Daerah Aceh terkenal kaya alamnya yang indah membuat sebagian besar orang untuk menciptakan kreasi akan seni dan budaya.
Ratusan tahun yang lalu terciptalah seni dan budaya Aceh yang telah
berkembang berupa syair-syair dan diturunkan ke anak cucu. Saat
penjajahan Belanda datang ke Bumi Aceh maka sebagian besar nahkah-nahkah
kuno dari bangsa Aceh yang dirampas dan dibakar oleh Belanda. Sebagian
lagi tersimpan di museum negeri Belanda.
Ada juga lagu-lagu dan seni budaya yang lahir pasca Indonesia merdeka
dan kebanyakan pengarangnya dikatakan anonin (tidak punya nama). Ketika
Riset mencari data-data lagu dan kesenian Aceh maka sebagian besar
dikatakan anonin walaupun ada pengarangnya.
Seperti lagu bungong Jeumpa, lagu bungong Seulanga, tari Ranuop
Lampuan yang indah bila Kita dengar dan dipertontonkan.Sedikit sekali
data yang tersimpan di museum Aceh dan beberapa perpustakaan lainnya.
Apalagi gempa dan tsunami Aceh pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu
turut andil besar melenyapkan data-data yang tersimpan.
Ada juga seniman Aceh yang telah menyusun suatu buku yang terangkum
dalam Ensiklopedi, akan tetapi data lagu dan lainnya kurang lengkap.
Ketika memawancarinya salah satu pelaku seni Lk.Ara di Taman Budaya
Banda Aceh, hari Selasa, 27 Januari 2014. Terkait lagu-lagu Aceh seperti
Bungong Jeumpa bahwa,”Pencipta lagu bungong Jeumpa adalah anonin/tidak
ada pengarangnya,” ujar LK.Ara.
Hasil riset menunjukan sebenarnya ada pengarang asli dari Bungong
Jeumpa walaupun riset tersebut belum selesai semuanya, jadi belum bisa
dipublikasi. Kedepan diharapkan para pelaku seni budaya agar menulis apa
saja yang mereka ketahui selama hayat masih dikandung badan.
Penulis:
RACHMAD YULIADI NASIR, Jurnalis Independent. Mesjid Deah Bitay Aceh
Turkiye Jl.Teungku Di Bitay No.1 Bitay Jaya Baru Banda Aceh 23235. SMS:
088260020123







0 komentar:
Posting Komentar