmeugang dicantumkan dalam Qanun Meukuta Alam, yakni
Undang-Undang yang berlaku pada masa Kejayaan Kerajaan Aceh Darussalam
di bawah Pemerintahan Sultan Iskandar Muda.
Pada hari makmeugang, Sultan dan pembesar kerajaan selalu memotong hewan dalam jumlah banyak, kemudian dagingnya dibagi-bagikan secara gratis kepada rakyat, sebagai sedekah dan bentuk rasa syukur atas kemakmuran kerajaan sekaligus wujud terima kasih untuk rakyatnya dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan dengan hati gembira bersama sang Raja dan Pembesar kerajaan.
Pada hari makmeugang, Sultan dan pembesar kerajaan selalu memotong hewan dalam jumlah banyak, kemudian dagingnya dibagi-bagikan secara gratis kepada rakyat, sebagai sedekah dan bentuk rasa syukur atas kemakmuran kerajaan sekaligus wujud terima kasih untuk rakyatnya dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan dengan hati gembira bersama sang Raja dan Pembesar kerajaan.
Keberhasilan
Sultan Iskandar muda dalam menerapkan sistem politik pemerintahan,
kemasyarakatan, ekonomi,maupun sosial serta perannya dalam segala hal
termasuk dalam dunia internasional tak luput dari dasar pondasi Tradisi
dan budaya serta Agama yang kuat dan tangguh yang menjadi acuan dan
rujukan. Ketangguhan pemerintahannya saat itu dilatar belakangi
kemampuannya membangun suatu kultur dan struktur tatanan masyarakat Aceh
menjadi salah satu segmen peradaban manusia (Civilization of human
right). Yang tersimpul dalam nilai-nilai filosofi Narit maja (Hadih
madja). Narit maja inilah yang menjadi pijakan kreasi tradisi dan budaya
yang dikenal dengan motto : Adat ngon hukom (hukum Agama), Lagei zat
ngon sifeut. Yang stuktur implimentasinya disimpulkan dalam “Adat bak
poe teumeuruhom, Hukom bak syiah kuala, Kanun bak putroe phang, Reusam
bak laksamana”. yang kemudian dijadikan sebagai way of life (landasan
filosofis).
Selanjutnya Pada tanggal 27-12-1636 Masehi, Sultan
Iskandar muda Yang dikenal gagah,adil dan bijaksana meninggal dunia,
Kerajaan dipimpin oleh Raja setelahnya, tak lama kemudian Aceh dijajah
oleh Belanda, sehingga kerajaan menjadi bangkrut. Lalu rakyatlah yang
berpartisipasi memotong sapi atau kerbau pada hari makmeugang. Tradisi
makmeugang tetap dipertahankan oleh masyarakat Aceh ketika peperangan
hingga sekarang,meskipun kemajuan zaman sudah begitu canggih. “Bahkan
walau berada di belahan negara manapun, orang yang berdarah Aceh Asli
pasti akan melaksanakan tradisimakmeugag tersebut.
Manfaat Makmeugang
Selain
tradisi makmeugang, di Aceh juga banyak tradisi-tradisi daging lainnya
yaitu kenduri laut, kenduri blang, kenduri pesta
perkawinan,peusijuek,peu troen aneuk dan lain-lain, yang tentunya sangat
bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama anak yatim dan
fakir miskin. Bicara soal kemiskinan tak hanya di alami oleh masyarakat
Aceh, dan Tak dapat dipungkiri bahwa Hampir di setiap negara di seluruh
dunia tentunya terdapat masyarakat miskin, malah di negara tertentu
terdapat masyarakat miskin yang mengindap penyakit akibat kekurangan
gizi. dan hal tersebut diharapkan tidak pernah menimpa masyarakat
miskin di Aceh.
Pada hari makmeugang,jika ada warga miskin yang
tidak sanggup membeli daging, biasanya daging akan diberikan oleh
tetangga atau orang kaya. Bahkan pemerintah dan pejabat militer di Aceh
akan berpartisipasi dalam membagi-bagikan Daging gratis sekaligus
menyantuni anak yatim dan fakir miskin pada hari makmeugang tersebut.
Faidah
lain yang terkandung dalam pelaksanaan tradisi makmeugang yaitu
terjadinya interaksi sosial antara Pemerintah dan masyarakat saat
membagikan daging untuk warga miskin, Selain itu, terjadinya
silaturrahmi dan kebersamaan sesama warga atau anggota keluarga. Karena
biasanya warga yang merantau ke luar kota, akan pulang kampung untuk
menikmati daging makmeugang bersama keluarga, sehingga terjadilah
silaturrahmi.
Pada hari itu juga mendorong tumbuhnya ekonomi
rakyat, karena pada hari makmeugang akan terjadi transaksi jual beli
dalam jumlah besar. Selain jual beli daging, berbagai kebutuhan dapur
laku keras pada hari itu.
Memiliki Nilai Religius
Tradisi makmeugang
di Aceh senarnya memiliki nilai religius, hal ini
dikarenakan makmeugang selalu digelar pada waktu-waktu yang dianggap
suci bagi umat Islam,misalnya seperti menyambut bulan suci ramadan,
dimana masyarakat Aceh akan mencurahkan segala kegembiraannya dalam
menyambut bulan suci ramadan dengan menggelar makmeugang.
Tentusaja nenek moyang orang Aceh terdahulu berpedoman pada Hadis Nabi Muhammad saw berikut ini :
“Barangsiapa merasa gembira dengan datangnya bulan Ramadan, Maka Allah mengharamkan badan orang itu masuk neraka”.
“Barangsiapa merasa gembira dengan datangnya bulan Ramadan, Maka Allah mengharamkan badan orang itu masuk neraka”.
Tradisi
makmeugang juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang telah
memberi rezeki,sehingga para dermawan akan membagi-bagikannya untuk
fakir miskin pada hari makmeugang.
Ketika Wali kota Lhokseumawe
Pak Suhaidi Yahya mengguncang dunia Maya dengan larangan Wanita duduk
ngangkang di atas sepeda motor, pada suatu diskusi disalah satu Radio di
kota lhokseumawe, beliau mengungkapkan sebagai berikut “Setiap suku
bangsa diseluruh dunia memiliki tradisi dan budaya yang berbeda,, ketika
tradisi dan budaya suatu bangsa hilang, maka hilanglah jati diri bangsa
tersebut.
Dari sedikit uraian diatas Setidaknya dapat kita pahami bahwa bangsa indonesia, khususnya masyarakat Aceh perlu mempertahankan tradisi dan budaya yang ada. Mengigat tradisi dan budaya merupakan bagian dari kekayaan negara (heritange). yang tentunya tidak dimiliki kesamaannya oleh negara lain.
Dari sedikit uraian diatas Setidaknya dapat kita pahami bahwa bangsa indonesia, khususnya masyarakat Aceh perlu mempertahankan tradisi dan budaya yang ada. Mengigat tradisi dan budaya merupakan bagian dari kekayaan negara (heritange). yang tentunya tidak dimiliki kesamaannya oleh negara lain.
Oleh karenanya “Mari
sama-sama kita memperkenalkan asal usul tradisi dan budaya pada generasi
kita, sehingga nantinya anak cucu kita tetap menghargai dan memelihara
tradisi-tradisi dan budaya yang ada di tanah air yang kita cintai ini. Wallahu’alam bi al-shawab.
Selamat Menyambut Hari Raya idul fittri 1436 H. Mohon maaf lahir batin.







0 komentar:
Posting Komentar